GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TEMBAKAN WIKA



“Opung,” sapa Wika ketika siang ini dia melihat mamanya pak Gultom sedang bersama anak-anak sepulang sekolah. Tadi pagi memang opung minta mereka menemaninya untuk mencari daster yang dari bahan kaos. Bukan daster sih, tepatnya baju tidur yang dari bahan kaos, tangan panjang dan celana panjang untuk dia tidur di rumah sakit. Biar lebih nyaman. Opung sudah izin pada Sondang anak-anak hari ini pulang sekolah tidak ikut mobil jemputan dan anak-anak setuju menemani opung mereka.


“Aduh Opung lupa, siapa ya namanya?” jawab mama Gultom.


“Saya Wika, Opung. Kita beberapa kali bertemu di acara family gathering perusahaan. Waktu itu masih ada pak Gultom dan sekarang tentu bersama Bu Sondang,” ucap Wika mengingatkan opung siapa jati dirinya.


“Oh iya. Iya. Opung ingat. Tapi cuma lupa nama saja,” kata opung manggut-manggut.


“Opung sudah selesai belanja?” sapa Wika ramah.


“Sudah. Opung cuma cari baju tidur yang dari bahan kaos tangan panjang tapi juga celana panjang, buat tidur selama di rumah sakit,” jawab opung.


“Oh iya. Pak Gultom masih sakit ya Opung. Kemarin saya ke sana Opung sudah pulang. Katanya Opung kalau siang pulang?” tanya Wika.


“Iya. Saya pulang,” jawab opung.


“Kita minum dulu yuk, itu di depan ada gerai gellato. Banyak jenis ice cream di sana. Ada makanan juga,” Wika mengajak opung dan cucu-cucunya ke kedai ice cream.


Tentu saja anak-anak suka diajak ke tempat seperti itu.


“Opung mau kan? Kalau laper juga di sana ada makanan koq selain ice cream. Ada spaghetti, ada pizza, ada aneka pasta lain. Banyak kok macamnya. Ayo Opung kita ke sana,” ajak Wika menggandeng mertua bu Sondang itu.


Oleh Wika anak-anak dibiarkan memesan apa campuran es krim yang mereka suka.


“Opung pesan spaghetti dan lemon tea saja,” kata inang Gultom. Wika memesan lasagna dan es jeruk. Mereka ngobrol tentang panasnya cuaca dan aneka masakan. Saat opung sudah selesai makan opung mendapat telepon.


“Sebentar ya, Opung minggir dulu terima telepon,” pamit inang Gultom.


“Ya Opung nggak apa-apa. Saya masih lama kok,” kata Wika.


“Kalian kalau mau lagi ambil saja. Tapi kalau bisa makan dulu baru tambah ice creamnya,” tawar Wika ramah.


“Kemarin Tante nengok papa kalian. Bagaimana sekarang kondisinya?” tanya Wika.


Tarida dan Theresia berpandangan.


“Oh kalian belum ke sana lagi,” jawab Wika sambil lalu seakan tak minat bicara soal Gultom.


“Kami malah belum pernah ke sana dan tak akan ke sana,” jawab Icha yang lebih kenes walau dia lebih muda usianya.


“Kenapa? Kalian masih bersyukur loh kalian punya papa,” kata Wika dengan senyum manis.


“Enggak. Enggak apa-apa,” jawab Icha.


“Tante waktu masih kecil juga punya papa dan punya kakak yang umurnya beda 7 tahun sama Tante.”


“Tiba-tiba kakak Tante itu sakit demam panas nggak ada yang tahu apa penyebabnya. Dan sejak hari itu semua barangnya tak boleh ada yang disentuh oleh papa kami. Gelasnya, piringnya, bajunya, bahkan dia tak pernah mau duduk di tempat yang sudah papa kami duduki. dia membeli kursi kecil sendiri untuk dia duduk.”


“Kenapa Tante?” kata Tarida tertarik dengan cerita Wika.


“Awalnya nggak ada yang tahu kenapa kakak Tante seperti itu. Waktu itu dia sudah SMP kelas 3 dan Tante masih SD kelas 2.”


“Akhirnya Tante dengar waktu kakak Tante itu memaki-maki papa Tante. Walau masih kecil Tante mengerti, ternyata papa Tante itu punya istri lagi yaitu sekretaris di kantornya dan kakak Tante mengetahui itu. dia sangat marah pada papa Tante.”


“Mama Tante juga sudah tahu. Bahkan sudah 1 tahun mereka menikah dan mama Tante tahu. Tapi mama tidak minta cerai karena mama memikirkan adik Tante yang memang masih kecil. Walaupun mama bekerja, mama berpikir kasihan adik kalau hidupnya susah bersama mama. Jadi mama bertahan papa punya istri lain. Tapi kakak Tante tentu tidak mau berbagi seperti itu dan akhirnya kakak Tante memutuskan membenci papa. Tidak mau disentuh, tidak mau bicara bahkan semua barangnya tak boleh ada yang papa sentuh.”


“Suatu hari kakak Tante sakit panas tinggi. Hasil pemeriksaan dokter dia menderita penyakit yang cukup parah dan hanya donor dari papa yang bisa menyembuhkannya. Tapi kakak Tante tidak mau menerima. Dia bilang dia lebih baik meninggal daripada harus menerima donor sumsum dari papa.”


“Penyesalan papa tak berguna walau berkali-kali dia minta maaf pada kakak. Tetap saja kakak tidak mau berbaikan dengan papa. Bahkan tak mau terima donor dari papa.”


“Papa terluka dan memutuskan bunuh diri. Tapi sebelum meninggal dia memberi wasiat mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk kakak Tante dan jangan diberi tahu padanya bahwa donor sumsum adalah dia.”


“Kakak Tante akhirnya dioperasi tanpa dia tahu bahwa yang mendonorkan adalah almarhum papa.”


“Setelah dia sembuh, satu bulan kemudian mama memberikan surat dari papa buat dokter. Saat itulah kakak menyesal sejadi-jadinya. Setiap hari dia menangis di makam papa dan tak lama kemudian kakak juga ikut meninggal karena dia depresi tidak memaafkan papa sampai papa bunuh diri.”


“Dan karena perbuatan papa, akhirnya Tante dan adik yang kehilangan semuanya. Kehilangan papa, juga kehilangan kakak. Mama juga akhirnya semakin terpuruk. Untungnya sampai sekarang mama masih sehat,” kata Wika sambil meneguk juice jeruk miliknya. Dia lihat Tarida dan Theresia seperti terguncang mendengar kisahnya.