
“Kamu mau ngapain Mbak ke sini?” tanya Ghaylan pada Gathbiyya yang jam istirahat datang ke kelasnya.
“Nggak ngapa-ngapain, memang aku nggak boleh lihat kelas adikku sendiri?” tanya gadis berusia delapan tahun itu sambil melihat berkeliling. Gathbiyya memperhatikan kelas tiga tempat Ghaylan belajar.
“Aneh saja, kamu kan nggak pernah ke sini,” balas sang adik.
“Cuma pengen tau saja kayak apa sih orang yang sudah bisa bully kamu. Mana orangnya dan siapa namanya?” kata Gathbiyya. Kalau sudah seperti ini Ghaylan tak berani menolak. Dia harus menjawab agar Gathbiyya tak tambah marah.
“Itu yang sedang petentengan di depan papan tulis. Khairudin namanya,” jawab Ghaylan.
Gathbiyya langsung mendekati Khairudin
“Aku dengar kamu anak pintar ya, berani membully semua teman sekelasmu! Coba kamu jawab pertanyaanku ini,” kata Gathbiyya sambil dia menuliskan tugas matematika untuk level kelas Ghaylan.
“Aku kasih kamu waktu sepuluh menit dari sekarang. Karena sebenarnya tiga menit saja ini bisa aku selesaikan,” kata Gathbiyya. Beberapa teman yang ada di dalam kelas saat itu tentu saja melihat dan mendengar semua dan mereka pun akhirnya mendekat ke depan kelas.
“Cemen kalau kamu nggak berani terima tantangan anak perempuan kecil itu,” kata seorang siswa di kelas itu.
“Eh dia perempuan dan kembarannya Ghaylan, tapi dia sudah kelas 5 lho,” jelas siswa lainnya.
“Yang penting mereka seumur dengan kita kan?”
“Nggak seumur juga sih. Dia lebih muda dari kita,” kata yang lain.
“Sudah tahu kalau aku lebih kecil dari kalian, siapa yang bisa pecahin ini? Masa kalah sama anak kecil. Ini materi buat kelas kalian bukan buat kelas aku,” kata Gathbiyya sombong. Dia pun duduk di kursi menunggu siapa yang bisa menyelesaikan soal itu.
“Khairudin, kamu bilang ayahku itu cuma apa pesuruh kan? Masa kamu nggak bisa selesaikan soal dari anak pesuruh seperti aku?” kata Gathbiyya sinis,
“Pesuruh kok pakai mobil sport,” kata yang sering melihat Adit menggunakan mobil sport.
“Namanya pesuruh kan cuma sopir. Bisa saja dia bawa mobil nyonyanya kan?” balas Gathbiyya.
“Ayahku pesuruh, tetapi kami bahagia, karena ayahku adalah imam di keluarga. Kami salat bareng, makan bareng dan semua pasti mendengar nasehat ayah saat kami akan tidur. Kalau yang nggak punya ayah nggak usah ngiri dan ngatain ayah kami pesuruh. Kalian siapa yang berani ngatain ayah aku hadapin aku dulu,” kata Gathbiyya sambil berjalan ke arah pintu keluar ruangan. Tetapi saat di pintu dia balik badan.
“Oh ya selamat ya kalian ternyata nggak ada yang sepintar Ghaylan. Coba Ghaylan kerjain soal itu,” pinta Gathbiyya.
Ghaylan pun mengerjakan soal itu dengan tenang. Lima menit dia bisa menyudahi hitungan yang belum diberikan materinya oleh guru kelas mereka.
“Tentu saja Ghaylan bisa, kamu kan sudah kasih tahu tadi di rumah,” ejek yang lain.
“Mana mungkin aku kasih tahu Ghaylan di rumah. Soal itu aku contek dari lembar pekerjaan yang akan diberikan oleh guru kamu sebentar lagi kok,” kata Gathbiyya. Sekarang dia benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.
Teman-teman Ghaylan tak percaya kalau soal tersebut memang diambil dari Mr Johan yang akan mengajar mereka sehabis ini.
Khairudin hanya diam, dia tak percaya kakak kembar dari Ghaylan sangat pintar seperti itu dan kata-kata menohok tadi sungguh sangat menyakitkan dirinya. Karena seperti yang Gathbiyya bilang dia tidak punya Papa.
Papanya muda ganteng hebat di kantor tapi sama sekali tak mengenal dirinya! Bahkan bicara pun bisa dihitung dalam satu bulan berapa kali. Itu yang membuat Khairudin ingin membully teman-temannya yang punya papa karena dia tidak punya sosok itu di dalam rumah.