
“Selamat datang anak Ayah. Kalian selalu sehat ya. Jangan buat bunda kita jadi sedih karena memikirkan kesehatan kalian. Dia bunda kita, bunda kita semua. Bukan cuma bunda kalian dia. Bundanya Ayah, bundanya Mas Fari, bundanya Abang Iban, bundanya Kakak Aidan.”
“Sehat selalu ya anak Ayah,” kata Adit sambil mengusap-usap kepala ketiga putra dan putrinya secara bergantian. Adit pun tidur di ranjang tersebut. Dia yang akan menjaga anak-anak sampai pagi menjelang. Adit sudah bertekad akan membiarkan Dinda tidur semalaman.
Dan Adit akan melakukannya tiap malam. Dia ingin menunjukkan cintanya buat Dinda juga tanggung jawabnya sebagai ayah pada semua buah hatinya. Adit sadar, tanggung jawab seorang ayah bukan hanya cari nafkah buat keluarga, tapi juga menyayangi dan menjaga anak-anak adalah tanggung jawab seorang ayah sejati.
ASIP sudah tersedia dan Adit sudah hafal cara memanaskan ASI pengganti itu. Menggantikan diapers pun Adit mahir sejak ada Bram dulu. Jadi lebih baik dia yang tidur bersama babies.
Benar saja sepanjang malam Dinda tak terbangun. Mungkin karena terlalu lelah. Adit membiarkannya istirahat tanpa diganggu sama sekali. Dia yang mengganti diapers ketiganya secara bergantian, dia pula yang memberikan ASIP. Hanya satu kali anak-anaknya bangun untuk minum ASIP dan Adit memberikannya satu persatu.
Dinda terbangun saat sudah subuh, dia melihat suaminya sedang salat.
“Astagfirullah, kok aku bisa bangun hari gini? Aku sama sekali enggak ngurus ketiga bayiku,” kata Dinda sambil segera terlompat. Dinda segera duduk padahal itu tidak boleh. Bangun langsung kaget duduk itu tidak baik buat kesehatan.
Dinda duduk di tepi ranjang, dia langsung minum air putih yang ada di nakas, lalu ke kamar mandi.
“Aduh maafin Bunda ya. Semalaman Bunda enggak urusin kalian. Pasti kalian diurusin ayah kan?” kata Dinda bicara pada ketiga bayinya karena dia lihat ada empat botol susu bekas yang tergeletak di sana. Juga ada bekas diapers di keranjang sampah.
“Kok botol susunya empat ya? Siapa yang minumnya lebih nih?” kata Dinda melihat ada empat botol kotor. Seharusnya kalau dua kali minum 6 bukan 4. Dinda yakin ada satu bayi yang minum dua kali.
Dinda langsung menggantikan diapers mereka. Dia juga membasuh tubuh bayi-bayi itu dan menggantikan pakaian baru dia berikan ASI secara bergantian.
“Loh Bun, sudah bangun?” tanya Adit. Dia kecup puncak kepal Dinda yang sedang menyusui Ghaylan.
“Sudah sejak Ayah salat tadi. Mereka sudah dibasuh badannya, tinggal lihat Gathbiyya yang belum minum ASI langsung.”
“Ayah ambilin sarapan dulu ya. Kamu diam di sini,” jawab Adit.
“Please, kamu satu minggu ini enggak banyak gerak ya. Kamu baru melahirkan. Kamu ingin memberi perhatian pada anak-anak tapi jangan di forsir. Ingat jangan lupa kesehatan tubuhmu. Kamu boleh sapa anak-anak tapi enggak ngurus anak-anak. Nanti setelah seminggu kamu boleh urus mereka lagi,” jelas Adit dengan penuh pengertian. Adit sangat tahu bagaimana istrinya tak mau digantikan oleh siapapun mengurus anak-anak mereka.
“Baiklah,” kata Dinda menurut.
“Tapi jangan lupa sarapan papa lihat apa yang papa konsumsi. Lihat apa para mbok memperhatikan dan mengerjakan semua yang aku tugaskan,” pinta Dinda.
“Kamu enggak pikirin itu ya. Mas sudah wanti-wanti mbok agar memperhatikan semua urusan papa seperti yang selalu kamu lakukan. Jadi makanan dan minumannya itu sesuai dengan yang selalu kamu anjurkan kok,” ujar Adit.
‘Sesibuk dan sejauh apa pun kamu dari papa, kamu selalu memikirkan dia yang bukan ayah kandungmu Yank.’
“Aku enggak mau papa sampai sakit Mas. Aku ingin papa panjang umur untuk menemani kita membina anak-anak,” ucap Dinda tulus. Dari 4 orang tua mereka, memang hanya Eddy yang masih ada. Wajar kalau Dinda semakin tak ingin Eddy sakit.
“Mas ngerti Sayank, Mas ngerti. Makanya Mas pesankan sama mbok harus memperhatikan asupan yang papa makan.”
“Ya sudah Mas ke dapur dulu ya. Mas juga akan bilang kepada si mbok buat siap-siap ngurusin anak-anak.”
“Iya Mas, maaf ya kalau ngerepotin,” balas Dinda.
“Jangan pernah bilang maaf dan jangan bilang pernah ngerepotin. Karena enggak ada yang ngerepotin. Mas yang selalu ngerepotin kamu dengan membuat kamu hamil. Itu lebih berat daripada yang sekarang Mas lakukan. Please jangan pernah minta maaf lagi ya,” Kata Adit memeluk erat istrinya yang saat ini sedang memberi ASI Gathbiyya.
“Ya Mas.”