GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERITA DUKA



Dua hari sebelum acara aqiqahan, fotografer yang disewa oleh panitia sudah mulai bekerja. Mereka membuat banyak foto personal keenam anak pasangan Dinda ~ Adit.


Fotografer juga membuat foto mereka berenam dalam segala pose.  foto mereka bersama Adit dan Dinda juga foto keenam anak bersama dengan Adit, Dinda, dan Eddy.


Foto-foto itu akan dibuat menjadi pelengkap acara aqiqah itu akan dibuat foto ukuran sangat besar nanti akan dipajang di kamar mereka masing-masing sehabis acara aqiqah


“Bun lihat deh berita ini,” cetus Adit tanpa wajahnya berpaling dari ponsel.


“Ada apa Yah?”


“Ini di grup SMA Ayah ada kabar duka,” Adit menyerahkan ponselnya pada Dinda.


“Siapa?” tanya Dinda mendekat melihat ponsel milik suaminya.


“Innalillahi,” kata Dinda melihat di grup sekolah Adit ada berita duka tentang meninggalnya putri dari Meliana.


Rupanya gadis kecil tersebut tak kuat bertahan.


“Ayah mau ikut datang ke pemakamannya?” tanya Dinda. Biar bagaimana pun dia tak mau mengekang suaminya.


“Bagaimana mau datang? Besok kita banyak tamu. Sekarang sudah satu hari sebelum aqiqah lho Bun,” jawab Adit.


“Biarkan aja lah nanti malah bikin heboh kalau Ayah datang ke sana.”


“Yang pasti Bunda ingatkan, Bunda enggak pernah larang Ayah untuk datang. Jangan sampai terdengar kata-kata atau tulisan bahwa Bunda melarang Ayah datang ke sana,” tegas Dinda.


“Iya Ayah tahu.”


Adit pun mengirimkan ucapan berduka cita dan dia mohon maaf tak bisa ikut hadir di rumah duka maupun pemakaman, karena dia sendiri sedang ada acara di rumahnya. Adit mengirimkan video pemasangan tenda di depan rumahnya.


Panitia datang pagi sekali sekalian sarapan bersama full team. Pagi ini adalah acara pertama untuk pengajian anak-anak panti asuhan dan juga sekalian mereka makan siang serta pemberian santunan. Acara akan dimulai pukuo 10.00.


Alhamdulillah semuanya lancar panitia bekerja dengan sangat baik.


Dinda segera meng-unggah acara tersebut dan dia tag ke akunnya Adit. ‘Acara aqiqah putra-putri kami,’ begitu Dinda tulis di media sosialnya.


Beberapa temannya Adit segera tahu Adit tak bisa datang ke pemakamannya anak Meliana bukan karena dia menghindar tapi karena dia memang sedang mengadakan aqiqah putra-putrinya. Banyak yang berpikir negatif kalau Adit menghindar walau semalam sudah mengucap bela sungkawa dan bilang tak bisa hadir dengan memberi video pemasangan tenda. Bisa saja kan itu video lama?


Tentu saja bisik-bisik itu tambah melukai hati Meliana yang kehilangan bayinya. tapi siapa suruh dia berupaya menggugurkan? Itulah resiko kegagalan aborsi.


Walau di rumah duka tetap saja mulut-mulut tak terkunci. Tak ada yang membenarkan tindakan Meliana mencoba menggugurkan secara mandiri tidak secara medis.


‘Adit pas benar ada acara aqiqah ya,” kata beberapa teman yang melihat akunnya Adit.


“Walau dia marah pasti dia datang kalau dia tak berhalangan seperti itu. Memang benaran dia halangan. Karena mengadakan aqiqah enggak mungkin kan dia lari ke sini sedangkan dia adalah tuan rumah,” jawab teman lainnya.


“Iyalah, Adit itu orangnya sangat sosial kok. Walau semua kesalahan itu ada di Meliana tapi Adit pasti datang kalau tak berhalangan,” kata beberapa temannya yang lain.


Saat itu juga ada Angelica.


“Aku tahu Adit dan istrinya pasti akan datang bila tak berhalangan.” Angel memberi kesaksian.


“Karena kamu teman tidurnya, jadi kamu membela dia,” seorang teman menyindir Angel.


“Teman tidur masa SMA sudah lama berlalu. Istrinya juga tahu semua masalah itu. Aku pernah berkasus dengan istrinya. Istrinya Adit itu pemilik saham perusahaan tempat Adit kerja. Walaupun awalnya perusahaan itu milik bapaknya Adit.”


“Jadi aku tahu banget. Dari kasus yang aku alami aku tahu karakternya Adinda. Jangan pernah menyubitnya kalau kamu enggak ingin ditampar olehnya.”


“Itu yang dirasakan oleh Meliana. Dia berupaya menyakiti hati anak-anak Adit, sehingga dia mendapat perlakuan berkali-kali lipat dari yang dia lakukan kepada anak-anak Adit.”


“Meliana kok menyakiti anak Adit? Apa urusannya?”


“Buat Adinda, Adit pergi dari sisinya itu enggak problem. Dia bisa dapat 1000 orang lelaki lebih bagus dari Adit. Tapi buat anak-anaknya, Adit adalah segalanya. Kalau Adit sampai selingkuh yang akan kehilangan itu anak-anaknya. Bukan Dinda.”


“Itu yang Adinda pertahankan. Tak boleh ada seorang pun yang merebut perhatian Adit dari anak-anaknya. Jadi yang Adinda lakukan hanya demi anak-anaknya.”


“Aku juga pernah dengar kok Adinda pergi dari Adit ketika ada seorang perempuan menggoda Adit. Buat Adinda, Adit itu enggak ada apa-apanya. Adinda bertahan karena hanya untuk anak-anaknya. Kalau kalian menyakiti dia kalian akan tahu bagaimana tindakan balasannya.”


“Lihat aja Meliana, hancur sampai tak punya apa pun termasuk harga diri.”