GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KESET YANG DIBUANG MAJIKANNYA



‘Cantik,’ kata Santi dalam hatinya. Dia memperhatikan perempuan yang masuk menuju mejanya. Pakaiannya modis. dandannya lumayan tebal tapi tidak over. Penampilannya terlihat berkelas. Dari jenis pakaian juga sepatu dan tas yang dia kenakan hari ini.


Santi bisa menilai bahwa perempuan tersebut selalu menjaga penampilannya agar dinilai berkelas tidak seperti dirinya. Dirinya tak pernah memperhatikan soal harga, tapi kenyamanan dan keserasian semua yang dia gunakan. Jadi Santi tak pernah peduli harga. Kalau dia merasa cocok, ya dia kenakaan.


Kadang dia beli yang branded, kadang yang biasa saja. Yang penting semuanya bagus dipadupadankan dan enak dipakai. Terlebih untuk pakaian kerja.


Saat ini Santi memakai kebaya brokat modern tangan pendek dipadu padankan dengan celana kain berwarna senada. Tapi tentu saja menggunakan pinggang karet karena tak mau menekan calon bayi dalam perutnya. Santi memang sudah menggunakan celana khusus buat ibu hamil walau perutnya belum kelihatan besar.


Santi sengaja berdiri lebih dahulu untuk menyambut tamunya.


“Halo,” sapa perempuan itu dengan ramah dan senyum manis.


Santi langsung mengulurkan tangan kanannya, Ajat masih duduk. Dia malas menyambut tamunya. Santi langsung menggamit pundak suaminya untuk berdiri. Ajat berdiri dan tidak mengulurkan tangan.


“Santi,” kata Santi saat mereka bersalaman.


“Wiwik,” kata perempuan tersebut.


“Silakan duduk,” kata Ajat tanpa bersalaman.


“Ada perlu apa kamu panggil saya ke sini?” kata Wiwik  pada Ajat dengan suara yang sedikit meninggi. Terdengar penuh percaya diri dan sombong.


“Saya tidak manggil Anda. Saya mengundang! Kalau saya memanggil, Anda wajib datang. Kalau mengundang Anda bisa datang bisa tidak tergantung keinginan Anda,” kata Santi dengan diplomatis. Wiwik kaget yang menjawab bukan Ajat tapi istri barunya.


Santi langsung mengangkat telapak tangan kirinya sampai di atas kepala. Tentu saja hanya dia dan Ajat yang mengerti.


Ajat sudah mengatur waktu dengan mama dan papanya juga dengan Bibi Marini dan Paman Rustam yaitu sepupunya Wiwik.


Saat itu datanglah Marini dan Rustam dari arah kanan dan dari arah kiri datang mama dan papanya Ajat. Tentu saja Wiwik kaget melihat ada dua pasang orang tua itu datang.  Marini dan Rustam memang sepupunya Wiwik tapi lebih tua sehingga dia sedikit agak hormat terhadap sepupunya tersebut. Perbedaan usia Wiwik dan Marini 8 tahun sedang Rustam suaminya lebih tua 5 tahun dari Marini.


“Kenapa kamu undang mereka?” tanya Wiwik geram.


“Saya ingin kita bicara apa adanya. Sehingga harus ada saksi. Saya tidak mau nanti Anda cuap-cuap keluar bahwa saya mengintimidasi Anda. Saya orang yang punya otak tidak seperti Anda ketika kehabisan harta, Anda ingin mengambil anak yang saat usia 10 bulan sudah Anda tinggal,” kata Santi tajam. Tentu saja Ajat kaget mendengar perkataan Santi itu.


“Rupanya istrimu ini pintar banget Jat,” kata Marini.


“Dia tahu ada perempuan kere yang ingin memanfaatkan bayi yang dia buang untuk mengeruk hartamu. Kalau anak itu ada di tanganmu, tentu tiap saat dia akan minta uang dengan alasan keperluan Farouq karena sekarang dia sudah kere dibuang oleh majikannya.  Dia sudah ketahuan oleh istri tua sang majikan,” kata Marini lagi.


Tentu saja Wiwik tak bisa berkelit karena memang sahabatnya Ajat sudah ketahuan oleh istrinya punya selingkuhan.


“Oh rupanya sudah dibuang sama temanmu itu Jat,” kata mamanya.


“Aku malah nggak tahu Ma, namanya cuma selingkuhan kan bisa dibuang kapan aja. Dia kan sama dengan keset. Diperlukan kalau lagi ingin bersih-bersih kalau kaki sudah bersih ya dibuang lah kesetnya,” kata Ajat.


“Oke kita balik ke persoalan pokok. Anda mau ambil Farouq silakan. Tapi kita bertemu di pengadilan karena jelas-jelas Anda meninggalkan bayi itu saat berusia 10 bulan tanpa kata apa pun. Tanpa meninggalkan pesan apa pun. Bayi itu sudah saya adopsi sebelum saya menikah dengan Ajat. Jadi kita bertemu di pengadilan,” kata Santi dengan tegas.


“Kalau Anda mau bertanya silakan tanya pada mertua saya apa betul saya mengadopsi dua anak Ajat sebelum saya menikahi pria ini. Pria yang tidak mau mengurus anak-anaknya karena anak-anak itu dia anggap anak-anak pembawa sial. Silakan tanya pada mertua saya apa benar yang saya kemukakan karena saya yang mengangkat mereka dari keterpurukan.”


“Anak-anak yang tak punya ibu dan dibenci oleh ayah kandungnya sendiri. Jadi aneh saja kalau ada yang akan memeras Ajat untuk membiayai anak-anak pembawa sial itu. Karena buat Ajat dua anak itu juga tak ada artinya. Sama tak berartinya mereka buat ibu kandungnya.”


Tentu saja Ajat tak marah karena memang itu faktanya. Marini dan Rustam kaget. Dia juga baru tahu ternyata Ajat membenci kedua anaknya dan kedua anak itu sudah diadopsi Santi.