GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
RUNTUHNYA DUNIA ADIT



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Adit langsung masuk ke kamarnya untuk mandi saat itulah dia melihat bon pembayaran makan juga uang kembalian ada di mejanya



Adit segera berlari mengambil uang itu dan menuju belakang rumah untuk bertanya siapa yang meletakkan uang di meja kamarnya.



“Saya enggak tahu. Saya kan tadi sekolah sama Bu Dinda dan anak-anak,” kata bu Asih sambil mengawasi si kembar bermain sepeda roda tiga.



“Saya bagian masak hari ini. Saya tak pegang cucian. Jadi saya enggak tahu,” jawab Bu Marni.



Tinggal bu Siti yang belum Adit tanya. Bu Siti sedang memisah-misah baju yang sudah di setrika di belakang.



“Oh itu. Saya tadi kasih ke Bu Dinda karena waktu mau nyuci ada uang dan kertas di saku celananya Mas Adit,” Kata Bu Siti.



“Apa ada yang kurang? Saya enggak ngambil kok,” Kata Bu Siti lagi.



“Enggak, enggak kurang,” jawab Adit.



“Saya kan tadi cuma tanya siapa yang taruh di meja kamar?” Kata Adit. benar-benar Adit merasa dipukul kepalanya dengan palu yang sangat besar. Adit merasa runtuh dunianya mengetahui bahwa yang meletakkan uang dan bon pembayaran adalah Dinda. Karena Bu Siti menyerahkan uang dan bon pembayaran itu pada Dinda.



Adit sudah tak bisa berpikir normal, dia yakin Dinda melihat bahwa yang dimakan adalah bukan menu satu orang. Pasti Dinda curiga karena di situ jelas tertulis banyak menu yang dia bayar. Bukan jumlah uangnya, tapi tak mungkin makanan sebanyak itu dimakan oleh Adit seorang diri. Itu yang akan Dinda pikir. Sekali lagi, bukan jumlah uang karena uang bukan masalah buat mereka.



Adit segera masuk kamarnya kembali, dia mandi dan bersiap sholat. Adit benar-benar sudah putus asa menghadapi kenyataan ini, menghadapi bahwa dia memang harus benar-benar terpisah dengan Dinda karena kesalahan yang tak sengaja dia buat.



Sudah dua perumahan yang Dinda cari di dekat sekolah anak-anak. sekarang dia duduk bengong di dalam mobil Dinda melihat brosur rumah dengan tatapan kosong.



“Apa aku harus seperti ini terus? Berlari ketika ada persoalan, berlari ketika ada konflik?”



“Kenapa aku enggak berpikir jernih, kenapa aku enggak cari siapa yang sengaja kirim foto itu dan cari apa motif dia kirim foto itu.”




“Bahkan dulu jelas-jelas aku melihat perselingkuhan dia dengan Shalimah, aku masih bisa bertahan beberapa hari untuk bikin videonya dengan sabar.”



“Saat aku melihat dia dikejar-kejar oleh Merrydian, aku masih berpikir bertahan sampai bertemu Merrydian ingin tahu bagaimana karakter orang tersebut.”



“Mengapa sekarang hanya melihat foto Mas Adit sedang makan malam aku langsung cari rumah? Aku langsung ingin keluar dan pindah dari rumah papa? Mengapa aku selalu mengorbankan anak-anak? Aku sekarang bukan sendirian lagi.” kata Dinda terus saja memandangi brosur rumah ditangaannya.



“Aku tahu aku memang pasti tersakiti dengan bertahan hidup di sisi Mas Adit tanpa ikatan, tapi itu lebih baik daripada anak-anak terluka.”



Lelah dengan pikiran yang tak tahu ujung pangkalnya Dinda menaruh kepalanya di kemudi, dia menangis tersedu-sedu. Dinda memikirkan anak-anak bila harus kembali berpisah dengan ayah mereka karena keegoisan dirinya yang tak mampu menahan emosi.



“Aku harus sampai kapan bertahan demi anak-anak?” tanya Dinda pada dirinya sendiri.



Dinda ingat saat Ghifari panas ketika melihat Adit di sekolahnya dan tak bisa memeluk. Apakah kejadian itu harus terulang lagi karena mereka pisah rumah besok?



Apa dia harus egois seperti itu terus menerus?



“Aku harus putuskan bertahan untuk anak-anak atau bercerai selamanya. Dan tidak akan lagi bertemu sehingga anak-anak sekali terluka, tapi untuk selanjutnya mereka aman.”



“Kalau harus bercerai, maka aku akan pindah negara. Aku akan pergi bawa anak-anak jauh dari Indonesia sehingga tak ada kemungkinan untuk bertemu dengan Mas Adit dalam kurun waktu dekat.”



“Kalau masih dalam wilayah Indonesia pasti mereka akan sering ketemu dan aku tidak mau. Aku harus hidup di luar Indonesia.” Dinda berketetapan akan memikirkan pindah ke luar negeri. Dia akan berpikir usaha apa di luar negeri yang bisa membuatnya bisa bertahan hidup.



Dinda tentu tak akan kehabisan uang karena dia punya toko grosir, tapi semakin bertambah usia anak-anak tentu kebutuhan akan semakin besar.



Dinda berpikir akan belanja di luar negeri dan mengirim barang ke tokonya buat di jual. Tentu barang dari luar akan lebih banyak peminat masyarakat tingkat menengah ke atas.



Dinda akhirnya tenang. Dia akan mengembangkan usahanya. Dia akan tinggal di luar negeri dengan aman karena usahanya akan makin besar.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.