
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Saya tunggu besok jam 06.00 di rest area. Jangan sampai telat,” Adit bicara pada seseorang di ujung telepon saat menunggu makanan yang mereka pesan datang.
“Jam 06.00 pagi Pak?” jawab lawan bicara Adit.
“Iyalah, masa jam 06.00 sore?” jawab Adit.
“Masalahnya yayasan bukanya jam 07.30, kita ke sana jalur padat kemarin saya jam 07.15 sudah sampai sana,” jelas Adit.
“Baik Pak saya akan tunggu di rest area jam 06.00 pagi,” sahut arsitek yang akan menangani proyek di yayasan itu PERMATA HATI BUNDA pimpinan Meliana.
\*\*\*
Pagi ini Dinda melihat Adit dan Bagas sudah ada di yayasan saat dia datang. Tak mungkin Dinda mundur dan tak mungkin berputar karena itu satu-satunya jalan menuju ke dalam area yayasan.
Dinda jelas mengenal Bagas arsitek handalannya kalau ada proyek bagus. Proyek yang menampilkan cita rasa seni dan ketelitian. Dinda ingin menghindar tapi tak mungkin terlebih ketika Ghifari langsung teriak Yayah!
Radit dan Bagas masih diskusi melihat bagan yang akan mereka buat di situ. Adit sudah mendengar seorang anaknya memanggil YAYAH, tapi dia belum tahu siapa itu Ghifari atau Ghibran karena dia memang tidak menengok lalu terdengar suara berikutnya.
“Yayah!”
Adit menengok dengan pelan, terlihat satu anak dipegang oleh Dinda dan Ghifari berlari ke arah Adit. Adit terkesiap melihat putranya lari menghampirinya.
Adit masih berdiri bersama Bagas, Adit melihat wajah Dinda lalu melihat ke arah Ghifari yang berlari ke arahnya. Dinda tak bisa menahan laju Ghifari yang berlari ke arah Adit.
Dinda tak bisa menahannya terlebih sekarang Ghibran juga sudah berontak ingin ikut lari ke arah Adit.
\*‘Ini rupanya alasan pak Adit dan pak Eddy membuat proyek kacangan seperti ini. Rupanya demi bertemu bu Dinda dan anak-anak,’ \*batin Bagas. Semua di PT ALKAVTA tak ada yang tidak tahu perginya bu Dinda karena kasus kurang ajarnya Merrydian.
Adit jongkok dengan lututnya , sebelumnya dia berikan kertas pada Bagas dan mengembangkan tangannya kepada Ghifari.
Ghifari landing dengan safety di pelukan Adit. Dia mendarat dengan selamat, tapi di belakangnya Ghibran menangis. Rupanya Ghibran berhasil berontak dari pegangan tangan Dinda, tapi lalu terjatuh karena berontak dan langsung berlari. Adit segera mengangkat Ghifari dan menghampiri Ghibran.
“Anak Ayah, jagoan Ayah enggak boleh nangis,” bisik Adit ditelinga Ghibran.
Ghibran mengangkat kepalanya dan melihat ayahnya berdiri di depan matanya sedang menggendong Ghifari. Ghibran pun mengulurkan kedua tangannya minta digendong.
Dengan senang hati Adit menggendong Ghibran dan menciumi keduanya dengan penuh kasih. Dia berupaya menahan tetes air jatuh dari kedua matanya.
“Apa kabar Bun?” sapa Adit ketika sudah berdiri dihadapan istrinya.
“Alhamdulillah baik,” jawab Dinda terbata. Dia sudah menetes air mata lebih dulu saat melihat Ghifari berlari memeluk Adit.
”Iya. Mereka sekolah di sini,” jawab Dinda.
“Sekarang kalian sama Bunda dulu ya, Ayah lagi kerja,” kata Adit sambil menyerahkan Ghibran dan Ghifari pada Dinda dan bu Tari yang bersiap mengambil alih si kembar. Tapi kedua jagoan memeluk leher Adit sangat erat dan menyembunyikan wajah mungil mereka diceruk leher Adit.
Ghibran sudah mulai terisak tak mau dilepaskan. Padahal yang lebih perasa sejak lahir adalah Ghifari. Dinda sangat sadar kalau Ghibran sedang terluka bila harus dipisahkan dengan ayahnya. Dinda ingat bagaimana Ghifari demam melihat ayahnya secara real bukan di TV, tanpa bisa memeluknya.
"Oke sebentar sebentar Gas kita ke ketua Yayasan dulu yuk. Nanti kamu ngobrol dengan dia aku antar anak-anak masuk kelasnya," kata Adit
Adit menggendong si kembar dan menghampiri resepsionis yayasan. Hari ini yang bertugas seorang lelaki.
“Assalamu’alaykum, selamat pagi Pak. Apa Ibu Meliana sudah datang?” tanya Adit.
“Wa’alaykum salam. Dengan Bapak siapa dan ada keperluan apa?” tanya resepsionis yang menjaga di meja itu pagi ini.
“Dengan bapak Bagas dari PT ALKAVTA, kami sudah janjian dua hari lalu untuk membahas gedung day care yang akan dibangun,” kata Adit. Bagas dan Dinda mengikuti di belakangnya. Tadi Dinda sudah bersalaman dengan Bagas karena mereka memang kenal sangat erat dalam pekerjaannya.
“Hallo Dit, tumben bawa anak-anak,” tanya Meliana yang melihat Adit datang sambil menggendong anak lelaki kembar.
“Mereka anak-anakku, mereka memang sekolah di sini dan ini istri aku tercinta. Kemarin kamu pengen ketemu dia, pengen tahu siapa perempuan hebat yang menjadi ibu anak-anak aku,” Kata Adit.
Adit memperkenalkan Dinda. Dinda tersenyum dan memberi salam pada ibu ketua yayasan. Tentu Meliana tidak hafal semua wali murid dari anak didik di yayasan ini.
“Kamu enggak bilang dari awal kalau anak-anakmu sekolah di sini,” protes Meliana setelah dia berkenalan dengan Dinda.
“Aku tak mau mereka terganggu, aku juga tidak mau kamu terima order karena anak-anakku sekolah di sini. Kita kemarin melakukan kesepakatan sebelum kamu tahu anak-anakku di sini kan?” kata Adit memberitahu kondisi sebenarnya pada Dinda secara tidak langsung.
“Perkenalkan ini insinyur Bagas. Dia yang akan menangani proyek di sini untuk selanjutnya. Nanti semua akan ditangani beliau. Jadi kamu bicaranya dengan Bagas bukan dengan aku lagi. Kemungkinan besok yang akan tanda tangan proyek istriku karena dia adalah wakil CEO perusahaanku,” jelas Adit.
“Mas,” protes Dinda. Adit hanya menggeleng.
“Dia wakil CEO?” tanya Meliana setengah tak percaya.
“Sesungguhnya dia real CEO. Papaku hanya nama aja sebagai CEO tapi realnya adalah istriku. Dan seluruh saham perusahaan adalah milik si kembar. Karena istriku tak mau atas nama dia,” kata Adit lagi.
Meliana terdiam, dia melihat Dindah memang sangat cantik, keibuan, anggun, pintar apalagi yang kurang dari perempuan seperti itu.
‘*Pantas dia bisa mengendalikan Adit, bisa menjinakkan preman SMA. Terlebih dia pemilik perusahaan tempat Adit bekerja*.’ batin Meliana.
Meliana mengaku kalah sebelum berperang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok