
“Kami akan bantu sebisa mungkin Pak tapi tentu akan sulit dan lama prosesnya mengingat mereka sudah terlalu antipati terhadap sosok lelaki yang ~mohon maaf~ tak bisa memegang kata-katanya.”
“Lelaki itu mengatakan cinta pada anak dan istri tapi punya dua istri lain. Artinya di situ kita bisa ambil dua poin Pak. Pertama Anda tidak mencintai anak dan istri atau kedua Anda menikah dengan istri yang lain tanpa cinta itu dua poin yang harus kami ketahui dulu apa pandangan mereka terhadap Bapak.”
“Dari dua poin tersebut yaitu Anda mencintai istri Anda tapi punya dua istri lainnya berarti di situ Anda berbohong pada anak-anak dan istri Anda yang Anda akui Anda mencintai mereka.”
“Dari poin yang lain bahwa Anda menikah dengan perempuan lain tanpa cinta itu juga adalah kebohongan!”
“Saya tidak bisa memperkirakan apa yang mereka akan rasakan bila mengetahui Anda berbohong dengan mengatakan IBU MEREKA MANDUL. Artinya apa Anda tidak mengakui mereka sebagai anak-anak Anda! Itu hal paling fatal yang harus Anda terima Pak, kalau mereka dengar entah siapa pun yang bicara. Entah sengaja atau tidak sengaja mereka dengar bahwa Anda mengatakan ibu mereka mandul, artinya Anda sudah mengatakan mereka bukan anak-anak Anda. Jadi saya yakin mereka tak akan pernah memaafkan Anda apa pun alasannya. Buat mereka Anda itu NOTHING, sama seperti mereka buat Anda. Mereka buat Anda nothing. Anda yang duluan melakukan aksi, mereka hanya bereaksi!”
“Belum lagi Anda sudah membohongi Tuhan. Anda menerima pernikahan di altar mengatakan akan menerima apa pun kondisi istri Anda baik senang maupun susah. Seharusnya kalau pun istri Anda tidak punya anak Anda tak boleh menikah lagi, selain istri Anda menyetujuinya. Jadi itu pendapat kami saat ini. Untuk selanjutnya Anda bisa datang di termin berikutnya setelah kami bicara dengan anak-anak Anda.”
Gultom keluar dari ruang praktek dokter dengan tubuh yang lunglai. Dia tak percaya kalau dia telah menumpurkan anak-anaknya juga ibu kandungnya. Sungguh dosa besar yang tak terampuni oleh siapa pun. Rasanya Gultom merasa tak pantas lagi hidup. Apalagi mengemis cinta anak-anak dan Sondang, begitu mendengar kata-kata psikolog barusan bahwa dia yang membuang anak-anaknya. Dia yang meniadakan anak-anaknya dengan mengatakan Sondang mandul. Jadi bukan Sondang saja yang terluka dikatakan mandul tapi juga melukai anak-anaknya.
‘Harus bagaimana lagi aku bersikap? Mengapa aku bermain api dan akhirnya terbakar seperti ini? Buat apa aku hidup bila tak ada Tarida dan Theresia?’
‘Apa benar itu Abang Gultom? Dia sakit apa ya? Wajahnya kuyu dan kurus serta berantakan. Apa karena sakit dia tak pernah menghubungiku lagi? Dari sudut rumah sakit mata seseorang menatap Gultom tak percaya.