
“Yah itu tanah yang sebelah rumah yang pernah kita kontrak waktu bikin kamar anak-anak katanya dijual loh,” ucap Dinda saat mereka makan siang di ruangan Dinda.
“Tanah kosong itu di seberang rumah?” tanya Adit.
“Iya. Belum dipasang plang iklan sih. Baru rumors saja. Katanya mau dijual,” jawab Dinda.
“Terus maksud Bunda apa?” tanya Adit sambil memandang wajah istrinya.
“Boleh nggak kalau aku beli?” Dinda menatap balik suaminya. Dia ingin minta izin membeli tanah itu.
“Nggak boleh nya kenapa?” tanya Adit.
“Takut saja Ayah enggak izinin,” jawab Dinda.
“Kalau pun bukan pakai uang kita, kamu punya uang lebih dari yang punya kita! Kenapa harus tanya aku?” tanya Adit tak mengerti.
“Kan imamnya kamu. Aku nggak boleh putusin sendiri,” jawab Dinda jelas dan pasti.
Adit tentu saja tak percaya Dinda selalu menghargainya seperti itu. Padahal uang semuanya ada di tangan Dinda. Belum lagi uang perusahaannya Dinda sendiri. Belum lagi uang gajinya Dinda sendiri. Jadi uang Dinda itu bisa tiga kali lipat dari seluruh kekayaan keluarga Alkav!
“Ya beli saja kalau memang kamu inginkan itu,” jawab Adit dengan bahagia. Rasanya dia bersyukur setiap saat pun masih belum cukup mengungkapkan bagaimana rasanya memiliki istri seperti Dinda.
“Ayah nggak tanya mau buat apa?” tanya Dinda.
“Aku tahu pasti tujuannya baik, dan aku yakin itu bukan untuk rumah karena luasnya nggak terlalu besar buat rumah 6 anak. Kalau tujuan kamu mau bikin rumah buat kita, pasti beli tanah yang lebih besar dari yang papa punya kan?”
“Rumah yang papa punya kita tambah 5 kamar lagi saja masih cukup kok,” kata Dinda.
“Itu sebabnya kan tadi Ayah bilang, pasti bukan mau bikin rumah kita.”
“Iya benar banget. Aku terinspirasi sama kandang burung di Taman mini kemarin Yah,” jawab Dinda. Tiga hari lalu mereka memang ke Taman Mini Indonesia Indah.
“Mau pelihara apa?”
“Apa saja, semuanya mau diliarin di situ, apa yang anak-anak ingin pelihara. Juga mau bikin green house buat percobaan milik anak-anak. Mereka mau menanam apa pun biarin saja di green house itu. Ada dapur eksperimen juga di lahan itu jadi masak di ruang terbuka.” Dinda merinci lahan impiannya.
“Oh setuju banget kalau soal itu. Kalau memang buat anak-anak Ayah setuju. Papa pasti akan langsung belanja isi kandang begitu kita cerita rencana kita,” jelas Adit.
“Iya nggak besar sih lahannya itu, cukuplah buat anak-anak.”
“Memangnya Bunda sudah tahu itu luasnya berapa?”
“Kecil banget sih itu buat ukuran rumah kalau anaknya sebanyak kita tapi ya sangat besar buat keluarga yang anaknya satu atau sampai dua atau tiga.”
“Besar kecil relatif lah. Nanti kita bilang itu kecil banget ada yang tersinggung. Tergantung tolok ukurnya. Kemarin Bunda sudah tanya itu 15 X 25 jadi lebarnya 15 meter ke samping panjangnya 25 meter ke belakang.”
“5 meter di depan akan dibuat untuk teras terbuka selain untuk carport dan 20 ke belakangnya itu yang akan dijadikan sebagai sarana buat anak-anak. Pohon besarnya jangan di tebang bawahnya hanya dikasih conblok. Sudah gitu saja nanti sarana lainnya kita buat tergantung kebutuhan anak-anak yang penting kita buatkan green house-nya.”
“Ya sudah hubungi saja pemiliknya sebelum dia pasang plang. Kalau dia sudah pasang plang biasanya jadi lumayan mahal.”
“Terima kasih ya Yah. Karena sudah izinin mewujudkan ide aku,” ucap Dinda.
“Malah sudah kebayang, nanti kita bisa bikin kursi di bawah pohon itu. Ada pohon apa saja sih?” tanya Adit.
“Banyak banget, ada pisang, ada jambu air, ada mangga, ada sukun pohon besarnya itu. Apalagi ya lupa,” kata Dinda sambil membayangkan pohon apa saja yang ada di tanah itu.
“Wah kita bisa tanam durian tuh, sama kelengkeng,” usul Adit seakan itu sudah mereka beli.
“Oke aku akan tambahin dua pohon itu saja. Pohon besar itu juga bagus buat burung yang akan kita pelihara nantinya.”