GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
APA SALAHKU PADANYA?



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Mbok perhatikan, sebentar lagi ada tamu Mbok Marni pasti sudah kenal kan. Mbak Marni sudah kenal dia adalah tante Lilis. Tolong kondisikan. Bu Siti sama Mbok Asih ajak main anak-anak di ruang bermain. Jangan sampai keluar saat tamu itu ada. Biar mbok Marni aja yang menemani saya di luar.” Pinta Dinda pada ketiga pembantunya di dapur sebelum sarapan. Anak-anak sedang bermain di halaman belakang dengan Adit menemani Eddy yang lari kecil dengan telan-jang kaki di bebatuan.



“Ngapain lagi dia datang?” tanya Mbok Marni. Dia kenal banget dengan Lilis yang culas dan suka datang dari pagi sampai malam untuk mengejar Pak Eddy dulu.



“Ternyata tamu yang kemarin akibat racunnya tante Lilis, maka aku mau kerjain dia sekarang. Apa maksud dia mau ngacak-ngacak hidup rumah tangga aku lagi. Aku capek Mbok, aku capek setiap hamil ada aja masalahku. Kurang apa aku?” keluh Dinda sedih. Dia rapuh sekarang.



“Enggak setiap hamil lah Mbak. Waktu hamil Ghaidan lancar kan? Enggak ada yang ganggu. Enggak ada ulat bulu,” kata Marni.



Dari 3 mbok yang ada memang Marni yang paling tahu tentang Dinda karena sejak Dinda belum menikah dengan Adit dia sudah kenal.



“Iya sih Mbok. Tapi waktu hamil kembar kan parah banget dan sekarang hamil begitu lagi. Apa kalau aku hamil kembar selalu ada masalah ya?” kata Dinda.



“Jangan berpikir buruk begitu Bu Dinda,” kata mbok Asih.



“Bismillah. Pokoknya saya dengan Bu Siti nanti akan menjaga anak-anak di kamar bermain mereka.”



“Iya jangan biarkan mereka dilihat oleh rayap itu. Entah apa maksudnya sengaja buat ribut. Aku kalau sudah dengar namanya Shalimah rasanya aku langsung pengin bikin orang cincang ( sejenis dengan ayam cincang dan daging sapi cincang )  pengen langsung aku bikin jadi isinya martabak,” kata Dinda geram.



“Saya ngerti Non, saya ngerti banget terlebih Shalimah itu maaf-maaf ya, sama suami aja enggak ngopenin. Enggak pernah bikin minum enggak pernah nyiapin makan. Wong beli makan tinggal di tuang ke piring aja dia enggak pernah tuangin kok. Kayak gitu masih di bela-belain pada zaman segitu oleh pak Adit,” kalau yang ini pasti kesaksian mbok Asih. Dia sangat tahu bagaimana kelakuan Shalimah. Malam terima Steven malam terima Adit.



“Itu cuma karena anak! Pak Adit itu kan sejak dulu memang ngejarnya hanya anak,” kata mbok Marni. akhirnya mereka berdua yang diskusi soal Shalimah dan Adit.



“Sekarang aku sudah punya banyak anak, enapa rumah tanggaku masih diacak-acak dengan kedatangan mereka? Padahal aku kan enggak pernah gangguin mereka. Aku rela kok waktu itu disakitin. Aku mundur kan? Aku nggak mau perjuangin orang yang enggak cinta sama aku. Sekarang maunya dia apa lagi?”



“Tapi kan Ibu yang kemarin bukan mau nyodorin Shalimah?”




“Aku belum pernah cerita ya, waktu di Sydney ulang tahunnya si kembar yang bapak sama Mas Adit nyusul itu, bapak ketemu lho sama Shalimah dan suaminya di sana. Shalimah sudah nambah 1 anak. Tapi bapak enggak pernah mau cerita sama aku. Sampai hampir satu tahun papa baru bilang ke aku, karena dia tahu bagaimana lukanya aku kalau dengar nama Shalimah.”



“ Jadi bukan sosok Shalimahnya, tapi nama itu aja udah bikin aku spaning Mbok.” Bu Siti langsung memberikan air juice kepada Dinda.



“Minum dulu Mbak. Jangan emosi. Ingat Mbak lagi hamil, enggak boleh banyak emosi. Terlebih sekarang kan kandungannya enggak terlalu kuat. jaga emosi Mbak,” kata Bu Siti. Mereka ingat harus selalu menjaga Dinda dalam hal apa pun.



“Iya terima kasih Bu Siti. Saya beneran bingung kalau sudah dengar nama itu rasanya darah saya sudah sampai ubun-ubun. Kenapa coba Tante Lilis sengaja?”



“Dua tahun lalu sebelum berangkat ke Sydney saya udah tahu dia ada di dekat ruko sini. Tapi entah kenapa kok enggak datang. Saya pikir sudah selesai, makanya saya bingung, sangat bingung. Apa sih maunya? Apa sih salah saya sama tante Lilis sampai dia seperti itu ke saya? Apa dia marah karena tante Tasih saya jebloskan kepenjara?”



“Tapi tente Tasih saya penjarain kan karena dia mencoba membunuh saya. Apa saya salah?”



“Sudah Bu Dinda, tenang aja. Yang penting Ibu tenang,” bujuk bu Siti. Adit melihat dari jauh Dinda sedang diusap-usap punggungnya oleh Bu Siti. Dia langsung menitipkan anak-anak pada Eddy dan bergegas menghampiri istrinya.



“Kenapa Yank? Kamu kenapa?” tanya Adit cemas.



“Enggak apa apa Mas.”



“Please, jangan suka sembunyiin sesuatu. Bilang ada apa?” tanya Adit lagi.



“Mbak Dinda-nya emosi sama Bu Lilis. Dia marah kenapa Bu Lilis pakai tarik-tarik orang tuanya Shalimah untuk datang. Maksudnya apa?” kata mbok Marni dengan bijak. Mbok Marni yakin Dinda tak mau menjawab pertanyaan Adit karena Adit terkait dengan Shalimah.



“Sudah ya enggak usah dipikirkan Yank. Nanti kita selesaiin. Habiskan juice-nya. Yuk kita ke belakang sama anak-anak,” ajak Adit. Adit tahu  bagaimana perihnya hati Dinda terhadap kebohongan yang dia buat dulu. Kalau tak ada Ghifari dan Ghibran dalam perut Dinda tentu rumah tangganya tak akan selamat.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.