GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
JANGAN INJAK TEMAN!



“Saya dan Velove pernah dua kali memergoki Gultom dengan perempuan lain selain istri sahnya karena kebetulan Velove kenal istrinya di sekolahan anak-anak. Saya malah nggak tahu kalau anaknya Gultom satu sekolah dengan si sulung.”


“Waktu itu satu kali kami ketemu di cafe. Saya dan Velove sedang mau makan malam berdua. Kami memang suka seperti itu. Saat itu Velove langsung berdiri di depan mejanya Gultom yang sedang mencium pipi seorang perempuan dan mengusap lembut perut perempuan tersebut.”


“Selamat ya Pak Gultom istrinya hamil!” begitu Velove bilang tanpa saya bisa cegah.


“Eh siapa ya Mbak? Kok tahu suami saya?” kata perempuan tersebut.


“Iya saya baru aja nih telat hamil. Baru tadi pagi periksa usia kandungan saya 2 minggu,” kata perempuan tersebut dengan sangat bahagia.


“Oh ya? Selamat ya,” kata Velove lalu langsung dia meninggalkan meja tersebut menuju meja pesanan kami.


“Bulan berikutnya tanpa sengaja Velove kembali melihat Gultom dengan perempuan lain. Perempuan tersebut sedang menggendong bayi dan Gultom membawa tas belanjaan.”


“Velove yang iseng langsung mendekati mereka dan bertanya : Wah lucu banget sih Bu anaknya, rambutnya kriwil, begitu ucap Velove.”


“Sang ibu tentu saja senang anaknya di puji seperti itu, dia langsung bilang : iya untung anaknya nggak seperti papanya yang rambutnya kaku.”


“Anak ke berapa Bu dan berapa bulan? tanya Velove pada perempuan itu.”


“Anak pertama kami baru berumur 3 bulan, begitu kata perempuan tersebut. Artinya dia lebih dulu dengan Gultom daripada yang baru hamil 2 minggu satu bulan lalu.”


“Saya pengen banget punya anak rambutnya kriwil, begitu kata Velove.”


“Itu mengapa Gultom sangat benci pada saya, jadi istri saya sudah memergoki dua perempuan di luar istri sahnya yang anaknya sekolah bareng dengan anak kami. Tapi Velove tak mau memberitahu istri pertamanya. Dia takut bila Gultom mencelakai kami atau anak-anak.


Dinda hanya diam. Dia paling benci perselingkuhan dan dia tidak suka ada oknum tukang selingkuh di kantornya.


“Ini bagan yang baru Bu. Untuk posisi ruangan semua sama persis dengan ukuran juga sama. Tetap tak ada perubahan. Yang kami ubah adalah ruang penunjang yang di luar ini,” kata Bagas sebagai juru bicara dari tim arsitek melakukan presentasi pada Adinda dan Radite.


“Kalau kita ikuti bagan yang lama terlihat sempit dan sepertinya kumuh Bu,” jelas Bagas selanjutnya.


“Tidak semua Bu. Tidak semua. Jadi yang berubah hanya sarana penunjang saja, kalau tata letak ruangan dan ukurannya semua tetap sama Bu,” kata seorang arsitek lain.


“Berarti cuma sarana penunjang saja ya?” Dinda memperhatikan bagan lama dan bagan baru.


“Oke, saya terima. Nanti saya pelajari lagi tapi selintas memang saya lihat masih bagus lah tidak mengecewakan,” jawab Dinda.


“Kita ketemu besok ya?” pesan Ajeng pada semua kepala cabang di grup kepala cabang.


“Eh jangan lupa pesananku!” kata Wika.


“Puspa kayaknya udah siapin deh, bikin berat aja bawaanku aja,” keluh Ilham.


“Tahu nih, hamil enggak tapi pesannya banyak banget,” kata Fahrul.


Wika memang pesan minta dibawakan kacang bogor rebus. Itu kegemarannya. Mereka berlima seperti saudara. Tak ada persaingan gontok-gontokan. Mereka malah saling menunjang itu yang membuat tim mereka solid.


Walau mereka semua masing-masing jadi kepala cabang, tapi mereka tidak saling sikut. Mereka malah saling menunjang karena sekali mensikut mereka kena sikut sama Dinda.


Kalau mau maju, maju bareng jangan injak teman! Itu prinsip Dinda.


“Ingat ya kalian harus datang lebih awal, jangan sampai peserta datang  duluan,” kata Ajeng.


“Ibu direktur galak banget ya,” kata Fahrul.


“Iyalah, bapak direktur juga galak kok,” balas Ajeng lagi. Mereka memang semuanya adalah direktur! Kepala cabang di perusahaannya Dinda disebut direktur.


“Oke sampai besok pagi di TKP,” kata yang lain. Mereka pun bubar besok adalah family gathering cabangnya Ajeng.