GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KEHILANGAN SOSOK PENJEMPUT



“Kamu harus makan dulu Mi,” bujuk Ajat. Saat itu ibu dan ayahnya Santi sudah datang. Begitu pun papa mertuanya. Tapi Santi masih tetap diam tak bicara. Apalagi bercerita pada semua orang. Dia tetap diam, diam dan diam.


Mischa ditangani oleh kedua neneknya. Enin dan nenek. Mereka membujuk dan memberi pengertian Mischa agar tidak menangis di depan Santi.


“Kalau dia seperti itu terus, bisa drop dan bahaya buat bayinya,” bisik ibu Santi terhadap besannya.


“Saya juga khawatir sejak tadi melihat Santi seperti itu. Dia benar-benar terpukul putranya hilang,” ucap mamanya Ajat.


“Karena dia memang mencintai anak-anak dari hati,” jawab ibunya Santi pelan. Mereka tak sadar Mischa belum tidur dan masih mendengar obrolan kedua neneknya tersebut.


“Bukan karena di depan Teteh saya bicara,” mamanya Ajat yang memang memang asli Sunda memanggil besannya dengan sebutan Teteh.


“Saya jujur bilang Ajat ini sangat beruntung bertemu Santi, sehingga dia mengenal cinta untuk kedua anaknya. Dulu kedua anak ini sudah dibuang dari hatinya. Karena Santi lah dia bisa mencurahkan kasih sayang terhadap anak-anak. Saya benar-benar bersyukur akan hal itu,” ucap mamanya Ajat lagi.


“Santi memang welas asih dan dia mencintai anak-anak sejak dulu,” balas ibunya Santi.


“Saya yakin walau Santri punya anak kandung sekali pun. Cintanya pada anak-anak tidak akan berkurang,” lanjut ibunya Santi.


“Benar Teteh saya juga yakin. Bahkan saya kaget aja waktu Santi memutuskan tidak akan meminta harta bila bercerai asalkan anak-anak ini ikut dirinya. Perempuan lain mana mau bawa anak tiri setelah bercerai,” ucap mama Ajat.


“Santi hanya berpikir tak mau anak-anak kembali terluka bila jauh darinya. Anak-anak pasti bisa bila jauh dari papinya yang dulu memang tak pernah mengurus. Santi takut anak-anak tidak mendapat cinta dari ibunya yang lain.”


“Itu perbedaan Santi dengan Wiwik. Anak kandungnya dia tinggal begitu saja. Santi anak tiri malah mau dibela-belain di bawa,” kata mama mertua Santi atau ibunya Ajat.


“Kalau nggak mau makan, minum su5u dulu ya. Ini su5u ibu hamilnya diminum,” bujuk Ajat memberikan su5u coklat hangat pada Santi.


“Ini bukan buat Mami kok. Buat Dedek. Mami cinta Dedek kan? Kalau Mami cinta Dedek, Mami harus minum ini dan makan kuenya sedikit.” lanjut Ajat lagi. Ajat memang menyiapkan martabak manis isi ketan hitam kesukaannya Santi juga martabak telur yang sangat tebal itu juga kegemarannya Santi.


“Ini satenya enak lho Mi. Nggak enak kalau Mami makan dingin,” bujuk Ajat lagi. Dia bingung istrinya sama sekali tidak mau bicara sejak mereka tiba di rumah.


Santi pun minum su5u coklat hangat sedikit saja. Dia tak minat sama sekali. Sejak masuk rumah dia langsung sedih merasa tak ada Farouq yan berlari menyambutnya hingga pintu mobil seperti biaa. Itu yang membuat dia mulai kehilangan Farouq.


Ponsel Ajat dan ponsel Santi ada di meja makan. Tidak mereka pegang sama sekali. Bukan Ajat nggak mau memegang ponsel, karena tadi waktu habis ambil martabak dari meja makan dia langsung ke ruang tengah tempat Santi berada jadi dia tak sempat ambil HP-nya. Mereka yakin kalau ada yang menghubungi, pasti ada yang dengar. Tak perlu pegang ponsel karena akan semakin membuat semua berharap ada derring.


Sehabis minum su5u hangat Santi menyandarkan tubuhnya setengah berbaring. Rupanya dia sudah sangat pusing sehingga tak kuat menahan kepalanya.


Ajat masih berupaya membujuk Santi untuk makan dua suap martabak yang manis atau yang telur.  Tapi Santi tetap tak mau.


“Ayo ya buka mulutnya Mi. Papi suapin,” bujuk Ajat.


“Mami!” teriak Ajat melihat istrinya terkulai lemas dengan mata terpejam. Saat ini sudah pukul 21.07 dan belum ada berita apa pun tentang Farouq.


Tentu saja kedua perempuan di kamar Mischa mendengar teriakan Ajat tersebut. Mereka langsung berlari ke ruang tengah. Mereka melihat Ajat sedang menepuk-nepuk pipi istrinya yang pingsan.


Papanya Ajat langsung menghubungi dokter pribadinya untuk datang.