
“Kakak sejak tadi sudah ngobrol sama Mami. Sekarang Kakak pulang dan mulai besok sekolah ya. Doain Mami cepat sembuh,” kata Santi pelan kepada Mischa yang ada dalam pelukannya.
“Kalau Kakak bolos terus begini nanti Mami sedih. Mami ingin Kakak tetap sekolah ya, kalau sore atau malam bisa telepon dari nomor rumah. Kalau nomor Mami tidak aktif berarti Mami sedang tidur. Kamu boleh tanya ke papimu,” kata Santi lagi.
“Iya Mi. Kakak nurut kok. Kakak habis ini pulang,” kata Mischa. Dia tahu dan tak mau membantah maminya.
“Mami sayang Kakak kok,” kata Santi mulai terisak. Doain adik cepat ketemu ya?” sehabis bicara itu Santi langsung menangis tak bisa dibendung lagi. Kalau sudah ingat Farouq dia pasti akan langsung menangis.
“Mami jangan sedih. Adik pasti ketemu. Adik sama Kakak sayang banget sama Mami,” begitu Mischa bicara. Dia pun menangis. Mereka berpelukan tentu saja Ajat sedih melihat kedua perempuan di depannya sama-sama menangis.
“Sudah jangan menangis. Jangan sedih. Nanti bikin kalian tersiksa. Lebih baik kalian berdoa saja agar adik selalu sehat dan bisa segera ditemukan,” kata Ajat sambil mengulurkan tempat tissue.
Sesuai dengan permintaan Santi, Mischa pulang. Dia tidak rewel. Pak Udin juga sudah diberitahu besok pulang sekolah Mischa boleh diantar ke rumah sakit. Jadi Mischa akan datang setiap pulang sekolah. Tentu saja Mischa senang mendapat izin seperti itu dari sang mami tercinta.
“Serius Bang?” tanya Ajat.
“Serius! Detektif juga dapat nomor barunya Wiwik dan mamanya. Kamu bikin laporan saja ke polisi untuk dilacak keberadaan mereka. Terserah polisi bagaimana penanganannya. Detektif juga akan cari keberadaan mereka melalui GPS. Detektif tidak akan menghubungi agar mereka tidak lari. Jadi urusan mereka lari atau tidak itu biar polisi yang menangani,” kata Adit yang menghubungi Ajat dan memberi laporan tentang penelitian detektif yang dia sewa.
“Terima kasih Bang. Aku akan bilang pada papa atau ayah agar mereka yang lapor ke polisi memberi data terbaru ini. Aku tentu tidak bisa meninggalkan Santi,” kata Ajat. Dia selalu melakukan telepon di luar ruangan agar istrinya tidak mendengar.
“Jangan beri harapan palsu dulu pada Santi. Jangan kasih tahu tentang hasil yang didapatkan. Takutnya Santi terlalu berharap. Akan tambah syok.”
“Dokter pasti tahu yang terbaik bagaimana penanganannya. Karena itu kamu jangan memaksa bawa dia pulang. Kalau dibawa pulang itu nanti dokter nggak bisa awasin dia secara langsung. Paling hanya dikasih obat saja. Kalau sekarang kan dia langsung dikasih suntikan,” kata Adit.
“Kondisi di rumah tidak lebih kondusif. Dia mungkin lebih nyaman ada di kamarnya tapi kamu harus berpikir di rumah itu banyak banget barangnya Farouq. Melihat baju Farouq dia akan menangis. Melihat tasnya Farouq dia akan menangis, bahkan mungkin dia akan mengurung diri di dalam kamarnya Farouq. Itu akan lebih bahaya.”
“Sekarang kalau bicara soal Farouq aja dia masih menangis kok Bang,” ucap Ajat.
“Itulah yang aku bilang. Kamu jangan cepat-cepat minta bawa dia pulang. Kalau dokter belum menyarankan dan kamu juga konsultasi ke dokter kalau bawa pulang bagaimana dengan kenangan-kenangannya Farouq.”
“Besok dia akan mulai konsultasi dengan dokter kejiwaan untuk mulai menerima apabila terjadi hal terburuk dari Farouq. Begitu yang aku tahu Bang.” jelas Ajat.
“Ya kita berharap memang Farouq kembali dengan sehat dan kondisi prima seperti sedia kala. Tapi betul yang dokter bilang, kita harus bersiap dengan kondisi terburuk. Karena pasti ada dua sisi mata uang,” kata Adit.
“Iya Bang, itu yang kami antisipasi di sini.”
“Ya sudah ya. Aku tidak bisa lama-lama. Kamu tahu kan anak-anak aku lagi bikin acara. Kalau fokus aku ke tempat lain mereka merasa akan tersisih,” kata Adit.
“Iya Bang. Terima kasih dan salam buat Bu Dinda.”
“Nanti akan aku sampaikan salammu. Salam juga dari Dinda semoga Santi cepat pulih.”