
“Kalau Mama sudah tahu bahwa semua itu adalah rekayasa berarti gugatan cerai dicabut dong?” tanya Bagas penuh harap.
“Kenapa harus dicabut?” kata Velove masih tanpa ekspresi. Dia masih akan menghukum suaminya yang tak menceritakan pernah menolong seseorang. Lovvy tahu maksud Bagas menolong tak perlu diperlihatkan. Tapi akibatnya malah seperti ini.
“Kan aku enggak ngapa-ngapain Ma. Masa diterusin sih gugatan cerainya. Emang kamu niat benar-benar pisah sama Papa?”
“Ini buat pembelajaran Papa jangan gampang berbuat baik sama orang, karena belum tentu niat baik kita itu berpahala. Akhirnya malah bikin kacau. Untung bu Dinda bilangin aku belum tentu semua foto itu asli. Aku harus cek keaslian foto di ahli digital yang credible.”
“Kalau enggak ada omongan Bu Dinda itu, aku yakin foto itu berfungsi untuk bukti gugatan aku di pengadilan,” jawab Velove.
Mereka sudah ada di mobil, baru saja meninggalkan Polsek dan menuju ke pengadilan agama tempat sidang kedua akan dilakukan.
“Iya Ma. Papa mengerti Papa salah berbuat baik menolong orang tanpa berpikir dampaknya. Papa pikir benar-benar perempuan yang sedang kesulitan jadi Papa tolongin,” ujar Bagas penuh penyesalan. Raut wajahnya benar-benar sangat menyesal pernah mengajak perempuan yang terlihat sedang kesulitan itu menumpang di mobilnya.
“Bukan cuma Papa yang jadi korban karena kata bu RT ada ibu-ibu lain yang juga ingin melabrak janda itu. Dia dapat info suaminya selingkuh seperti yang Papa lakukan dengan dia. Ibu itu ingin melabrak bukan minta data seperti Mama buat lapor polisi.” jelas Velove. Dia tak sadar pembicaraan mereka sudah akrab kembali tak seperti sebelum dapat bukti keaslian foto yang dikirim padanya.
“Kalau mau ngelabrak kenapa harus minta data? Aneh juga tuh ibu. Mau labrak mah labrak aja kan?”
“Mungkin dia mau melabraknya bukan di rumah tapi di tempat kerja. Biar bikin malu perempuan tersebut. Kalau di rumah sama juga bohong. kalau dilabrak di tempat kerja kan bisa jadi pembelajaran buat pelakor,” ujar Velove.
“Bu, saya bisa minta waktu sebentar?” Bagas bicara setelah diperkenankan masuk ruangan Dinda oleh sekretarisnya.
“Silakan,” jawab Dinda.
“Saya mau berterima kasih sama Ibu,” ujar Bagas tulus dengan wajah bahagia. Senyum manis tersungging di bibir ayah dua anak perempuan itu.
“Terima kasih urusan apa?”
“Urusan rumah tangga saya,” jawab Bagas sumringah. Dia tak bisa menutup kebahagiaan yang membuncah di dadanya.
“Emangnya saya berbuat apa?” Dinda malah tak mengerti. Karena dia tak pernah berbuat apa pun dalam kisah ruwetnya rumah tangga Bagas dan Velove.
“Istri saya sejak pertemuan dengan Ibu dan mendapat info kalau dia diminta mengecek keaslian foto yang dia terima ke ahli digital dia kaget. Ternyata foto-foto yang dia terima adalah hasil editan.”
“Dan saya enggak menyangka Bu dia punya foto saya saat diranjang bersama perempuan tersebut. Ada foto kami di lobby hotel selain foto kami di mall dan di pantai bahkan di tempat lainnya.”
“Saya bisa bayangkan sakit hatinya Lovvy tiap hari melihat foto ‘perselingkuhan’ kamu. Dan perempuan itu niat bamget kirim foto,” ucap Dinda ikut kesal.
“Benar Bu. Velove bilang kalau hanya tissue bekas lipstik, dia enggak akan marah. Tapi foto-foto yang membuktikan perselingkuhan saya yang datang tiap hari membuat sangat geram,” jawab bagas.
“Lalu orang tersebut enggak diapa-apain? Enak bener,” kata Dinda ikut sewot.
“Velove mengadukan dia ke polisi atas perbuatan tidak menyenangkan Bu.” Jelas Bagas.
“Baguslah, perempuan seperti itu memang harus diberi efek jera.”
“Iya Bu. Velove sudah mengadukan ke polisi. dia punya data akurat sampai ke NIK-nya perempuan tersebut karena dia punya fotokopi KTP dan kartu keluarganya.”
“Bagaimana dengan gugatan cerai Velove?” tanya Dinda.
“Itu alasan saya datang ke sini kan Bu. Berterima kasih pada Ibu. Karena bukti bahwa foto itu adalah editan, Velove percaya saya tidak melakukan perselingkuhan sama sekali. Dan ternyata korbannya bukan hanya Velove ada satu orang perempuan di perumahan juga yang kebakaran jenggot cuma dia bermain tidak cantik kayak Velove dia berniat melabrak janda itu.”
“Saya akui Velove sangat bersabar menerima bukti itu tiap hari satu persatu. Karena bukti itu kan tidak langsung diberikan begitu saja kepada Velove tapi dikirim satu foto satu hari.”
“Ini buat pembelajaran semua orang, jangan sembarangan menolong karena niat kita baik belum tentu hasilnya juga baik,” Dinda mengingatkan dirinya sendiri.
“Iya Bu. Saya sekarang akan berhati-hati. Tidak sembarangan lagi menolong orang. Saya tak berpikir bahwa niat baik saya akan berakibat seperti ini. Sekali lagi terima kasih ya Bu karena kata-kata Ibu lah semua jadi terbongkar.”
“Kamu harus mengapresiasi kerja keras Lovvy membongkar semua kebusukan perempuan itu. Padahal saya bicara soal foto Angelica pada Adit. Kalau itu foto asli dan tidak mesra, tapi tetap bikin hati saya kebakaran. Apalagi yang Velove lihat foto editan kamu dan perempuan tersebut ada di ranjang.”
“Iya Bu.”
“Masuk,” kata Dinda mendengar ada yang mengetuk pintunya.
“Lho ada kamu Gas.” kata Adit.
Walau suami istri tetap saja Adit memang mengetuk pintu dan menunggu di perintah masuk lebih dulu kalau ada di kantor, biar bagaimana pun dia tak mau seenaknya.
“Iya Pak. Saya sedang berterima kasih pada Bu Dinda,” jawab Bagas.
“Wow terima kasih karena apa nih? Gede enggak angpaunya Yank?” goda Adit.
“Harusnya super gede loh Mas
“Kenapa?”
“Velove enggak jadi minta cerai karena dia mengikuti saranku memeriksa keaslian foto lebih dahulu.”
“Memang Velove punya foto apa?” tanya Adit bingung.
“Sereeeeeeem Pak. Ternyata orang yang saya tolong setiap hari mengirim foto perselingkuhan saya dan perempuan itu. Bahkan ada foto di ranjang foto, di pantai juga foto di lobby hotel. Itu alasan istri saya menggugat cerai Pak. Bukan hanya tissue bekas lipstick saja.” Bagas menerangkan apa yang Velove miliki untuk bukti menggugat cerai.
“Astagfirullah,” Adit tak percaya, ternyata orang ingin merusak rumah tangga orang lain sampai sedemikian rupa bertindak kotor.
“Itu adalah peringatan bagi kaum laki-laki. Jangan mudah berbelas kasih atau menolong orang kalau lihat perempuan sendirian,” jalas Dinda.
“Dia dapat nomor Velove dari mana?” tanya Adit penasaran.
“Entahlah Pak, saya juga kurang tahu. Mungkin dari lingkungan sekitar bilang mau pesan baju anak-anak.” kata Bagas.
“Mungkin dengan licik dia bisa minta nomor Velove dari siapa pun gampang kok,” jawab Dinda.
“Tapi yang hebat adalah Velove, bisa punya Nik dan copy KTP serta copy kartu keluarganya perempuan itu untuk melaporkan perempuan tersebut ke polisi, karena Velove dapat dari ketua RT.” ujar Dinda.
“Wah hebat itu, patut diacungi jempol. Perempuan hebat,” Kata Adit.
“Pasti besok kalau kami ngobrol lagi akan seru ceritanya, karena Velove akan bercerita bagaimana perjuangan dia ke Pak RT untuk minta data perempuan itu.”
“Ya sudah sekarang makan yuk,” ajak Adit .
“Kasihan papa kalau kelamaan,” Adit mengambil bekal makan siang mereka.
“Gas, kami makan dulu ya kasihan Pak Eddy bila terlambat makan siang.”
“Ya Bu. Terima kasih, sekali lagi terima kasih,” ucap Bagas tulus.