GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
GEBRAKAN EDDY



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Enggak apa apa kan Bun?”



“Enggak apa-apa kok Yah. Bunda bisa lagi pula  sebenarnya enggak perlu ajak 2 mbok. Cukup aku dengan satu mbok dan satu sopir aja,” Dinda protes Adit mengharuskan dua mbok menemaninya ke sekolah selain sopir.



“Enggak bisa Bunda enggak boleh gendong sama sekali. sedang sopir enggak ikut masuk kelas anak-anak. Jadi biar kedua simbok yang jaga mereka, kamu ngawasin aja,” Adit tak terima protes Dinda. Biasanya kalau anak-anak minta gendong dia yang akan menggendong keduanya bersamaan. Kalau simbok tentu tak bisa dua sedang sopir tak ikut masuk ruangan.



“Ya wis aku ngalah. Ayah hati-hati ya,” pinta Dinda pada Adit yang akan pergi bersama Eddy.



“Kalau Bunda capek nanti enggak perlu ke kantor ya Bun,” pesan Adit.



“Enggak ada rapat toh hari ini?”



“Hari ini enggak ada rapat sih, aku cuma mau ngecek kerjaan anak-anak. Enggak capek kok. Insya Allah aku bisa datang habis makan siang,” jelas Dinda.



“Kok habis makan siang? Memang enggak bawain Ayah dan papa makan siang?” gantian Adit yang merajuk.



“Ayah bukannya akan makan di luar sama papa?”



“Enggak sih di bank kan enggak sampai makan siang,” jawab Adit.



“Ya sudah nanti aku bawakan makan siang buat papa dan kamu deh,”  Dinda berjanji akan membawakan suaminya makan siang.



“Nah gitu dong kan jadi Ayah semangat,” kata Adit. Lelaki itu mencium kening istrinya dan berangkat lebih dulu bersama Eddy. Adit sengaja minta dibawakan makan siang agar istrinya tak kepikiran dia pesan makan di kantin atau melalui gosend karena takutnya saat sebelum diserahkan ke Adit makanan diberi sesuatu walau pesan di luar melalui gosend sekali pun.



“Bu dipanggil Bapak sebentar,” kata Shindu pada pengelola kantin kantor.



“Ada apa ya Pak Shindu?” tanya perempuan matang yang masih manis diusianya yang baru saja beranjak dari angka 40 an tahun.



“Saya juga tidak tahu. Bapak hanya bilang suruh panggil Ibu. Saya tak tahu Bapak ingin apa atau pesan apa. Mungkin dia mau pesan dalam jumlah banyak sehingga harus langsung bicara dengan Ibu,” kata Shindu yang memang tak diberitahu alasan pak Eddy memanggil pengelola lantin itu.



“Baik Pak Shindu. Saya segera ke sana,” ibu mengelola kantin langsung meletakkan pulpen yang sedang dia pegang untuk menghitung dan memasukkan angka-angka pembukuan yang dia catat. Angka keluar masuk pembukuan kantinnya. Dia masukkan buku dan alat tulis serta kalkulator ke dalam laci, dia kunci dan dia pergi mengikuti Shindu.



Ibu itu sudah berpesankan pada pegawai kantin yang sedang bekerja bahwa dia dipanggil Pak Eddy pemilik perusahaan.



Shindu masuk ruangan Pak Eddy,  ternyata di sana sudah ada, Bagas Adit, serta Bu Untari.



‘*Loh kok ada Bu Tari ya? Padahal tadi waktu saya pergi dari ruangan Pak Eddy belum ada bu Tari*,’ batin Shindu dalam hatinya.



“Silakan duduk Bu,” Eddy sebagai pemilik ruangan mempersilakan pengelola kantin agar duduk bersama tamunya yang lain. Adit mengeluarkan teh kotak dingin dari kulkas kecil di ruangan itu.




“Ibu ini Kapolres, dia yang kemarin menangani masalah pak Rizaldy dan pak Utoro. Beliau master dibidang hukum, jadi selain sebagai polisi, memang tugasnya sangat berhubungan dengan hukum di lingkungan kita.”



Untari mengulurkan tangan pada ibu pengelola kantin.



“Maaf Bu saya tak punya waktu terlalu banyak, jadi saya langsung saja ya,” Bu Untari langsung menyalakan laptop yang sudah disiapkan oleh Adit.



Bu Tari memutar rekaman saat seorang gadis menaburkan sesuatu di pintu masuk ruangan kerja Adit juga di kursinya. Bagas, Shindu dan pengelola kantin tak percaya apa yang mereka lihat.



“Saya tidak tahu apa maksud putri sulung Ibu seperti ini kalau tidak melihat rekaman sebelumnya. Ayo kita lihat rekaman sebelumnya ya.  Mungkin yang barusan ibu tidak tahu.”



“Rekaman itu saya masukkan duluan agar saya mudah bercerita kalau rekaman tadi adalah bukti apa yang telah anak ibu katakan sebelumnya. Jadi ada perkatan akan melakukan dan ada tindakan atau aksi. Itu sudah jelas buat seseorang terjerat hukum.” kata Bu Untari.



Pengelola kantin kaget melihat bagaimana putrinya yang baru saja lulus sarjana menaburkan sesuatu di ruangan Adit.



Untari masuk ke rekaman pada saat ibu pengelola kantin melarang putrinya mengejar Adit. Bagas dan Shindu tak percaya seorang gadis milenial yang lulusan perguruan tinggi malah percaya ilmu perdukunan.



“Jelas kan Ibu alasan saya. Ini copy surat penangkapan putri Ibu karena putri Ibu sudah terbukti melakukan perbuatan buruk yaitu akan membuat rumah tangga orang lain rusak. Memang secara hukum ilmu pelet itu tidak ada pembuktiannya. Tapi dari rekaman ini dan kata-kata ibu serta kata-kata anak ibu itu sudah bisa menjadi bukti untuk saya menahan anak Ibu.”



“Mungkin sekarang dia sedang digerebek di rumah Ibu atau di rumah kekasihnya. Selama ini putri Ibu sudah tinggal bersama kekasihnya saat kuliah. Kalau dia hamil dia pasti akan minta pertanggungjawaban Pak Radit.”



Pengelola kantin tentu tak percaya gadis kecilnya yang sangat lucu sudah tinggal bersama teman kuliahnya, selama ini memang dia dari pagi sampai sore berada di kantor untuk mencari makan bagi keluarganya.



Pengelola kantin punya dua anak perempuan, dan suaminya meninggal saat anaknya masih kecil. Dia jadi ibu sekaligus tulang punggung yang banting tulang menghidupi anak-anaknya hingga kuliah.



“Saya tidak merasa bersalah, mengapa saya dilibatkan?”



“Saya tidak melibatkan Ibu, saya hanya memberi bukti apa yang kami lakukan sudah berdasarkan ketentuan. Saya tak ingin kantor saya rusak. Mulai besok hubungan kerja sama kita saya putuskan. Saya akan mencari pengelola lain. Ibu silakan hitung-hitung berapa kerugian yang harus saya bayar,” Eddy tak mau lagi menerima pekerja yang sudah lebih dari 10 tahun ada di perusahaan itu.



Dia sudah menolong ibu itu sejak jadi OG hingga membukakan kantin keci, sekarang anaknya malah akan merusak rumah tangga Adit. Dia tidaj tegas melarang hanya memperingatkan putrinya tapi tak menindak tegas malah putrinya bisa masuk ruangan Adit sebelum kantor buka.



Tentu saja pengelolaan kantin tak terima, dia merasa tak bersalah.



“Kalau Ibu tak mau menerima keputusan ini, tingkah laku anak Ibu akan saya buka karena saya banyak mempunyai rekaman saat anak ibu dugem di klub malam. Ibu mau lihat lalu sang polisi memperlihatkan rekaman yang ada di ponselnya. Bagaimana putrinya berkelakuan buruk dugem saat malam.



Tingkah lakunya ke barat-baratan hidup dugem dan hidup bebas tak sesuai dengan prinsip hidup orang Timur. Tapi pemikirannya percaya pada klenik. Hebat anak ibu kantin itu.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.