GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
RP 25,000 BERTIGA DAPAT APA?



Tarida memegang satu ekor kura-kura hijau kecil di tangan kiri dan satu yang besar di tangan kanan.


“Mama lihat lucu banget ya kura-kuranya,” kata Tarida.


“Iya Sayang lucu. Tapi jangan kelamaan dipegang ya. Biarkan dia bebas. Kamu lebih baik melihat dan mengusap semua hewan yang bisa kamu pegang tapi jangan terlalu lama,” balas Sondang, dia mulai meng-edukasi anak-anaknya.


“Ya Ma aku nggak akan terlalu lama pegang kok. Aku cuma bawa kasih lihat Mama saja. Aku sudah izin pada kak Biyya,” jawab Tarida yang memanggil Biyya dengan sebutan KAK. Padahal jelas-jelas dia lebih tua. Memang kharisma Biyya membuat dia disegani temannya.


“Iya Sayang, iya,” jawab Sondang dengan memberi senyum.


“Nanti kalau sudah taruh kura-kura bisa antar minum untuk opung?” tanya Sondang.


“Opung sudah minum di dekat dapur,” jawab Tarida. Rupanya Opung sedang bicara dengan Ponirah yang sejak pagi sudah kesini bersama suaminya yang hari ini full di green house. Suami Ponirah bernama Martono sering dipanggil pak Marto. Hari ini memang ditugaskan Adit stand by walau sebenarnya esok jadwal dia di green house.


Di dapur juga sudah lengkap tiga mbok dan para sopir. Hanya satpam yang jaga rumah Eddy.


Lengkap sudah tamu Dinda dan Adit, hanya tinggal dua orang tamunya Eddy yang belum datang. Tamu Eddy hanya satu yang bawa cucu, yang lainnya tidak ada yang bawa anak atau cucu karena memang sudah sepuh-sepuh dan cucunya tidak tinggal bareng. Tentu saja mereka takjub dengan green house milik keluarga Alkav.


“Jadi ini acaranya apa?” tanya Ajeng.


“Makan siang saja, ngeriung,” jawab Dinda.


“Kangen saja kumpul sama kalian dalam suasana santai. Biasanya di family gathering memang kita santai tapi kan bukan kita-kita doang. Banyak keluarga lain yang aku harus sapa, Adit harus sapa, pak Eddy juga harus sapa semuanya. Kan tidak antar kita saja. Kalau kami hanya berkumpul dengan kalian, nanti karyawan dan semua keluarganya menilai kita tak mau berbaur.”


“Boleh tuh. Semuanya kan ada anak,” kata Ilham.


“Berarti satu keluarga boleh ikut 4 kocokan, kayak aku?” kata Puspa menimpali usul Ilham suaminya.


“Saya 6,” kata Adit lebih dulu dari Dinda.


“Iya seru. Benar, boleh tuh jadi satu kali kocokan biar 3 anak yang keluar. Nggak usah banyak-banyak kan kita memang bukan niat dapat uangnya,” kata Wika.


“Iyalah kalau rp 25.000 dibagi 3 dapatnya seberapa? Buat es krim mereka saja pasti nggak cukup,” kata Sondang.


“Iya benar dan untuk konsumsinya kita semua masing-masing bawa. Kita bikin list saja jadi nggak tubrukan. Kayak sekarang nih kok jadi pada bawa sih kalian itu?” kata Dinda.


Dinda melihat ada cenil, ada lupis, ada ubi rebus, ada kacang bogor rebus, pokoknya benar-benar makanan yang memang enak dan sehat.


“Iya bisa saja kita makan siang cuma ama rujakan. Tergantung menu yang kita bawa,” kata Velove.


Sondang tak percaya dia masuk pada keluarga besar ini keluarga besar yang tadinya dia pikir sangat angkuh ternyata malah merengkuh dia dalam hangat persaudaraan.


Inang Gultom pun bahagia menantunya terlihat rukun bersama rekan kerja dan saudara-saudaranya dalam satu perusahaan. Dulu waktu Gultom yang bekerja di sini, Gultom tidak menyertakan istrinya sehingga akhirnya malah salah langkah.