
“Lalu kenapa kamu marah sama Fahrul saat dia tidak memberi jajan sama kamu?” tanya papanya Fahrul.
“Saya nggak pernah jajan Om. Saya tidak butuh jajan karena bunda saya sudah menyiapkan semu bekal untuk keenam anaknya dengan penuh cinta. Walaupun bunda saya punya perusahaan, bukan satu perusahaan. Bunda saya punya dua perusahaan. Tapi setiap pagi dia menyiapkan kami sarapan, juga bekal sekolah. Bunda juga yang nyiapin makan malam kami. Ayah kami bantu bunda juga membantu kami belajar. Kalau kami butuh 10 baby sitter ayah dan bunda bisa siapkan. Tapi bunda sama ayah sejak kami bayi nggak pernah mau pakai baby sitter buat kami. Karena mereka mau kami selalu di bawah bimbingan mereka langsung. Jadi bohong besar kalau saya butuh jajan dari Fahrul. Kalau saya butuh jajan saya tinggal bilang kok mau berapa uang yang saya minta. Kakek saya pasti akan kasih, bunda pasti akan kasih kalau memang jajanannya itu sehat,” sahut Biyya tak bisa di rem.
“Seharusnya Om itu nggak cuma dengar omongan anaknya karena ayah dan bunda saya juga nggak pernah cuma percaya omongan kami. Mereka pasti akan kroscek benar tidak. Tapi kami memang tidak terbiasa untuk berbohong. Dari kecil kami tidak boleh berbohong karena kata kakek maupun bunda sama ayah, pasti nanti sampai besar pun akan jadi pembohong. Mungkin itu yang Om harus tahu. Anak Om itu pembohong besar. Masih bagus tidak saya hancurkan dia,” kata Biyya berapi-api. Emosi Biyya burun dari Adit yang awalanya pemarah.
Tentu saja mamanya Fahrul panas mendengar kata-kata Gathbiyya tentang bundanya. karena dia hanya ibu yang tidak bekerja tapi tak pernah mengurus tiga anaknya. Papanya Fahrul memandang tajam kepada istrinya.
“Baik Bapak, Ibu, kita lihat kejadian sebenarnya,” kata kepala sekolah setelah Gathbiyya keluar dari ruangan itu.
“Saya sudah memotong rekamannya dari kejadian satu hari di ruangan itu. Saya perlihatkan kejadian yang berhubungan dengan topik bahasan kita kali ini saja.”
“Saya perlihatkan dulu bagaimana kelakuannya Khairudin seperti yang tadi Gathbiyya bilang dia sering membully teman-temannya termasuk adiknya Gathbiyya yang dia katakan bahwa ayahnya itu cuma pesuruh tidak seperti papanya yang hebat. Papanya meeting ke sana kemari.” kata kepala sekolah. Dan benar di video CCTV itu terlihat bagaimana Khairudin sangat bangga kepada papanya yang seorang pengusaha besar tetapi sayangnya dia selalu mengejek semua orang tua teman-temannya.
Dan tentu saja rekaman terakhir adalah bagaimana kejadian sebenarnya saat Fahrul menghantam dada Gathbiyya lebih dulu. Gadis kecil itu menahan menerima pukulan di selangka kirinya dari kepalan tangan Fahrul. Terlihat di situ Gathbiyya sedikit terhuyung tapi langsung mengambil kuda-kuda agar tak roboh. Papa Fahrul yang belajar ilmu taekwondo kaget melihat kuda-kuda Biyya yang kokoh.
Mama dan papa Fahrul melihat putra mereka yang dua kali menyerang Biyya lebih dulu. Lalu Gathbiyy langsung mengambil tangan Fahrul dan membantingnya dengan sangat ringan. Orang tua Fahrul kaget melihat bagaimana dengan mudahnya Biyya membanting Fahrul seperti membanting sebuah bantal saja. Mereka juga sudah melihat bagaimana kelakuan Fahrul yang memang lebih dulu memanggil tak sopan bukan karena Biyya minta diberi jajan.
“Bapak sama Ibu lebih mementingkan uang jajan kan buat anak-anak. Itulah makanya mereka memberi alasan bahwa anak saya minta uang jajan.”
“Ibu mungkin tahu G & G PRODUCTION, itu milik istri saya. Bapak mungkin tahu PT ALKAVTA PRIMA MAJU, itu punya istri saya. Jadi kalau memang hanya uang jajan, insya Allah kami bisa memberikan buat keenam anak kami. Karena keenam anak kami sebenarnya sudah punya perusahaan masing-masing sejak 2 tahun lalu. Mereka sudah menjadi CEO sejak berusia lima tahun!” kata Adit dengan senyum mengejek. Mengejek bukan karena kekayaannya, tapi karena sepasang orang tua di depannya tak mendidik anak mereka dengan baik malahan menuduh dirinya yang tak becus mendidik Biyya. Tentu saja kata-kata Adit terakhir menikam kedua orang tua Fahrul.
“Saya kembalikan kalimat Ibu saat saya baru duduk tadi. Apa Anda tak bisa mendidik anak? Karena anak-anak saya kami didik untuk selalu jujur, menghormati kaum lemah atau yang lebih kecil dan terutama menghormati perempuan karena dari rahim perempuan kita lahir.”