
“Kalian mau tambah apa?” tanya Wika.
“Nggak Tante, cukup,” kata Tarida.
Wika menghabiskan lasagna yang dia pesan dengan santai.
“Opung kok lama ya?” tanya Icha.
“Itu opung di sana. Rupanya bertemu temannya,” tunjuk Wika. Mereka melihat opung sedang berbicara dengan seseorang diluar gerai.
Memang dari dalam tempat duduk mereka bisa melihat opung yang sedang bicara dengan seseorang di luar resto rupanya tadi sehabis terima telepon opung bertemu dengan rekannya.
Wika mengangguk pada opung dan opung pun langsung masuk begitu melihat kode dari Wika.
“Opung ketemu teman?” tanya Tarida.
“Oh itu tadi Opung tanya sama orang yang barusan Opung ajak bicara. Pas opung sedang terima telepon ada bapak-bapak yang cari anaknya karena anaknya hilang. Bapaknya sangat sedih,” kata opung.
“Makanya Opung tanya kok bisa hilang.”
“Anaknya pulang lebih dulu dari sekolah, karena pagi-pagi dia ngambek sama papanya. Jadi pas di jemput papanya anak, tersebut sudah tidak ada di sekolah.”
“Kasihan papanya sampai kalang kabut padahal papanya punya penyakit jantung. Opung bilang ke orang yang barusan kok bisa tahu papanya punya penyakit jantung.”
“Bapaknya nafasnya tersengal dia bilang dia sudah tidak kuat takut jatuh pingsan di jalan. Jadi barusan diberi minum dulu sebelum diantar pulang oleh orang-orang di sini. Diantar pulang pakai mobilnya, dia takut tidak berani mengemudikan mobil sendiri,” kata opung.
“Kasihan si bapak ya Opung,” kata Wika.
“Opung mau tambah sesuatu?” tanya Wika.
“Nggak Opung nggak mau tambah,” jawab inang Gultom atau Marion itu.
“Bagaimana kalau kita pesan buat bawa pulang ke rumah opung? Opung bawa apa? Saya soalnya mau pesan buat suami dan orang di rumah,” Wika pun memanggil pramusaji untuk menuliskan pesanan yang buat dibawa pulang opung dan dirinya. Opung hanya memesan bihun goreng untuk dibawa pulang.
Wika menambahkan dua cup besar es krim untuk Theresia dan Tarida bawa pulang.
‘Semoga misi kita berhasil,’ tulis Wika di grup darurat.
‘Tadi saya sudah bicara dengan anak-anak dan dilanjut dengan opung bersandiwara bahwa ada bapak yang cari anaknya yang hilang,’ lapor Wika selanjutnya. Rupanya pertemuan kali ini adalah skenario dari group darurat yang disetujui Sondang.
‘Ya semoga saja berhasil. Jadi besok kita bawa ke panti asuhan mereka sudah mulai terbuka pemikirannya,’ jawab Velove.
‘Semoga sebelum ke panti asuhan mereka sudah minta diantar ke rumah sakit untuk melihat papanya,’ kata Wika.
‘Aamiiin,’ jawab Velove.
Sepanjang jalan pulang Tarida maupun Theresia hanya diam terpaku. Mereka ingat cerita Wika bagaimana penyesalan kakaknya setelah sang bapak meninggal. Ternyata cinta papanya benar-benar ditunjukkan dengan memberikan sumsum buat anaknya. Tadi Wika memang bilang kita tidak tahu mengapa sang papa bisa punya istri lain selain mama kita. Pasti ada banyak persoalan yang anak-anak tidak tahu.
Apa pun penjelasan orang tua, pasti kita sudah apriori karena kita sudah marah. Begitu yang Wika katakan tadi. Tarida dan Theresia benar-benar berpikir ulang apakah benar papanya punya alasan tertentu yang mereka tak mengerti sehingga menikah lagi dengan Niken dan Priscilla?
‘Ternyata banyak tindakan orang tua yang aku belum tahu. Kasihan kakaknya Tante Wika sampai dia depresi dan akhirnya ikut meninggal,’ kata Icha dalam hatinya. Dia tentu tak ingin menghadapi penyesalan seperti itu kalau sampai sekarang papanya meninggal tentu dia akan menyesal juga seperti kakaknya Tante Wika.
‘Mama bilang biasanya setelah perut dipompa untuk membuang racun 12 jam kemudian pasien sadar. Ini sudah hampir 60 jam papa nggak sadar-sadar berarti masalahnya serius,’ kataTarida dalam hatinya. Dia jadi ketakutan bila papanya benar-benar meninggal dan dia akan menyesal seumur hidup seperti kakaknya Tante Wika tadi.Tarida benar-benar memikirkan semuanya dia jadi mulai ketakutan.