
Sepertinya kamu harus diskusi sama Fahrul atau Ajeng deh kalian punya permasalahan yang sama,” kata Dinda kepada Ilham. Saat ini dia sedang di kantor cabang yang di pimpin oleh Ilham.
“Kalau ke Ajeng, saya memang pernah beberapa kali diskusi Bu, tapi kalau ke Fahrul belum, karena saya tidak tahu ternyata dia punya bahasan yang sama dengan saya,” jawab Ilham.
“Grup chat five little star masih aktif enggak?” tanya Dinda.
“Masih Bu, tapi kan kalau untuk masalah ini kami nggak bahas di group karena kan setiap cabang beda-beda. Kalau memang Fahrul dan Ajeng sama, nanti saya bikin tim kecil lagi untuk khusus membahas ini aja,” jawab Ilham.
“Ya kamu bentuk tim kecil bersama Fahrul dan Ajeng, lalu kalian bisa bersinergi membentuk pasar baru, nanti biar Wika dan Santi beda dengan kalian,” jelas Dinda.
“Baik Bu nanti akan saya bahas dulu dengan Fahrul dan Ajeng secara personal. Mereka mau bikin tim baru atau kita bahas di grup besar saja,” kata Ilham.
“Kalau dibahas di grup besar, kasihan dua yang lain. Mereka jadi distorsi dengan fokus pekerjaannya sendiri. Jangan digabung, bilang aja suruh saya bentuk tim kecil,” jelas Dinda.
“Oke kalau Ibu bilang seperti itu, saya akan bilang ke Fahrul dan Ajeng agar kita bentuk tim kecil biar lebih spesifik pembahasannya.”
“Dan tak perlu bawa Shindu, walau di situ ada Ajeng. Karena Shindu nanti pembahasannya jadi melebar. Shindu biar di luar grup kalian,” kata Dinda mengenai status suaminya Ajeng tersebut. Lagi pula di puast peran Shindu sudah terlalu banyak.
“Enggak lah Bu. Saya nggak bahas dengan Pak Shindu, karena ini memang bukan masalah administrasi. Kalau dengan Pak Shindu saya agak sulit bahas sesuatu kalau di luar administrasi. Masalah ini lebih enak bicara dengan pak Adit karena lebih pas. Kalau dengan Pak Adit kan memang kita bicara soal pemasarannya,” jelas Ilham.
“Nah, kalau begitu coba kamu hubungi Pak Adit, tanya beliau bisa ikut nggak di grup itu. Jadi nggak usah personal nanti bahasnya langsung di grup. Saya yakin dia mau kalau kamu tanya Pak Adit mau nggak dimasukkan ke situ,” kata Dinda. Kalau bicara soal kantor tetap saja dia menyebut Adit sebagai Pak karena bukan kapasitas sebagai suaminya.
“Saya tunggu satu minggu dari sekarang ya perkembangan grup kalian dan saya tak perlu dimasukkan ke situ. Kamu laporan aja agar saya tak terlibat.”
“Siap Bu, semoga pak Adit mau membimbing kita dalam pemasaran kali ini.”
“Pasti dia mau lah karena itu kan memang dibawah divisi dia. Enggak mungkin nggak mau. Tapi saya tetap nggak akan bicara soal ini ke Pak Adit secara personal ya,” Dinda tak mau mencampur adukkan soal pekerjaan dengan rumah tangga.
“Kalau begitu saya pamit ya, yang penting sudah selesai masalah ini. Saya tinggal ke tempat cabang Santi dan Wika untuk membahas divisi mereka,” Dinda pun pamit pada Ilham.
“Iya Bu, terima kasih bimbingannya,” Ilham pun bangkit hendak mengantar Dinda menuju mobilnya.
“Eh salam juga buat Puspa. bagaimana dia sekarang?”
“Dia sekarang heboh Bu. Empat anak kami selalu jadi prioritas utamanya sehingga kadang saya juga cemburu,” kata Ilham sambil tersenyum mengingat 4 anaknya.
“Ingat jangan karena dia sibuk dengan 4 anak kalian. kamu langsung cari yang lain. Bila itu terjadi kamu saya sunat habis,” canda Dinda.
“Enggak lah Bu. Buat saya dan Puspa, anak-anak adalah prioritas kami. Jadi kalau Puspa konsen ke anak penuh, saya tidak akan marah. Saya malah menunjang dia karena itu seharusnya tugas saya yang di ringankan oleh dia,” jelas Ilham dengan penuh syukur.