
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Seperti biasa hari Senin pagi Dinda dan Adit mengantar anak-anak sekolah. Adit ikut Dinda ke mana pun, dia tidak mau melepaskan Dinda menyetir mobil. Kalau saat ini Adit bilang Dinda enggak boleh bawa mobil sendiri karena hamil, tentu akan ketahuan Eddy. Padahal mereka belum membocorkan tentang kehamilan Dinda. Jadi Adit beralasan dia dan Dinda masih kangen terhadap si kembar.
“Yank, anak-anak enggak boleh ya dibawa ke kantor?” tanya Adit saat mereka sedang di ruang kelas si kembar.
“Enggak lah Yah. Kalau mereka dibawa ke kantor nanti jadi pegang sana pegang sini. Memang tangan orang-orang itu bersih? Belum lagi ada yang gemes menciuminya. Kita mau ngelarang enggak enak kan namanya budaya sini. Enggak ditegur kita kesal anak kita dijadikan boneka,” kata Dinda.
“Jadi lebih baik kita simpan aja anak-anak di rumah lebih aman,” jelas Dinda.
“Tapi keburu enggak? Kan ada jadwal rapat,” Adit mengingatkan Dinda jadwal rapat kantor hari ini.
“Kenapa enggak keburu? Kan rapat jam 01.00 habis makan siang. Dan jam 4 sore aku ada jadwal lain di rumah, kenapa jadi enggak keburu?”
“Tapi Mas pengen makan sate kambing tempat kita makan bertiga Papa dulu. Waktu kamu lagi marah sama Mas. Inget enggak tempatnya?” tanya Adit.
“Inget lah. Mas ngidam itu?” tanya Dinda, dia mulai curiga Adit mulai ngidam kembali.
“Dari semalam pengen banget itu, tapi kalau yang sekarang ini bisa aku suruh tunda kalau kepengen. Enggak seperti yang dulu harus saat itu juga terpenuhi,” kata Adit. Dinda tersenyum saja mendengar bahwa suaminya mulai ngidam.
“Ya wis nanti habis antar anak-anak kita langsung makan di situ jadi rapat kita udah kenyang. Papa kita bawain aja,” jawab Dinda. Dinda mengerti bagaimana ngidamnya Adit.
“Alhamdulillah. Terima kasih ya Yank kamu mau menuhin keinginan aku,” jawab Adit dengan rona bahagia.
“Bukan keinginan kamu kan? Keinginan anakku,” jawab Dinda.
“Eh iya anak kita. Lupa, aku pikir ini punya aku aja.”
“Lah kamu gimana kamu bisa punya anak kalau enggak ada bibitku?” jawab Adit dengan sombong.
“Cie Cie yang punya bibit,” goda Dinda.
“Jangan ingetin soal itu Yank,” pinta Adit. Untung mereka dulu periksa kesuburan. Kalau tidak tentu dia akan terus terikat pada Shalimah karena ada Bram dan menganggap Dinda perempuan mandul.
“Ssttt berisik, ganggu anak-anak kita,” Dinda mengingatkan Adit agar menurunkan volume bicaranya.
Mereka lalu kembali memperhatikan kedua putranya yang sedang bersosialisasi dengan teman-teman juga para gurunya.
‘*Aku enggak nyangka aku bisa punya kesempatan seperti ini. Memandang anak-anakku belajar di sekolah. Dulu aku enggak pernah berpikir bahwa anak-anak di sekolahkan dari umur 6 bulan*.’
‘*Kalau aku berpikir begitu, dulu pasti Bram sudah aku sekolahkan. Tapi memang Shalimah nya aja yang enggak pernah ngurusin anak. Pasti Bram akan lebih bahagia bila sempat sekolah karena ada temannya tidak seperti waktu di rumah tanpa touch dari ibunya. Aku bicara pun hanya sesekali*.’
‘*Kasihan anak itu semoga sekarang dia bahagia. Bahkan Shalimah tak pernah berniat aqiqah atau membuatkan akta kelahiran. Aku juga tak pernah berpikir tentang kesejahteraan anak itu selain yang diminta Shalimah yaitu mobil dan rumah. Andai Shalimah minta dibuatkan akta atau aqiqah, demi anak pasti akan aku lakukan*!’
‘*Apa Aku kangen Bram? Enggak juga sih, karena kebetulan aja Aku lagi ingat*.’ Adit lalu kembali memperhatikan kedua putra kandungnya.
Putra yang sejak bayi dia pegang, dia ganti kan dia diapersnya. Benar-benar tak menyangka dia bisa mengalami fase seperti ini fase menjadi Ayah bagi keduanya dan sekarang akan menjadi tiga baby.
biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.