
Inang mengirim voice note ke Sondang yang mengatakan dia barusan mendengar Gultom lapor pada Pak RT bahwa perempuan tadi itu tiap pagi sengaja menunggu di depan pintu mobilnya. Inang juga melaporkan tiap hari perempuan tersebut nunggu Gultom pulang kantor lalu berupaya ikut masuk rumah Gultom. Selain itu inang juga lapor bahwa selama ini Gultom tersiksa dengan kelakuan perempuan tak benar itu karena dia menunggu di depan pintu masuk setiap Gultom pulang kerja.
Inang bercerita juga cara Gultom menghindari perempuan itu masuk rumahnya yaitu nongkrong di pos keamanan menunggu sampai bisa masuk rumah dengan aman. Atau Gultom minta diantar oleh satpam agar bisa masuk rumah. Inang memastikan Gultom memang benar-benar tak ada hubungan apa pun dengan perempuan itu.
“Maaf Inang, aku baru buka pesan. Tapi sudah terlambat. Tadi aku langsung jemput anak-anak di sekolah. Hari ini anak-anak tidak ikut mobil jemputan dan aku sudah ceritakan pada anak-anak semua biar anak-anak yang urus. Aku tak ada urusan lagi dengan Gultom. Jadi tak perlulah Inang susah-susah bicara dengan aku. Karena kuncinya bukan di aku. Tapi di anak-anak,” jawab Sondang kepada mantan mertuanya tersebut. Tentu saja inang tak bisa menyalahkan Sondang.
“Terserahlah! Ucok hanya tinggal terima nasib. Karena kenyataannya memang seperti itu. Dia yang terlalu mudah mendekati perempuan seperti yang tadi Sondang bilang. Beli pulsa saja langsung kecantol sama Pratiwi, lihat orang di gereja langsung kecantol dengan Niken dan Pricilla,” ucap inang.
Inang yakin kalau awalnya Gultom tidak manis-manis pada ibu Neni maka tak akan seperti ini. Karena Gultom bersikap manis, lalu Neni jadi merasa ada harapan. Sehingga ingin pendekatan lebih lanjut. Mungkin itu yang menjadi awal Neni sangat berharap menjadi perempuan yang special buat Gultom.
Saat ini Gultom sedang tidur di kamarnya, Marion prihatin terhadap nasib anak tunggalnya tersebut. Sekarang mereka hanya tinggal berdua. Inang pun sama-sama anak tunggal, kalau suaminya tiga bersaudara tetapi laki-laki sendiri. Jadi Tobing memang hanya berharap dapat penerus dari Gultom. Ternyata Gultom pun tak punya anak lelaki.
Walaupun Gultom tak punya anak lelaki, inang tak berharap Gultom selingkuh untuk mencari anak lelaki. Untungnya dari perselingkuhan Gultom tak ada anak lelaki. Dan perselingkuhan Gultom bukan untuk cari anak lelaki. Dia hanya sekedar bermain saja. Tapi bermain yang kebablasan. Sekarang itu menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
“Tidak!" teriak Gultom. Inang langsung lompat dan keluar dari kamarnya. Dia masuk ke kamar putranya yang barusan berteriak.
“Eh kamu kenapa Ucok? Ucok bangun. Kamu kenapa?” inang mengguncang pelan tubuh putranya untuk membangunkan putranya yang rupanya bermimpi buruk sehingga berteriak.
Inang hanya diam, dia memberi tissue pada putranya. Rupanya Gultom benar-benar trauma terhadap ancaman anak-anaknya. Tapi anak-anak juga tidak bisa disalahkan, karena mereka sangat sakit hati pada papanya.
Inang yakin, apabila memang anak-anak tak memberi kesempatan lagi pasti Gultom akan bu-nuh diri lebih keras. Inang yakin tak akan mungkin tertolong lagi karena sudah sangat putus asa.
“Sabar ini kamu minum,” kata inang. Dia memberikan air putih. Tadi dia belum bawa air dan botol ke dalam kamar ini. Sekarang inang membawa satu botol air putih dan gelas serta tutupnya untuk selalu standby di kamar.
Gultom meminum air yang diberikan oleh ibunya dia sungguh sangat ketakutan.
‘Sepertinya aku harus bicara pada orang yang mengerti bagaimana ketakutannya Gultom terhadap perempuan yang mendekati. Aku harus lapor pada Pak RT kalau Gultom trauma pada perempuan karena takut ancaman anaknya. Tapi tak mungkin aku menceritakan aib atau keburukan anakku. Aku harus mencari kata yang lebih apik dan tertata,’ kata inang dalam hati. Dia tak mau anaknya kembali jatuh ke lubang yang sangat dalam.
Sondang hanya tersenyum kecut, memang tadi dia menjemput anak-anak. Tapi tak mengatakan soal adanya perempuan itu. Dia hanya memberi tekanan bahwa dia tak main-main. Biar saja sekarang Gultom dan inang berpikir keras bagaimana caranya masalah tersebut terselesaikan. Dia tak ingin anak-anak sakit hati dengan kenyataan papanya kembali melukai mereka.
Karena anak-anak sudah bilang kalau sampai papanya bertemu dengan dua tante yang lama itu atau tante baru maka mereka akan pergi artinya Gultom tinggal memilih punya istri baru atau anak-anaknya!
Itu sudah pagar yang anak-anak berikan. Dengan kata lain anak-anak tak ingin Gultom menikah lagi. Suatu pagar yang sangat kejam buat seorang lelaki seperti mantan suaminya itu.