
Dinda tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengusap punggung telapak tangan suaminya pelan Dinda tahu dia tak boleh gampang iba. Sebagai seorang ibu dia pasti sama seperti mama Ina, akan terenyuh dengan nasib 3 anak Shalimah bila kedua orang tuanya ditangkap interpol. Tapi Dinda juga harus ingat BIBIT itu tidak bisa dianggap main-main. Buktinya ibunya Shalimah penjaja apem, sama Shalimah pun seperti itu. Padahal Shalimah dididik oleh mama Ina sama persis seperti Adit. Tapi karena bibitnya memang tidak baik, jadi hasilnya ya balik arah.
Terlebih anak-anaknya Shalimah. Bibitnya dua-duanya buruk, jadi kemungkinan untuk menjadi pohon yang buruk itu lebih besar. Walau bisa juga menjadi pohon yang bagus. Memang harus hati-hati. Dia tak mau asal memberi atensi atau sayang. Kalau pun harus menolong, dia akan memberi pagar tinggi agar mereka tidak masuk ke dalam kehidupannya. Tapi rasanya sih lebih baik tak usah ikut-ikut mencari permasalahan baru dengan menolong. Nanti kalau yang ditolong tidak terima karena merasa pertolongannya kurang maksimal, malah lebih buruk. Jadi memang sebaiknya biarkan saja anak-anak itu.
Hampir tengah malam Dinda dan Radite baru tiba di hotel. Di tangan mereka ada sedikit belanjaan yang mereka beli. Pastinya buat anak-anak juga para pembantu dan untuk Eddy. Bahkan untuk diri mereka berdua mereka belum belanja apa pun. Kalau untuk semua teman termasuk para pegawai di usahanya Dinda, pasti belanjaannya sudah dicampur dengan barang yang langsung dikirim dengan ekspedisi. Tidak dibawa di koper oleh mereka.
Yang di bawa hanya yang untuk keluarga yang satu rumah saja, juga untuk pembantu yang satu rumah. Kalau untuk yang lainnya semua dikirim dengan ekspedisi termasuk barang belanjaan dagangan.
Ternyata saat itu di lobi mereka sudah ditunggu oleh Steven atau Marcus McKenzie dan Shalimah atau Hilma McKenzie.
“Kami ingin bicara,” pinta Steven.
“Memang masih ada yang perlu kita bicarakan?” tanya Adit kalem.
“Apa maksudmu mengatakan semua itu di depan anak-anak aku?” kata Steven.
“Apakah kamu begitu bodoh sehingga tidak mengerti apa maksud aku? Jelas aku ingin mereka tahu bagaimana licik dan kotornya kalian. Aku ingin anak itu tahu bahwa bapaknya tidak berani mengakui kalau anak yang dikandung oleh sang ibu adalah benihnya. Mungkin karena bapaknya takut dengan Sherly istri sahnya. Atau yang pasti karena dia ragu bayi itu milik siapa, sebab perempuan yang dia tidurin itu adalah WC umum. Jadi siapa pun bisa buang sampah di situ.”
Steven kaget Adit tahu tentang Sherly. Juga tentang keraguan atas David sebelum dia test DNA terlebih dahulu.
“Lalu mengapa anak-anak harus tahu?” kata Shalimah dengan bergetar.
“Agar dia tahu betapa sakitnya hati istriku ketika aku lebih perhatian pada anak orang daripada dia yang sedang hamil. Bahkan aku sampai tidak tahu saat itu dia sedang hamil karena sibuk di rengeki kalau Bram kehabisan su5u atau diapers dan ibunya belum makan sehingga tiap siang aku harus membawakan dia makanan padahal uang belanja sudah aku gelontorkan tiap minggu. Tapi sengaja tak dia belikan makanan agar aku wajib datang. Padahal setiap malam dia dapat setoran dari lelaki lain. Tentu setoran atas bawah, tidak seperti aku yang siang datang hanya setor jatah perut saja.”
Shalimah diam ditelan-jangi seperti itu oleh Adit. Memang dia tiap minggu dapat uang dari Adit tapi bukan dia gunakan untuk makannya. Dan setiap malam dia dapat uang serta setoran nafsunya Steven.
“Aku bilang itu juga agar anak itu juga tahu demi dirinya aku sampai korupsi untuk beli rumah atas permintaan ibunya yang mengatas namakan anak itu. Beli mobil juga katanya untuk anak tersebut. Sedangkan istri sahku tidak pernah aku belikan apa pun. Karena kamu ngajarin aku, istri sah itu banyak duit dan tak perlu aku nafkahi. Lebih baik membeli mobil dan rumah untuk anak itu saja. Istriku tak perlu dibelikan apa pun. Itu kan yang kamu doktrin pada aku saat itu dan aku sedemikian bodoh karena merasa senang punya anak. Sehingga aku lupa kewajibanku terhadap istri aku,” jawab Adit lagi.
“Tapi seharusnya kan tidak seperti itu. Kamu bicara depan anak-anakku,” geram Steven.
“Bisa kamu ajarkan suamiku apa yang seharusnya dia katakan kepada anak-anakmu?” tanya Dinda tenang.