
“Maaf ya kak Rida. Kamu tak boleh seperti itu pada tante Niken,” begitu yang Niken ucapkan pada Tarida karena Tarida langsung buang muka begitu melihat dirinya di depan toko buku di sebuah mall besar dekat sekolah Tarida.
“Tante itu nggak salah loh. Yang salah papa kamu, kenapa dia bilang mamamu mandul, sehingga Tante mau jadi istrinya,” kata Niken yang memang pemikirannya entah bagaimana, bercerita hal seperti itu pada anak usia 12 tahun yang baru duduk kelas 6 SD.
“Lalu kalau mamaku mandul, Tante mau jadi istri kedua dengan diam-diam? Kalau memang Tante mau jadi istri kedua, harusnya Tante ketemuin mama dulu. Tanya mama benar apa nggak. Itu kalau Tante pintar. Sayangnya Tante nggak pintar. Makanya mau dibodoh-bodohin sama orang laki,” kata Tarida langsung teriak. Semua orang mendengarnya anak 12 tahun itu sudah bisa berkata demikian.
“Ternyata pinteran anak SD ya daripada ibu-ibu yang lagi hamil!” begitu cibiran orang terhadap Niken.
Tarida langsung pulang tak jadi beli alat tulis. Sampai di rumah dia langsung mengurung diri di kamar.
Tadi pagi Tarida langsung menghubungi papanya dengan marah-marah. Tarida menyebutkan bahwa Gultom adalah penipu dan meminta Gultom untuk mengajari Niken agar tak usah menggubris Tarida dan Theresia karena mereka adalah Niken perempuan tidak benar. Begitu yang Tarida bilang.
‘Bagaimana mungkin anak kecil begitu mengatakan perempuan dewasa dengan tidak benar kalau tidak mendapat info secara langsung?’ pikir Gultom.
“Memangnya Tante Niken bilang apa?” tanya Gultom. Padahal saat menerima panggilan Tarida tadi dia sangat senang mengira anaknya ingin bertemu dengan dirinya.
“Tante Niken bilang dia tidak bersalah jadi istri Papa, karena Papa menipunya dengan mengatakan bahwa mamaku mandul. Tapi kalau memang mama mandul harusnya tante Niken itu temuin mama dulu minta izin tapi kan Tante Niken enggak jadi aku benci papa sama tante Niken. Jangan lagi Papa harap bisa bertemu aku. Aku juga akan melarang Icha buat ketemu Papa. Papa terlalu jahat,” kata Tarida. Dia langsung memutus pembicaraan dan mematikan telepon genggamnya.
Sondang dan inang langsung bertanya-tanya ada apa kok tiba-tiba Tarida ganti nomor. Pasti berhubungan erat dengan Gultom karena mereka mendapat pesan Gultom tak boleh tahu nomor baru gadis remaja itu.
“Aku nggak tahu Inang. Tadi pagi dia telepon aku marah-marah katanya kemarin ketemu sama Niken dan Niken tidak suka kalau kak Rida membenci dirinya. Niken bilang yang salah adalah aku karena dia ditipu dengan mengatakan Sondang mandul. Tapi aku nggak mengerti mengapa Niken mengatakan seperti itu dan apa yang dikatakan Tarida selanjutnya,” Gultom menjawab pertanyaan ibunya mengenai apa yang terjadi antara dirinya dengan Tarida.
“Istri kau itu memang tidak punya otak rupanya. Bicara seperti itu pada anak umur 12 tahun. Memang benar-benar kau juga tak punya otak sehingga mau sama perempuan seperti itu. pantas dia mau kau tipu dengan mengatakan Sondang mandul sehingga mau jadi istri simpananmu. Kalau pun istrimu mandul seharusnya dia tidak jadi istri simpanan. Tapi karena memang perempuan bodoh ya mau aja ditipu lelaki sepertimu. Pantas dia berantem sama anak kecil umur 12 tahun. Aku tahulah sekarang mengapa Tarida tak menginginkan nomor barunya kau ketahui,” jawab inang.
“Apa dia ganti nomor?” tanya Gultom.
“Ya dia ganti nomor karena dia tidak mau kau tahu lagi nomor teleponnya. Dia juga membelikan nomor baru untuk Icha. Dia juga bilang jangan pernah kau hubungi lagi dia apa pun alasannya. Buat Tarida kamu sudah tidak ada karena dia juga ragu siapa papanya sebab mamanya mandul tapi bisa hamil.” ucap inang Gultom.
Gultom makin terpuruk ternyata seperti dugaan psikolog, Tarida dan Theresia terluka mengetahui Gultom menikahi Niken karena mengatakan bahwa ibu mereka mandul. Kebetulan kemarin Tarida bertemu dengan Niken dan Niken minta maaf pada Tarida karena Tarida membuang muka.
Sekarang imbas semua itu, Gultom dicampakkan oleh kedua anak perempuannya!