GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PENJELASAN GULTOM TENTANG NENI



“Inang menjadi penasaran kenapa Neni sampai seperti itu?” tanya Marion pada Gultom


“Waktu aku baru masuk di sini Opung. Sebagai penghuni baru aku keliling waktu itu ditemani Pak satpam, karena aku memang tanya tempat Pak RT. Awalnya aku ke tempat Pak RT dulu lah. Lapor jati diri bahwa aku orang baru yang ngontrak di sini.”


“Habis itu Pak RT menyarankan aku untuk saling sapa dengan tetangga kanan kiri rumahku, juga depan belakang. Tapi karena belakang aku tidak ada penduduk selain tembok batas perumahan, aku hanya ke kanan kiri rumahku, serta ke tetangga depan.”


“Aku berkenalan lah dengan Neni mengatakan bahwa aku baru aja ngontrak di rumah ini.”


“Neni tanya kok sendirian Pak, mana anak istrinya biar saya kenalan.”


“Aku bilang lah, aku ini duda dua anak. Mantan istri dan anakku ada di perumahan Candisari. Aku nggak bohong kan? Aku bilang anak istriku di Candisari.”


“Waduh maaf Pak, begitu yang Neni bilang saat tahu aku duda.”


“Ya putri saya sudah kelas 6 dan kelas 4 SD, ucapku begitu Opung.”


“Silakan masuk Pak, dia mengajak aku masuk lah Inang. Sebagai orang baru tentu aja aku masuk. Aku ajak Pak satpam masuk lalu dia bikinkan kami kopi”


“Tak lama kami di sana Opung. Hanya basa-basi. Sehabis minum kopi kami pulang.”


“Pak satpam membantu aku menyapu dan membereskan barang-barang di sini. Belum ada apa pun. Aku dan Pak satpam beli lampu, sapu dan alat pel juga beberapa ember dan kami bersih-bersih.”


“Sudah hanya itu aja Opung, aku hanya mengatakan aku duda dua anak.”


“Tiap pagi dia menyapaku saat aku mau berangkat kantor. Aku hanya jawab anggukan atau kadang hanya iya, jawaban pendek saja.”


“Suatu kali dia menghampiriku, saat aku sedang menutup pintu pagar. Pak Tobing, saya ikut ke depan ya. Sampai pasar. Aku pikir dia tidak tiap hari ke pasar karena kan di perumahan ini sejak jam 05.30 atau jam 06.00 sudah banyak tukang sayur lewat baik yang dengan gerobak sepeda maupun yang pakai motor. Saat itu aku yakin seorang ibu itu pergi ke pasar pasti karena ingin beli sesuatu yang di tukang sayur tak ada, jadi aku perbolehkan lah dia ikut ke pasar.”


“Ternyata esoknya dan esoknya serta esoknya, dia tetap ikut ke pasar! Kalau dia hanya sendirian, ngapain tiap hari ke pasar? Kenapa dia nggak belanja ke pasar sekalian untuk satu minggu? Kan di rumah ada kulkas itu yang aku pikir opung.”


“Sejak hari kedua dia ikut, aku sudah mulai membentengi diri. Aku bicara hanya seperlunya dan tidak mau bercerita apa pun lagi. Lalu di minggu kedua aku selalu menghindar entah berangkat lebih pagi atau aku kadang naik ojek online kalau berangkat kerja!”


“Kalau tidak, dia pasti sudah menunggu di pintu mobilku. Bukan menunggu di pintu pagarnya lagi. Dan malam juga dia selalu menunggu aku pulang kerja ingin ikut masuk ke rumah, tapi aku selalu bisa menghindarinya.”


“Apa kamu nggak bohong?” kata inang.


“Buat apalah aku bohong Opung. Aku sudah pernah salah langkah. Sekarang aku lagi bingung dengan anak-anakku. Aku nggak mau lah bohong lagi,” kata Gultom.


“Aku kan selalu bicara jujur bahkan kepada mantan istriku yang dua itu. Satu kebohonganku yaitu tentang kondisi Sondang yang tidak bisa punya anak. Tapi kalau untuk yang lainnya aku jujur. Aku bilang kalau kita menikah tidak akan ada pesta apa pun dan itu memang aku lakukan tidak ada. Mereka setuju ya terjadilah pernikahan kami.”


“Aku juga bilang kalau menikah uang nafkah mereka hanya dari uang sampingan, karena uang gaji semua aku berikan pada Sondang dan mereka terima ya sudah. Aku tidak menjanjikan harta berlimpah karena aku tahu tak mungkin aku ngambil uang gaji untuk Sondang dan anak-anak dan mereka mau ya sudah. Mereka janji tak menuntut apa pun selain yang aku berikan. Apa aku salah?”


“Kubilang pada mereka aku tak akan pernah tidur bermalam di rumah mereka karena aku tak ingin istriku tahu. Jadi kami memang bertemu hanya jam kantor dan mereka mau. Itu saja opung kesalahanku. Berbohong hanya tentang kondisi Sondang. Selainnya aku tidak bohong. Jadi saat ini aku juga nggak bohong sama opung bagaimana awalnya Neni mendekati aku. Karena aku sama sekali tak pernah mendekatinya. Aku baru trauma dengan perempuan selain istriku. Ngapain lagi aku cari masalah sama Neni? Kalau aku mau main perempuan lagi, jelas-jelas ada Pratiwi yang memang sudah menerimaku dan dia selera aku, bukan seperti Neni itu,” kata Gultom. Dalam hatinya inang membenarkan semua perkataan putranya.