GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BERSANDIWARA



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Kenapa Bu? Kok enggak boleh saya bawa kopi yang anda tadi berikan pada suami saya?” desak Dinda karena Adit berhasil menyelamatkan kopi secara refleks supaya tidak jatuh. Kopi di tangan Adit langsung diambil Dinda dan dia tuang ke gelas yang dia bawa dari rumah.


Meliana sangat pucat.


“Kalau ibu perempuan baik-baik enggak begitu caranya mau ngerebut suami orang.” Dinda langsung keluar tanpa bicara apa pun.


Bagas dan Adit tak percaya bahwa Dinda sudah menyiapkan gelas kosong untuk sample. Rupanya Dinda sudah prepare semuanya. Instingnya sebagai seorang istri sangat tajam.


Meliana terduduk lesu kalau sampai Dinda membuka aibnya habislah nama yayasan yang dibangun oleh kakeknya.


“Aku harus mencegah perempuan itu menghancurkan nama yayasanku, tapi gimana caranya?”


“Kalau aku main kotor lagi, pasti dia lebih pintar dari aku karena dia memang lebih hebat dan berpengalaman mencegah suaminya terjatuh pada perempuan yang ingin merebut suaminya. Dia istri yang gigih.”


“Aku harus merendah dan minta maaf. Tak ada pilihan lain.”


“Mas mau ke kantor atau bagaimana? Aku pulang sendiri enggak apa apa kok,” kata Dinda di tempat parkir.


“Aku antar kamu dulu lah, enggak mungkin aku tinggalin kamu di sini,” Kata Adit yang masih tak bisa bicara soal kejadian dengan Meliana barusan. Bila Dinda telat masuk tentu dia sudah menyeruput sedikit kopi sebagai penghormatan pada nyonya rumah.


“Atau kamu mau ikut ke kantor?” pancing Adit.


“Enggak bisa Mas kalau kita langsung kantor. Anak-anak enggak disiapkan untuk ditinggal lama. Aku enggak berani,” jelas Dinda.


“Mas balik langsung ke kantor aja, aku enggak apa apa kok. Di rumah juga enggak usah turun. Nanti anak-anak rewel kalau lihat ayahnya sudah pulang lalu pergi lagi,” saran Dinda saat mereka hampir tiba di ruko.


“Oke,” kata Adit. Dia setuju hanya mengantar Dinda sampai depan ruko tidak sampai di atas.


“Mas turun dulu,” pinta Dinda ketika tiba di ruko. Rupanya dia langsung berubah pikiran ketika melihat ada mobilnya Wahid.


“Nanti anak-anak rewel,” bantah Adit. Dia tak ingin anak-anak menangis.


“Kita enggak usah ke atas, kalau lagi operasional toko anak-anak enggak pernah boleh main di bawah. Karena enggak baik, mereka nanti akan dicubit-cubit gemas oleh pembeli dan aku enggak suka itu,” kata Dinda.


Adit melihat mobil sport yang pernah dia lihat ketika dia membuntuti Dinda pertama kali dulu.


‘Apa Dinda ingin memperkenalkan calon papanya naka-anak padaku?’ Adit panas dingin bertemu dengan kompetitornya. Sungguh dia belum sanggup berpisah dengan Dinda.


Bukan belum sanggup. Malah tak akan pernah sanggup.


“Wa’alaykum salam pak Wahid. Apa kabar?” balas Dinda ramah. Adit makin ketar ketir melihat kedekatan mereka.


‘Tapi koq sapaannya masih kaku gitu ya? Masih panggil pak dan bu?’ batin Adit.


“Alhamdulillah baik, saya pikir Bu Dinda pergi. Kayanya hari ini anak-anak enggak sekolah kan?” kata Wahid yang hapal jadwal sekolah anak-anak.


“Oh saya pergi memang mengurus pekerjaan saya pak Wahid. Kenalkan ini suami saya. Dia baru kembali dari Australia setelah 5 bulan di sana,” kata Dinda pada Wahid.


Wahid terpaku mendengar Dinda masih ada suaminya. Yang dia dengar Dinda adalah seorang janda.


Pupus sudah harapan Wahid untuk mengejar cintanya Dinda. Tapi dia belum percaya dia pasti akan menyelidiki lebih jauh.


‘Enggak segampang itu kamu menipu aku. Aku akan selidiki semuanya,’ kata Wahid dalam hatinya sambil bersalaman dengan Adit.


“Ayah mau langsung kerja?” tanya Dinda pada Adit.


“Padahal males sih, tapi ya sudahlah, Ayah kerja dulu ya.” balas Adit.


Dinda mengambil tangan Adit dan mencium punggung tangan Adit. Adit mengambil kepala Dinda dan mengecup keningnya seperti kebiasaan mereka ketika masih suami istri beneran. Dinda tak keberatan akan sandiwara itu.


“Mari pak Wahid tadi kami habis meeting, sekarang saya harus balik ke kantor mengantarkan berkas hasil meeting tadi. Bu Dinda biar bersama anak-anak,” pamit Adit pada Wahid.


“Loh kalian satu kantor?” tanya Wahid.


“Dia anak pemilik perusahaan,” jawab Dinda santai.


“Tapi semua saham atas nama Bu Dinda kok,” kata Adit santai.


“Jadi dia cinta ke saya bukan karena saya anak pengusaha. Harta tak ada artinya buat seorang Dinda Suryani,” kata Adit untuk menepis kalau Dinda memilihnya karena harta yang dia miliki.


“Ayah bisa aja ah,” tampik Dinda dengan senyum manis.


“Kenyataan toh, kamu cinta sama aku bukan karena harta. Tapi karena diriku kan?” kata Adit tersenyum simpul. Dinda mencubit lengan Adit dan mendorong Adit supaya segera keluar.


Wahid tak percaya melihat semua kemesraan itu.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok