
“Astagfirullah,” kata Wika mengetahui Farouq ditinggalkan di mall dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Five little star melihat video yang Halimi bikin saat menemukan Farouq di ban mobilnya.
Detektif mendapatkan video itu dari satpam mall. Detektif mengirimnya pada Adit.
Dari Adit lah Dinda dan Ajat mendapat info itu, tentu saja Santi trenyuh melihat kondisi putranya saat Halimi temukan. Detektif juga sudah mendapatkan izin untuk meminta rekaman CCTV di keseluruhan area pada hari kejadian. Sekarang mereka sedang memantau untuk mengamati rekaman dari kamera mana yang akan mereka potong guna melaporkan pada Eddy dan Adit.
Tentu saja detektif bekerja sangat hati-hati dan teliti agar bisa mendapat hasil maksimal
Sudah dua hari sejak ditemukannya Farouq. Kondisinya di rumah sakit bukan semakin baik tapi sangat lemah dan semakin lemah. Santi yang sudah mulai sehat jadi malah khawatir melihat kondisi putranya. Santi berupaya memancing Farouq bicara tapi anak itu hanya memandang dia sendu tanpa pernah mau ngomong apa pun.
“Abang enggak sayang Mami? Koq diam saja sih?” bisik Santi. Dia sangat terluka melihat Farouq seperti itu. Farouq hanya bicara saat bertemu Ajat saja. Sesudah ini sampai saat ini dia diam.
Setiap pulang sekolah Mischa datang menengok adiknya. Kalau Mischa datang Farouq hanya memandang kakaknya. Kadang tersenyum sedikit kadang hanya melihat saja tak pernah lagi dia berkata-kata.
Semua merasa sedih dengan kondisi Farouq.
“Ini Mami belikan Abang coklat, mau?” pancing Santi. Dia berikan dua batang coklat pada Farouq dan satu untuk Mischa berdua dengan dirinya.
Dokter jiwa sudah dipanggil untuk membantu pemulihan Farouq, tapi kondisi tubuhnya memang semakin lama semakin menurun.
Tanpa menjawab Farouq menerima coklat dari Santi tapi dia letakan saja di sisi tubuhnya. Tak dia angkat tangannya untuk mengupas bungkus permen seperti biasa.
“Kok kayak begini Pi?” bisik Santi pada Ajat menahan tangis. Santi membuka satu bungkus coklat, dia potong sedikit dan dia suami Farouq. Dan putranya membuka mulutnya, ada sedikit senyum di ujung bibirnya. Santi cukup senang melihat senyum itu.
Hari ini Farouq dicek keseluruhannya termasuk paru-paru dan lambungnya karena dokter mendeteksi ada kelainan di lambung dan paru-parunya.
“Kamu di mana?” tanya Adit pada Ajat.
“Di rumah sakit Bang,” jawab Ajat.
“Berdua Santi atau dengan siapa?” Tanya Adit.
“Diam stand by di sana. Aku dan papaku menuju ke sana,” kata Adit lagi.
“Baik Bang aku tunggu,” jawab Ajat.
“Semua orang tuamu juga mohon tunggu. Aku on the way,” jelas Adit lagi.
“Iya Bang.”
“Kenapa Pi?” tanya Santi. Dia tahu suaminya baru saja menerima telepon.
“Ini pak Adit sama Pak Eddy mau ke sini sama detektifnya. Mungkin dia mau memberitahu kamu bahwa mereka sudah selesai dalam mengurus masalah Farouq.” jawab Ajat.
“Oh iya nggak apa-apa. Kita tetap harus berterima kasih pada Pak Eddy dan Pak Adit. Tanpa kita minta mereka membantu tanpa pamrih, balas Santi.
“Tapi dia bilang Papa dan Mama juga Ayah dan Ibu suruh nunggu dia. Jadi mohon Papa, Mama, Ayah dan Ibu tunggu dulu sebentar ya. Karena yang menyewa detektif akan datang ke sini,” jelas Ajat.
“Ya nggak apa-apa. Kami akan menunggu. Mereka sudah membantu kita masak kita nggak mau nunggu. Lagian kita nggak punya anak kecil yang ditinggal di rumah, sehingga nggak perlu khawatir,” kata ibunya Santi.
“Assalamu’alaikum,” Adit dan Eddy bersamaan memberi salam. Mereka telah tiba di ruang rawat Farouq.
Adit dan Eddy sudah kenal dengan ayah dan Ibu Santi juga dengan papa dan mama Ajat karena beberapa kali mereka ikut saat family gathering jadi mereka sudah kenal walau hanya selintas.
“Saya bingung mau bicara, tapi waktu kita mepet. Aduh bagaimana ya?” kata Adit setelah mereka berbasa basi bersalaman dan saling tukar khabar.
Pak Ajat saya yang bicara deh,” kata Eddy. Dia tahu Adit akan sulit mengatakan karena dia terbawa emosi.
“Tadi kami dari kantor polisi. Saya ditelepon oleh detektif team 2, kami tidak berani mengatakan apa pun. Sebaiknya Bapak dan Ibu melihat saja hasil rekaman polisi secara lengkap. Saya minta Pak Ajat mendampingi Bu Santi dengan baik. Karena ini sangat memukul jiwa anak saya Adit. Dia ayah 6 orang anak tak sanggup mendengar pengakuan ini. Adit dan Eddy memberikan ponsel mereka. Di sana ada rekaman resmi dari polisi bukan versi detektif yang hanya sepotong-sepotong.