
“Apakah suamiku harus mengatakan bahwa ibu mereka adalah yang terbaik? Yang bisa merebut hati anak pemilik perusahaan sehingga dengan entengnya menyuruh menikahi perempuan yang bodoh untuk menjadi boneka dan dia dengan santai tertawa melihat bapak dari anaknya ~karena saat itu dia mengakui Adit adalah bapak dari Bram~ untuk menikah dengan aku dan dia datang dengan santai.”
“Apa suamiku harus bilang ibunya adalah perempuan idaman sehingga membolehkan ayah anaknya menikah lagi di depan matanya? Itu yang suamiku harus bilang kepada anakmu? Atau mungkin anda punya wacana lain apa yang harus dikatakan suami aku kepada anak-anakmu?” tanya Dinda sinis.
“Mungkin aku harus mengatakan kepada anak-anakmu bagaimana liciknya dikau menipu istrimu memutarbalikkan fakta bahwa istrimu yang subur dan kamu yang mandul sehingga istrimu bisa kau setir selama 11 tahun pernikahanmu?” Markus terhenyak begitu mengetahui kalau Adit juga tahu kebohongannya terhadap istri sahnya dulu.
“Apa aku harus cerita ke anakmu bahwa kamu menikahi istrimu itu dulu hanya demi bisnis narkoba mu aman karena nama besar dan bersih keluarga istrimu begitu? Atau apa?” tanya Adit lagi.
“Jelaskan. Aku tunggu kalian bicara apa yang harus aku katakan kepada anak-anakmu!” tantang Adit.
Tentu saja Hilma dan Markus diam karena mereka tak bisa memberikan fakta yang seharusnya.
“Apa pun, seharusnya kamu tak perlu menceritakan pada anak-anak kami begitu,” sesal Hilma.
“Aku malah wanti-wanti anakmu agar bersiap-siap menjadi tulang punggung bagi dirinya dan adik-adiknya bila kalian berdua diciduk oleh interpol!”
“Apa kamu sejahat itu?” tanya Hilma kaget.
“Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu pada anakku?” Steven bicara keras.
“Itulah bodohnya kalian. Anak kalian untungnya tidak bodoh seperti itu. Anak kalian menemuiku dan bertanya siapa aku dan kuceritakan siapa aku, siapa ibunya, siapa ibuku yang memungut ibunya dan siapa ayah dari ibunya atau kakeknya karena kakeknya adalah sopir pribadiku.”
“Aku juga cerita ibunya adalah anak pela-cur sudah aku ceritakan pada anakmu apa kerjamu dulu saat jad simpananku! Tenang saja dia tahu kok dan dia bersiap untuk jadi tulang punggung bila papanya keciduk oleh interpol dan kalau papanya keciduk, ibunya juga kemungkinan besar terciduk. Tapi semua itu bukan laporanku sudah aku katakan kalau aku mau melapor 9 tahun lalu saat kami sedang berada di sini bersama papa pasti itu sudah dilakukan oleh papa. Tapi ternyata tidak kan? Papa hanya minta uang kami kembali, karena itu memang hak aku tapi untuk melaporkan itu bukan wewenang kami!”
Hilma dan Markus tak percaya ternyata David menemui Dinda dan Adit.
“Dan ingat, kalau terjadi apa-apa dengan kalian, aku tidak mau istriku memungut anak-anak kalian karena bibitnya saja sudah busuk. Kami tak mau anak-anak busuk itu menjadi anak asuh kami. Cukup banyak anak asuh di tangannya Dinda. Tapi tindakan aku bolehkan ditambah anak-anak dari kalian.”
“Sebagai info tambahan, kalian tahu ibunya Shalimah saja sudah menipu kami kasusnya ada di polisi, kalau kalian mau tahu. Jadi aku tidak mau memungut anak kalian yang ibu bapak dan neneknya itu adalah langganan polisi,” kata Adit lagi. Tentu saja Shalimah baru tahu kalau ibunya sudah bertindak tak tahu malu lagi.
“Kamu tentu selalu menghindarkan kalau dicari ibu kandungmu karena kamu malu punya ibu pela-cur dan kamu juga malu terhadap sepak terjangnya di dunia yang sama seperti yang kamu lakukan.”
“Sudah terlalu malam, kami bukan orang tak punya kerjaan seperti kalian yang bisa ongkang-ongkang kaki tinggal nunggu uang masuk. Kami ini bekerja. Kami ke sini bukan hanya sekadar jalan-jalan tapi kami bekerja,” kata Dinda. Tanpa pamit lebih lanjut dia menarik tangan Adit untuk kembali ke kamar mereka. Adit mengikuti langkah istrinya menuju lift.