GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
JADI SOPIR TAKSI ONLINE



“Opung bisa tinggal di rumahnya Gultom selama menemani dia recovery.” kata Sondang saat mendengar dari opung bahwa besok Gultom sudah boleh pulang.


“Besok Opung bawa saja baju yang agak banyakan sehingga langsung pulang ke rumah Gultom bersama dia,” lanjut Sondang.


“Aku akan antar Opung ke sana biar aku yang urus surat-surat administrasinya, Opung ngurusin saja barang-barang dia di dalam,” kata Sondang.


“Oke baik kalau seperti itu. Jadi besok Opung tidak perlu pulang kan?”


“Tak perlu lah. Pagi tak lama dari aku datang kan langsung urus surat-surat pulang. Opung nanti malah terlalu lama kalau bolak-balik saja. Nanti beberapa baju Opung aku ambilkan di rumah,” ucap Sondang.


“Setuju, seperti itu saja,” jawab opung. Mau tak mau dia harus mengurus Gultom di rumahnya, karena tak mungkin Gultom dibawa ke rumah Sondang.


Sekarang Sondang pun tak bisa bicara seenaknya, misalnya suruh saja dua mantan istrinya itu mengurus! Tak mungkin dia bicara seperti itu karena akan membuat kedua anaknya meradang, kalau sampai kejadian ada dua mantan istri Gultom itu datang lagi.


Sondang tentu saja senang lusa dia sudah bisa ke kantor lagi. Hari ini dia sudah lapor pada Adinda bahwa besok Gultom pulang sehingga lusa dia bisa masuk kantor seperti biasa. Jadwal kerjanya sudah mulai normal.


Sondang mengurus semua administrasi rumah sakitnya Gultom. Tak ada yang perlu dibayar, karena sejak dulu mereka mempunyai asuransi kesehatan. Semuanya tercover dengan asuransi tersebut. Setelah semua selesai lalu Sondang mengambilkan kursi roda. Dia berikan pada opung.


Opung menangani soal administrasi di dalam misalnya pemberian obat dan segala macam. Opung yang tangani, bukan Sondang. Dia tak mau menerima keterangan suster karena nanti kan harus diterapkan di rumah. Biar opung semua yang urus sebab yang menemani di rumah adalah opung.


Mereka pun pamit pada para suster. Semua tas Gultom juga tas barang-barang yang ada di kamar ditaruh di bawah kursi roda, juga di atas pangkuannya Gultom agar opung tidak berat. Sondang tidak mau mengangkat. Opung tinggal dorong kursi rodanya Gultom saja.


“Sebenarnya aku nggak perlu didorong begini Inang ,”kata Gultom. Tentu dengan bahasa daerah. Mereka kalau bicara bertiga mereka lebih banyak menggunakan bahasa daerah.


“Sudahlah diam kau. Ini cukup jauh. Nanti kamu lelah malah bisa bahaya,” jawab inang.


Gultom turun dari kursi roda di depan lobby, seorang satpam membantu mengangkat barang-barangnya dan meletakkan di mobil. Sondang sama sekali tak mau turun. dia biarkan saja soal urusan barang-barang. Itu  bukan urusan dia.


Satpam juga yang meminggirkan kursi roda, inang memapah Gultom mereka berdua duduk di belakang.


‘Anggap saja aku jadi sopir taksi online,’ pikir Sondang.


Sondang bertanya alamat rumah kontrakan Gultom, tentu sekali lagi dalam bahasa daerah. Gultom menyebutkan alamatnya.


“Inang, kemarin kunci mobilku ada di Inang?” tanya Gultom.


“Ada ini,” kata opung mengambil kunci mobil anaknya.


“Kunci rumahku di situ Inang, aku gabung sekalian,” jawab Gultom.


“Aku kira kamu mau ambil mobil,” kata inang.


“Kunci rumahku di situ, nanti kan kita mau masuk rumah kalau tak ada kuncinya bagaimana? Mobil nanti biar diantar sama pegawaiku saja kalau aku sudah mulai mau masuk kantor. Atau aku ambil sesudah aku pulang kerja jadi aku berangkat kerja naik ojek online. Nggak usah dipikirkanlah kalau mobilku. Pasti aman bila di kantor,” kata Gultom.


Sondang memasuki perumahan KPR BTN sederhana, di sini hanya ada  21 tapi lumayan lah karena semua masing-masing sudah direhab sehingga rumahnya sudah lumayan besar. Mayoritas sudah habis lahannya karena direnovasi.


“Tolong tunjukkan arah bloknya biar aku nggak cari-cari,” kata Sondang. Gultom pun memandu menuju ke rumah kontrakannya.