GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SEPERTI KUPU-KUPU MALAM



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



\* ‘Mas mau on the way ke tempatmu, ada yang butuh dibawakan?’ \*tanya Adit pada Dinda.



\*‘Bisa mampir supermarket enggak?’ \*jawab Dinda.



\*‘Bisa lah. Masak enggak bisa,’ \*jawab Adit.



\*‘Oke nanti aku tuliskan di pesan aja ya biar enggak ada yang ketelingsut. Aku mau titip bahan masakan untuk bawa ke kantor buat Papa besok,’ \*balas Dinda.



\*‘Baiklah.’ \*jawab Adit senang bisa berkomunikasi lagi denda Adinda.



‘*Barang atau kebutuhannya anak-anak apa yang kurang*?’ tanya Adit.



‘*Kebutuhan anak-anak enggak ada yang kurang kayaknya karena baru belanja kemarin. Paling nanti aku minta belikan fillet ikan buat bahan makanan mereka*,’ jawab Dinda.



\*‘Oke siap,’ \*kata Adit.



‘*Aku on the way*.’



‘*Nanti aku tuliskan sekalian juga buah buat jusnya si kembar*,’ jawab Dinda.



Dinda menuliskan semua kebutuhan bahan masakan untuk dua atau tiga hari ke depan yang tidak mudah dia dapat di tukang sayur yang selalu datang ke ruko. Dinda juga memesankan Adit untuk membeli beberapa buah segar yang bisa di jus buat anak-anak.



Biasa Dinda selalu membuat juice bagi anak-anak tanpa gula atau tanpa tambahan bahan lain biar mereka merasakan buah yang asli.



‘Buat makan malam kamu butuh suatu bahan?’ tanya Adit. Dia sudah tiba di supermarket dan akan belanja.



‘Buat makan malam kayanya enggak ada yang kurang deh. Aku enggak kepingin masak apa-apa. Ada ikan nanti tinggal di panggang lalu dibikinin sambal kecap aja. Tapi kalau kamu butuh sesuatu masakan, ya beli aja nanti aku olahin,’ kata Dinda.




“Mborong Dit?” tanya seorang perempuan saat melihat Adit mencari sayuran yang Dinda tuliskan.



“Iya biasa kalau pulang kantor, istriku memesan sayuran segar atau buah buat anak-anak,” jawab Adit.



“Oh,” kata si penyapa tadi yang ternyata  adalah Meliana yang kebetulan juga sedang berbelanja.



“Mari,” Adit langsung menjauh dari Meliana. Meliana melihat memang keranjang Adit berisi sayuran, buah dan aneka bahan dapur lainnya.



“Sekalian saja Dit,” Meliana menawarkan membayar sekalian saat mereka bertemu di kasir.



“Maksudnya bagaimana?” tanya Adit pura-pura tak mengerti.



“Biar aku yang bayar sekalian,” jelas Meliana.



“Aku bisa disunat ibunya anak-anakku bila belanja dapur koq dibayarin oleh perempuan lain. Di mana harga diriku sebagai laki-laki?  Sebaliknya kalau aku mbayarin belanjaan perempuan lain juga nanti dia tanya apa aku berniat punya dua dapur koq mbayarin belanjaan perempuan lain? Jadi lebih aman aku bayar sendiri saja. Terima kasih,” jawab Adit.



Meliana tak menyangka akan mendapat jawaban menusuk seperti itu. Dia memang salah menawari seorang lelaki untuk dia bayari keperluan belanja nya. Padahal lelaki itu belanja untuk keluarganya.



“Eh, maaf Dit. Bukan begitu maksudku,” Meliana meralat perkataannya. Dia jadi malu sendiri atas niatannya sok dekat dengan Adit.



“Santai aja, kamu bukan perempuan pertama yang berniat mbayarin belanjaan ku. Jadi sudah enggak aneh buat ku. Istriku juga langsung tahu karena semua langsung aku ceritakan ke istriku. Karena kadang kita bicara tak sengaja bertemu seperti ini akan banyak kompor yang lapor disertai bumbu sehingga biar istri enggak salah paham aku biasa cerita semua hal pada istriku,” Adit membual agar Meliana sadar diri mundur teratur. Adit sekarang tak berani lagi bila harus menerima hukuman yang dia dapat seperti karena kasus Merrydian.



Meliana kaget bila Adit akan cerita soal niat dia ngebayarin belanja. Rasanya tak punya muka karena dirinya seperti kupu-kupu malam yang menjajakan diri.



Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok