GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
OWL ALBINO



Akhirnya mereka melanjutkan hunting pagi itu setelah ayam kate dibayar.


Mereka masuk ke pilihan jenis kedua, yaitu kelinci. Seperti ayam tadi, ternyata di tempat kelinci bukan mana yang duluan tetapi ada dua jenis yang ready dalam satu tempat. Artinya dua jenis itu di lihat bersamaan. Jelas itu membuat SIX FUTURE CEO’s itu kembali saling mengemukakan argumennya. Pilihan mereka saat ini FUZZY LOP dan HOLLAND LOP yang ada dalam lokasi kandang bersamaan.


Itu yang membuat mereka bingung. Di bagian belakang baru ada ENGLISH ANGGORA,  jadi english anggora langsung tereliminasi, karena di lihat belakangan. Sekarang tujuan utama adalah mendiskusikan antara fuzzy lop dan holland lop.


“Kita kan punya marmut yang berbulu panjang atau GUINEA PIG, bagaimana kalau holland lop saja buat jenis kelincinya? Jadi yang bulu panjang kita ambil dari marmut saja,” saran Gathbiyya.


“Aku setuju,” kata Ghaylan.


“Jadi hewan peliharaan yang bulu panjangnya nanti ambil di marmut,” Ghazanfar menyimpulkan pembicaraan dua kembarannya.


Setelah cukup pelik akhirnya mereka setuju holland lop yang diambil, bukan fuzzy lop.


“Itu bukannya trenggiling mini?” kata Ghazanfar yang meoleh ke kios sebelahnya.


“Eh iya, ada loh. Kita beli satu saja bagaimana?” tanya Ghibran.


“Beli sepasang buat apa?” tanya Ghaidan.


“Enaknya beli sepasanglah. Biar dia bisa ngobrol,” seloroh Eddy


Trenggiling mini, kelinci dan ayam kate sudah terbeli malah marmutnya yang belum karena di tukang marmut jenis yang mereka inginkan tidak ada. Mereka lebih  baik menunggu bersabar daripada memaksakan jenis yang tidak sesuai dengan kriteria mereka.


“Berarti sekarang kita tinggal cari tupai?” tanya Dinda.


“Iya Bun tinggal cari tupai saja,” jawab Ghaidan.


“Oke jangan lupa, jenisnya jangan yang mulut panjang. Nggak bagus. Jenis yang biasa saja,” kata Eddy.


“Iya kami mengerti kok. Beda memang antara yang jenis mulut panjang dengan jenis yang mulut pendek,” kata anak-anak hampir berbarengan.



Saat itu di tempat yang jual tupai ada yang jual burung hantu atau OWL albino atau putih.


“Pengen banget deh punya yang seperti itu,” bisik Dinda pada Adit. Adit kasihan istrinya ingin, tapi tak bisa karena owl adalah predator burung sawah, kelinci dan marmut juga ayam yang akan mereka pelihara di umbar di green house mereka.


“Sebenarnya kamu bisa kok tetap pelihara itu. Peliharanya dilepas di rumah saja,” usul Eddy yang mendengar keluhan Dinda.


“Wah boleh tuh idenya Papa,” kata Dinda dengan mata berbinar. Adit bahagia istrinya mendapat jalan keluar apa yang dia inginkan.


“Kalau begitu Bunda mau beli ah buat ditaruh di rumah,” ucap Dinda.


“Papa mau beli apa?” tanya Dinda.


“Mau beli aquarium dan ikan mas koki saja buat kesukaannya Fari. Biar di rumah tambah akuarium satu lagi,” ucap Eddy. Memang Eddy sudah punya akuarium yaitu berisi ikan arwana sejak dulu.


“Yeeee, akhirnya ikan mas kokinya beli juga,” kata Fari. Dia jadi senang dengan kejutan dari sang kakek.


Dan di tukang ikan Adit membeli 10 ekor kura-kura brazil hijau berbagai ukuran.


“Ya biar kita tambah saja akuarium di rumah, untuk kita pandang-pandang. Jadi di rumah hanya ada ikan dengan owl-nya Bunda,” kata Eddy.


“Alhamdulillah,” jawab Dinda. Dia jadi senang. Akhirnya dia pilih satu owl putih atau albino yang satu yang biasa. Yang putih betina.


Tentu saja keduanya masih kecil-kecil agar terbiasa dipelihara bebas tidak di dalam kandang. Nanti mereka bisa diberi makan jangkrik hasil dari peternakan di green house selain sesekali akan dibelikan tikus putih.


“Kenapa kamu nggak ternakin mencit atau tikus putih juga?” tanya Adit.


“Alah, sudahlah nggak usah ternakin tikus putih. Nanti kan kataknya banyak. Kita bisa ambil anak katak buat makanan mereka,” kata Dinda.


“Okelah kalau seperti itu, yang penting semuanya sudah. Kecuali burung kakak tua aku,” kata Adit.


“Burung kakak tua kan kamu beli sendiri. Tidak dibahas di tim jadi terserah kamu sama saja. Sama owl. Owl kan juga seperti itu,” kata Dinda.


“Ayo kita makan siang,” ajak Dinda setelah Eddy selesai membeli akuarium, ikan serta owl.


Semua hewan dibawa pulang oleh pak Pujo dengan satu mobil sehingga tidak menunggu mereka pulang makan. Dinda sudah memberi arahan masing-masing hewan diletakkan di mana saja.


“Kita makannya di rumah makan lesehan saja ya. Kita cari yang banyak lalapannya,” kata Eddy. Walau tak makan pedas, tapi sedikit sambal dengan lalapan tentu dia suka.


“Oke, enak tuh,” kata Adit. Anak-anak terbiasa dengan menu seperti itu, jadi tidak perlu takut mereka tidak suka.