GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
EDDY TAK SABAR



“Bunda enggak pulang tanya Fari. Dinda melihat Iban dan Fari di ponselnya Adit.


“Kamu belum jawab salam Bunda,” tegur Dinda. Rupanya tadi dia sudah memberi salam kepada kedua putranya tapi sang putra antusias bertanya pada bidadari hidup mereka.


“Eh maaf,” jawab Fari.


“Wa’alaykumsalam,” kata Iban.


“Wa’alaykumsalam,” Fari juga menjawab hampir bersamaan dengan Iban.


 “Malam ini Bunda sama Ayah enggak pulang, hanya kakek yang sebentar lagi pulang,” jawab Dinda.


“Mungkin besok juga belum boleh pulang, nunggu sampai kondisi Bunda sehat baru boleh pulang ya,” Dinda berupaya menerangkan pada kedua putranya.


“Mana adiknya?” tanya Fari.


“Adik belum boleh di sini,” balas Dinda.


“Kenapa?” tanya Iban cepat. Sejak bisa bicara dia memang lebih cepat respon. Kalau Fari tentu akan di pikir dulu apa yang akan dikatakannya.


“Karena dia ada dalam inkubator,” jelas Adit.


“Apa itu inkubator?” tanya Fari dan Iban serempak.


“Inkubator itu kotak kecil dari kaca yang bisa  menghangatkan adik bayi,” kata Dinda menerangkan dengan sederhana untuk anak berusia 4 tahun itu.


“Nanti malam coba kamu tanya sama kakek suruh dia tunjukin apa itu inkubator. Biar kakek bantu search di gogle ya?” Adit biasa menerangkan dengan fakta, sehingga anak-anak terbiasa mendapat jawaban yang tepat.


“Oke,” jawab Iban.


“Adik Aidan ke mana?” tanya Dinda, dia merasa kangen belum melihat si kecil.


“Adik lagi main,” balas Fari.


“Kok belum bobo?” tanya Adit.


“Katanya tunggu kakek.” balas Iban.


“Iya,” jawab Iban dan Fari.


Bisa minta panggilan mbok?” pinta Dinda.


Iban langsung berlari memanggil salah seorang mbok yang akan menerima perintah Dinda selama dia di rumah sakit.


“Sebelum Papa pulang, siapa nama ketiga bayi tersebut?” tanya Eddy pada Dinda.


“Papa belum makan malam loh Pa. Enggak makan malam dulu bareng kita baru pulang? Aku enggak yakin Papa makan di rumah karena pasti Papa akan langsung sibuk urusin ari-ari,” Dinda meminta Eddy makan dulu.


“Nah benar itu, tunggu sampai makanan yang aku pesan datang diantar Pak Pujo. Barusan aku minta Pak Pujo beli makan malam buat kita sekalian datang jemput Papa.” kata Eddy. Rupanya sopir yang sejak siang tadi bertukar dengan sopirnya anak-anak ke sekolah.


“Ya sudah sambil nunggu makan malam, siapa nama bayi kalian Papa penasaran,” desak Eddy.


“Dan kenapa kalian menyembunyikan bayi ketiga?”


“Sebenarnya itu bukan disembunyikan Pa. Hanya kami enggak percaya saja. Aku dari yang dibilang tidak subur, akibat teraphy membuat subur, malah jadinya aku over subur,” jelas Adit.


“Maka aku juga enggak berani kasih harapan ke Papa. Takutnya mereka enggak kuat bertahan.”


“Itu sebabnya Dinda enggak boleh kerja sama kamu?” tanya Eddy.


“Bukan enggak boleh kerja sih Pa. Cuma sejak kehamilan umur 4 bulan dokter sudah bilang Dinda harus kurangi kegiatan,” jawab Adit.


“Aku tidak kuat Pa, karena ini bukan kehamilan pertama juga. Sehingga rentan terhadap keguguran. Terlebih usia aku kan sudah di atas 30,” Dinda melengkapi keterangan suaminya.


“Ya sudah cepat sebutin namanya. Jangan bikin Papa tambah penasaran,” desak Eddy.


“Tunggu habis kita makan ya Pa. Biar Papa enak makannya,” kata Adit.


“Enggak Papa maunya sekarang,” Eddy tak mau kalah. Dia tetap mendesak Adit dan Dinda.