
“Bukannya kamu pulangnya besok?” tanya Sondang.
“Nggak Ma. Sekarang opung sedang siapkan makan. Satu jam habis makan siang aku minta Mama pesanin taksi online. Aku mau pulang,” kata Icha.
“Ya janganlah. Kamu bertahan dulu di sana,” nasihat Sondang pada putri bungsunya.
“Kami ke sini itu bukan mau nengok. Papa Ma. Kami cuma ingin tahu tante depan rumah. Itu saja dan kemarin sore kami sudah temui dia. Jadi rasanya misi kami ke sini sudah selesai. Habis ini kami makan siang lalu satu jam kemudian kami harus dipesankan taksi. Kalau nggak kami nggak akan pulang.” sahut Icha.
“Kamu senangnya ngancem ya?” kata Sondang.
‘Mama tahu kan, aku ke sini bukan mau temuin papa aku cuma mau lihat tante itu, sudah,’ kata Icha. Dia bicara begitu di teras depan pada saat bersamaan Gultom ingin mengajak Icha bicara. Gultom mendengar semua pembicaraan Icha yang dia yakin Icha sedang bicara dengan mantan istrinya.
Gultom tak menyangka anaknya ke sini bukan untuk bertemu dengannya tapi untuk bertemu dengan Neni saja. Rupanya mereka benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan Gultom. Kedua putrinya ingin mencari celah agar Gultom melanggar janjinya agar ada alasan untuk membuang Gultom.
“Kalian makan siang dulu,” ajak opung pada Tarida dan Theresia.
“Ya Opung. Kami akan makan siang, lalu kami pulang,” jawab Tarida.
“Tidak Opung, kami ke sini cuma ingin tahu yang mana perempuan bakal jadi istri papa. Itu saja. Jadi kami bisa mengatur waktu. Mungkin ini pertemuan terakhir,” jawab Tarida santai.
“Loh, kan papamu tidak berhubungan dengan dia?” sanggah opung.
“Mungkin bukan TIDAK berhubungan dengan dia, mungkin BELUM. Karena kemarin kebetulan ketahuan sama mama, sehingga kita tahu. Tapi kalau mama nggak cerita, opung nggak cerita juga, kan bisa saja hubungan itu terjadi. Namanya tiap hari pagi dan malam selalu bersama kan?”
“Atau bisa jadi papa ketemu dua tante lama itu. Ketemu awalnya nggak sengaja di mall misalnya, apa di cafe misalnya, atau di mana saja lah. Bisa kan ketemu? Namanya sama mantan lalu papa akan basa-basi apa kabar? Bagaimana perkembangan si kecil dan seterusnya.”
“Selanjutnya mereka akan kembali berhubungan melanjutkan kisah lama mereka. Atau mungkin papa ketemu perempuan baru saat di bank mungkin misalnya lagi setor uang atau lagi ambil uang. Atau lagi kontrol rumah sakit ketemu suster, bisa saja kan. Kok sendirian Pak? Oh saya nggak ada anak, enggak ada istri. Saya sendirian. Seperti itu kan papa biasanya? Jadi kami sudah tahu.”
“Seperti yang aku bilang kemarin Opung. Kami punya papa lain, kami punya daddy, punya papi dan punya ayah. Jadi nggak butuh papa Gultom. Mungkin hanya nama Gultom Washington Tobing yang ada di garis keturunan kami. Tapi tidak di hati kami. Buat papa kami itu tidak ada. Jadi buat kami sama! Papa pun tidak ada. Terserah Opung mau membela anak Opung. Itu wajar. Pasti semua orang tua seperti itu.”
“Kami hanya menghormati Opung saja. Kalau buat kami lelaki yang membohongi istri dan anak-anaknya dengan mengatakan istrinya itu mandul padahal punya dua anak itu sangat kelewatan. Dan hanya perempuan bodoh yang mau ditipu. Kami anak kecil tapi kami tidak bodoh. Zaman sekarang gampang Opung. Tinggal cari alamatnya atau selidiki sendiri di mana alamatnya. Gampang kok ngikutin orang zaman sekarang. Lalu sudah dapat alamatnya tanya pada orang sekitarnya dulu. Benar nggak istrinya itu mandul. Pokoknya gitulah kalau orang pintar. Kalau orang nggak punya otak ya seperti dua istri papa dulu itu.”
“Aku enggak tahu mereka buta oleh cinta atau buta oleh harta. Aku enggak tahu. Aku yakin mereka pasti senang tiap hari ada yang kasih makan, tiap hari ada yang kasih jajan. Sampai papa lupa ulang tahun kami. Tak ada kado apa pun buat kami sejak 2 tahun ini. Kenapa? Karena uangnya sudah lari buat anak dan istri yang lain!” opung terpana mendengar apa yang diucapkan Tarida. Ternyata separah itu Gultom memberi perhatian pada anak-anaknya sampai kado ulang tahun saja tak diberikan!