GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PRIA TANPA SALARY



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Jadi selama ini semua di bawah kontrol ibu tadi?” tanya Meliana tak mau menyebut nama Adinda walau telah berkenalan.



“Ya semua under control Bu Adinda Suryani, dia real CEO sebenarnya hanya namanya aja pakai nama pak Eudyanto Alkav yaitu bapaknya Pak Radite.”



“Sejak gadis dia yang memimpin perusahaan, jadi walau tidak menikah dengan Pak Radite pun dia yang memegang perusahaan secara penuh karena memang otak perusahaan itu adanya di bu Dinda. Kalau untuk teknik Pak Adit sama sekali tidak bisa apa-apa Pak Adit hanya pintar di marketing saja. Bahkan pak Eudyanto Alkav yang basicnya arsitektur selalu minta pendapat bu Dinda untuk semua design yang dia buat.”



“Bu Dinda jago di teknik, jago diperhitungan bahkan lebih njelimet, dia paling teliti soal bahan, dia juga paling hebat soal analisa pasar atau marketing bahkan Pak Adit yang dari ekonomi dan marketing kalah dari Bu Dinda yang bidangnya managemen perusahaan.”



“Bu Dinda tak butuh harta Pak Adit. Saat seluruh saham ditaruh di atas nama dia, dia tidak mau. Bu Dinda langsung menghibahkan untuk kedua putranya. Jadi kalau buat Pak Adit tak ada yang bisa menggantikan Bu Dinda. Seorang perempuan pintar sangat welas asih tapi tidak butuh harta.”



“Bahkan kesehatan mertuanya aja semua under control Bu Dinda,” kata Bagas.



Tadi pagi saat perjalanan menuju lokasi, Bagas sudah tahu dari Pak Eddy bahwa Meliana itu ingin mendekati Adit sejak SMA. Jadi kemungkinan sekarang dia cari celah untuk masuk di keluarga Adit dan Dinda. Bagas dan semua karyawan tidak tahu bahwa Dinda dan Adit sudah resmi bercerai mereka hanya tahu sedang pisah karena keributan masalah Merrydian.



“Terus apa selama ini Pak Adit nggak ada perempuan lain?” pancing Meliana.




“Selain itu siapa yang bisa menggoyahkan hati Pak Adit dari bu Dinda bahkan saat Bu Dinda, koma  Pak Adit menunggu tak pernah keluar kamar rumah sakit selama 5 bulan kecuali hanya untuk membeli obat atau ngambil darah atau untuk pengantar Bu Dinda kontrol ke ruang lain.”



“Jadi Dinda pernah koma?” tanya Meliana, akhirnya dia menyebut nama istri Adit dengan namanya.



“Seseorang ingin membunuh Bu Dinda karena dia menyukai Pak Adit, tapi ada juga orang lain yang ingin membunuh Pak Adit karena ingin hartanya dia tidak tahu Pak Adit tak punya harta, sehingga Bu Dinda yang menjadi sasaran. Saat Bu Dina tinggal tulang berbalut kulit,  Pak Adit tak pernah berpaling sedikit pun dari Bu Dinda.”



“Terlebih sekarang ada dua jagoan. Tak mungkin ada orang bisa memalingkan hati Pak Adit dari Bu Dinda,” jawab Bagas.



“Wanita hebat ya,” puji Meliana.



“Banyak orang memujinya seperti itu. Bu Dinda sangat hebat. Walau pernah ditikam orang pun hatinya tetap baik, tetap besar hati tapi kita nggak tahu isi hatinya bagaimana.”



“Bu Dinda selalu bilang kalau nggak ingin dicubit jangan mencubit, gitu sih Bu,” jawab Bagas.



Meliana langsung teringat papanya yang sudah mencubit mamanya dengan teramat sakit. Tentu dia tidak mau mencubit perempuan lain seperti yang perempuan selingkuhan papanya lakukan pada mamanya. Tak akan pernah Meliana mau menyakiti hati perempuan lain menjadi istri kedua atau selingkuhan.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok