GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KAPAN BISA BERTEMPUR?’



“Kalau besok jadwalnya penuh Pak. Kalau lusa masih ada kosong yang jam 01.00 sehabis makan siang,” kata Irene sekretarisnya Dinda.


“Oke tolong jadwalkan di jam 01.00 itu, pertemuan dengan tim arsitek ya langsung di bawah Pak Bagas manager site project.” pinta Adit.


“Berapa orang Pak?” tanya Irene, biara bagaimana pun dia harus tahu karena bila Dinda tanya dia sudah tahu jumlah perkiraan tamu yang akan diterima.


“Maksimal 10 orang termasuk saya dan Pak Sindhu serta Bu Dinda,” jelas Adit.


“Baik saya ulangi dulu ya Pak, takut salah baca. Pertemuannya jam 01.00 siang dengan tim arsitek langsung dibawah Pak Bagas. Maksimal 10 orang termasuk Pak Radit Pak Shindu dan Bu Dinda.” Irene selalu seperti ini, dia tak mau dibilang salah tulis. Jadi sebelumnya selalu minya ACC walau by phone sekali pun.


“Ya betul begitu tapi nggak ada jatah maksimal berapa jam kan?” kata Adit. Dinda sering membatasi waktu pertemuan agar tak ngelantur dan buang waktu.


“Sampai siang masih kosong dari jam 01.00 itu, nanti kalau ada pertemuan berikutnya biasanya ibu sudah tidak mau. Biasanya ibu jam 3 jam 4 kan pulang kecuali pembahasannya agak molor.”


“Ibu tak mau dijadwalkan pertemuan baru sore hari, maksimal penjadwalan pertemuan baru a yang jam 1 siang itu Pak,” jelas Irene. Adit mengerti, istrinya tak mau terlambat pulang sebab dia lebih mementingkan 6 anak mereka.


Sekretarisnya Dinda ada 2 orang. Satu orang adalah Shindu, warisan dari Eddy dan yang lain adalah Irene yang perempuan. Yang berhubungan langsung dengan Dinda adalah Irene.  Shindu berhubungan dengan pihak luar. Walau bagaimana pun Dinda mencegah berbenturan atau berhubungan langsung dengan Shindu terlalu sering. Nanti bisa bahaya pandangan orang juga interaksi dengan pasangan masing-masing.


“Iya Pak Radit,” kata Bagas ketika dihubungi marketing manager.


“Saya sudah menjadwalkan pertemuan dengan Bu Dinda, lusa jam 01.00 siang tepat waktu,” jawab Adit.


“Baik Pak, saya akan beritahu pada tim jam 01.00 siang ya Pak. Sehabis makan siang.” jawab Bagas.


“Benar ditunggu jam 01.00 siang. Jadwalnya Bu Dinda kata sekretarisnya kosong jam segitu,” Adit menegaskan itu sudah di atur oleh sekretarisnya Dinda.


“Baik Pak.”


“Iya Sayang, Papi mau antar kamu sekolah. Juga Ade, tapi nanti pulangnya tetap sama Pak sopir ya. Papi dan mami kerja,” kata Ajat mengusap lembut kepala putrinya.


“Iya Pi,” kata Mischa dengan mata berbinar. Ajat ingin menangis dan memeluk anak perempuannya itu, bagaimana mungkin selama ini dia tak menganggap permata itu ada? Melihat binar di mata anaknya Ajat merasa dosa yang teramat besar.


Santi hanya tersenyum melihat bagaimana suaminya merasakan penyesalan yang teramat dalam.


“Terima kasih ya Yank, kamu merubah segalanya.” kata Ajat sambil memeluk istrinya. Dia tak malu terisak di pelukan sang istri.


“Kamu harus membayar semua hutang, walau nggak mungkin masa kecil mereka terulang lagi. Tapi setidaknya mulai saat ini mereka tahu papinya ada buat mereka,” bisik Santi. Ajat hanya bisa mengangguk.


“Alhamdulillah ini semua hasilnya bagus ya Pak tinggal selalu kontrol dan minum obatnya jangan terlambat. Ibu perhatikan konsumsi makanan yang baik buat Bapak.”


“Kalau untuk hasilnya bagaimana Dok? Apa langsung spermanya terisi?” tanya Ajat yang tak sabar ingin segera membuat Santi hamil.


“Begitu pintu pagarnya dibuka, sperma langsung masuk kok Pak. Cuma kan selama ini belum bisa dipakai. Semoga aja tidak ada hambatan lain lagi,” jawab Dokter.


“Aaamiiin,” kata Santi. Ajat menggenggam erat jemari istrinya dan memberikan senyum manis.


“Semoga harapan Bapak dan Ibu segera terwujud ya Pak,” kata dokter selanjutnya.


“Kapan bisa bertempur Dok?” tanya Ajat tanpa malu.


“Untuk amannya satu minggu lagi ya. Agar benar-benar tak ada robekan di dalam. Kalau di luar sih nggak akan kelihatan Pak. Tapi kan bahaya di dalam. Sekarang sih sudah aman, tapi lebih baik kita mencegah.”


“Baik Dok, saya akan sabar kok demi hasil yang terbaik,” kata Ajat. Dia sekarang berupaya meredam semua hasratnya.