
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ibu Adinda Suryani,” panggil suster.
“Saya suster,” kata Adinda sambil berdiri tepat ketika Adit baru memberi salam pada Fari.
“Ayo Yah kita masuk,” ajak Dinda. Mereka pun berjalan berdampingan Adit memeluk pundak istrinya. Dia tahu mereka sedang harap-harap cemas mengapa dirujuk ke sini. Tapi sama-sama tak mau bicara soal dugaan. Mereka akan diskusi setelah tahu hasil di dalam aja. Karena takutnya di luar ekspektasi. Saat ini mereka lebih baik mereka diam tanpa menduga-duga.
“Belum masuk Bu,” kata suster yang memanggil tadi melihat Adit sudah bersiap menemani Dinda masuk.
“Ibu di sana sudah ukur tekanan darah dan suhu serta timbang. Di sini tetap harus ukur lagi Bu, karena biasanya tekanan darah bisa cepat berubah bila kita takut atau stress. Jadi kalau untuk berat dan yang lainnya tidak perlu, yang penting tekanan darah aja yang diukur ulang,” kata suster.
“Kirain sudah langsung masuk suster,” jawab Adit.
“Belum Pak. Ukur tekanan tensinya dulu ya,” kata suster dengan lembutnya. Dinda pun duduk di kursi untuk diukur tekanan darahnya sebelum masuk ke ruang dokter.
“Masih ada dua pasien Pak, jadi sabar aja.”
Adit dan Dinda kembali duduk tempat tadi.
“Ayah itu bukannya Meliana ya?” bisik Dinda pada suaminya.
“Mana?” tanya Adit. Dia seakan tidak pernah melihat Meliana ada di bagian pendaftaran saat Adit belum sampai disana tadi. Adit memang melihat masih dari jauh.
“Itu yang habis keluar dari ruang periksa dokter kandungan,” jawab Dinda.
“Ngapain ya dia ke dokter kandungan?” tanya Dinda lagi.
“Mana Mas tahu. Mungkin ada penyakit di bagian dalam yang berhubungan dengan kandungan? dokter kandungan bukan cuma untuk ibu hamil, mungkin ada kelainan saat dia menstruasi atau apa gitu bisa jadi kan?” jelas Adit tanpa mau peduli apalagi memikirkan mengapa Meliana kontrol ke dokter kandungan.
“Iya juga sih,” Jawab Dinda.
“Memangnya kalau dia menikah dia akan mengundang teman-teman yang sudah tidak punya respek sama dia?” balas Adit.
“Paling tidak kan bisa ketahuan, ada rumor di sana bahwa ternyata Meliana menikah bla bla bla gitu,” jawab Dinda.
“Enggak sih, di grup enggak ada. Kamu kan bisa lihat sendiri kalau misalnya ada info itu. Mas enggak pernah kunci ponsel, maksud Mas dikunci tapi selain Mas, kamu cara bukanya. Kamu bisa lihat. Kita kan bisa saling lihat apa saja dan siapa saja yang ada di ponsel kita masing-masing.”
“Sebenarnya dikunci juga walaupun kita saling tahu kuncinya juga sama juga bohong kok Yah kalau niatnya mau selingkuh.” Dinda mengutarakan pendapatnya.
“Kok bisa gitu?”
“Bisa aja kan chat kamu dengan seseorang langsung kamu hapus begitu selesai jadi enggak ada jejak yang bisa aku pantau,” jawab Dinda.
“Astagfirullah enggak akan seperti itulah. Enggak akan. Sekali lagi enggak akan. Ayah enggak akan mungkin menduakan. Maaf ya, sekali lagi maaf. Dulu waktu sama Shalimah aja Ayah juga kan enggak ada tuh kata-kata sayang dan sebagainya. Paling dia nyuruh datang Ayah cuma jawab YA, gitu aja kan?”
“Apa ada rayuan segala macam. Enggak kan. Ayah bersikap manis memang kalau di depan Bram. waktu itu pikiran Mas biar gimana pun Bram harus tahu kehangatan pasangan orang tuanya. Tapi kalau di belakang itu, enggak ada tuh.”
“Dia juga manis saat dia butuh minta uang atau apa. Dia pasti akan baik-baikin Mas. Saat itu dia juga langsung merangsang agar Mas mau menggaulinya. Mau enggak mau namanya laki-laki pasti tergoda lah.”
“Sudah Mas minta enggak usah dibahas lagi. Bukan hanya kamu yang sakit hati, mas sangat sedih kalau ingat kisah kebodohan Mas saat itu. Seakan ada magnet yang enggak bisa Mas hindari. Entah dia pakai apa.” Adit paling malas kalau ingat masa kelamnya saat itu.
“Enggak bertujuan bahas itu sih. Cuma lagi bilang aja kalau banyak juga pasangan yang saling tahu kunci telepon suami atau istrinya tetap aja bisa mengandalkan chat tanpa sepengetahuan pasangannya.”
“Atau yang lagi heboh pakai aplikasi ojek online kan bisa atau pakai aplikasi belanja online ada lho katanya,” Dinda jadi ingat kasus selingkuh yang sedang viral.
“Itulah mereka yang memang cari kesempatan tidak berpikir Karma itu akan ada. Mereka punya anak. Karma itu enggak datang hanya ke anak perempuan, semua anak ya akan terkena imbasnya.”
“Ibu Adinda Suryani,” suara suster menghentikan diskusi mereka tentang perselingkuhan.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.