GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MINTA DIGABUNG



“Kamu mau beli su5u apa biar ayah yang belikan kata ayahnya Santi.” dia tak tega melihat Farouq yang tak mau lepas dari Ajat.


“Su5u ibu hamil Yah. Tadi Santi pesan. Lima hari dia nggak minum karena aku juga lupa. Dia minta yang rasa coklat sama permen coklat lah. Dia kan paling hobi makan permen coklat. Su5u buat Farouq juga su5u coklat sama permen coklat dia sama dengan Santi sama-sama suka coklat,” kata Ajat.


“Cari Regal atau makan lain yang lunak Yah. Buat dimakan langsung sama Farouq. Dia sepertinya belum makan apa pun. Nanti Regal atau roti bisa dicelup ke Su5u.” kata ibunya Santi pada suaminya.


“Baik nanti Ayah beli roti marie atau Regal biar dimakan sama susunya itu.”


“Cari mangkok saja Yah, entah beli entah pinjam. Mangkok sama sendok buat maka regalnya itu.”


Ayahnya Santi langsung berlari ke apotek untuk membeli semua kebutuhan buat Farouq. Benarcucunya harus langsung diberi su5u dan roti Marie agar ada asupan ke dalam lambungnya.


“Ini kenapa Pak? Kok kondisinya bisa sampai seperti ini?” Dokter memeriksa Farouq. Dia lihat penampilan Ajat yang terlihat bukan orang susah tapi kondisi anaknya sangat kekurangan pakan dan gizi.


“Diculik lima hari Dok. Baru dikembalikan,” jawab Ajat.


“Oke saya akan masukkan ke ruang perawatan ya. Nanti akan saya berikan juga dokter psikiater anak buat membantu pemulihan kejiwaannya sehabis trauma diculik. Tapi kondisi tubuhnya ini sangat lemah Pak. Sepertinya dia harus langsung diinfus.”


“Apa bisa digabungkan dengan istri saya?”


“Maksudnya bagaimana?”


“Baik Bapak permintaan seperti itu kami harus koordinasikan dulu dengan bagian perlengkapan karena kamar VIP kan kasurnya hanya satu. Kami harus lapor dulu agar bisa digabung. Kalau soal bisa sih bisa Pak. Cuma alat-alatnya yang harus ditambahkan dan itu mungkin butuh waktu satu atau satu setengah jam atau lebih.”


“Tak apa Dokter. Kami menunggu saja daripada kami terpecah dua bolak-balik apalagi kalau sampai beda lantai. Tentu repot.”


“Di paviliun melati, lantai 3 kamar 2 ya Pak.” kata dokter tersebut.


“Benar Dok kamar 3 eh apa lantai 3 kamar 2. Bukan lantai 2 kamar 3.”


“Akan saya beritahu kepada bagian perbekalan dan saya ACC buat perawatan gabung karena memang akan membutuhkan banyak orang serta koordinasi yang repot bila dirawatnya terpisah.”


“Ibu sama ayah nanti ke kamar Santi duluan saja. Temani Santi. Bilang aku masih ada keperluan jangan bilang ada Farouq. Biar nanti dia langsung lihat sendiri saja. Kalau dia diberitahu kondisi Farouq seperti ini dia akan drop. Biar nanti dokter yang memberi tahu dia saat mengantarkan Farouq ke ruang rawat.”


“Ya sudah Ibu ke sana duluan. nanti biar ayah suruh nyusul saja. Kalau sudah beli Regal dan su5u nanti kamu kasih saja langsung regalnya biar Farouq ada makanan yang masuk,” kata ibunya Santi.


“Baik Bu akan aku langsung suapin kalau ayah sudah kembali ke sini. Ibu kasih tahu mama dan papa suruh langsung ke kamar Santi saja tapi jangan bicarakan Farouq.” kata Ajat.


Ajat tak tega melihat kondisi anaknya yang terlihat sangat kurus dan lemas bahkan untuk mengangkat kepala saja rasanya Farouq sangat kesulitan. Benar-benar sangat tersiksa. Kalau Santi tahu begini pasti Santi akan histeris. Makanya lebih baik menunggu Farouq diantar ke ruangan saja biar nantinya lebih terkontrol. Nanti kan juga banyak suster juga ada dokter yang menemani.