GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PAGAR DARI ADIT



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Gas aku tinggal ya. Kamu bicara dengan ibu ketua yayasan langsung. Konsepnya kalau kurang jelas yang aku bilang, kamu tanya lagi ke Bu Meliana. Dia teman SMA aku, walau waktu SMA aku enggak pernah berbicara atau saling sapa karena aku baru kenal saat dia menegurku di sini. Entah bagaimana dia bisa tahu kalau kami satu SMA,” kata Adit di depan Bagas dan Adinda.



Adit tak ingin Adinda mengira Meliana adalah teman akrab saat SMA karena waktu SMA Adit sama sekali tidak kenal Meliana.



Meliana kaget mendengar Adit bicara seperti itu. Ketua Yayasan yang dihormati semua orang dikuliti bahwa tidak kenal sama sekali saat SMA dengan Adit yang dia panggil dengan sangat akrab, seakan mereka adalah teman lama saat SMA dulu. Meliana sadar kalau Adit memang memagari dirinya.



Melianan sadar, Adit membuat pagar agar istrinya tidak salah pengertian bahwa mereka pernah ada affair sebelum ini, bahwa mereka pernah akrab saat SMA dulu. Meliana sadar dia memang sejak dulu tak ada apa-apanya di mata Adit.



“Baik Pak,” jawab Bagas.



“Ayo kita ke kelas kalian,” ajak Adit pada kedua jagoannya.


\*\*\*



“Kelas mereka di mana Bun?” tanya Adit lembut pada Dinda.



Dinda lalu mengarahkan Adit ke kelas musik, hari ini jagoan Adit pelajarannya musik.



“Ayo Ayah antar sampai sini ya, Ayah tunggu di luar,” kata Adit pada Ghibran dan Ghifari. Tapi kedua putranya tak mau turun bahkan untuk memberi salam pada gurunya saja mereka tak mau.



“ Wah jagoan lagi pada ngambek ya sampai diantar Papanya,” sapa ibu guru kelas musik.




“Ayo salim dulu,” ajar Dinda pada dua putranya. Dia berdiri sangat dekat dengan Adit agar kedua putranya mau memberi salam pada para guru seperti biasa. Dinda sering melihat anak lain ngambeg sebelum jam pelajaran, tapi selama ini putra-putranya tak pernah rewel. Baru kali ini si kember berperilaku seperti ini.



Sekarang keduanya tak mau menuruti semua kata-katanya. Mereka  tetap memeluk ayahnya.



“Salim dulu ya pintar, bujuk Adit sambil mendekati para guru dengan kedua jagoan berada dalam gendongannya. Dan dua putranya menurut. Mereka salim pada gurunya dalam gendongan Adit.



“Oke Ayah duduk dengan kalian di sini yuk. Kalian duduk, Ayah duduk di belakang kalian,” kata Adit lembut. Tapi keduanya tak mau turun. Akhirnya Adit duduk bersila dengan kedua putranya duduk di kedua pahanya. Adit sangat bahagia kedua putranya yang meminta dirinya tapi di situ.



Adinda merekam kegiatan itu sejak awal.



Cukup lama kegiatan berlangsung Adit tidak bosan melihat putra-putranya berinteraksi dengan guru dan teman sekelas nya. Walau ada Adit, Ghibran dan Ghifari tetap aktif. Hanya mereka tetap memegang tangan ayahnya takut ditinggal. Tapi untuk konsentrasi dan kegiatan lainnya mereka tetap aktif, bahkan karena diberi support oleh Adit mereka tambah semangat dan tambah aktif. Dinda tak bisa menahan tetes air mata melihat bagaimana kedua putranya sangat membutuhkan sosok ayahnya. Sejak tadi dia berteman tissue dan ponsel saja.



Dalam benak Adinda dan Radite berpikir bagaimana nanti sepulang sekolah?



‘*Aku sih enggak keberatan ikut mobil Dinda bila anak-anak minta diantar. Tapi apa bunda mereka kasih izin*?’ begitu pikiran Adit.



‘*Bukan soal pegawai atau orang sekitar. Tapi bagaimana bila anak-anak sama sekali tak mau lepas dari mas Adit lalu mereka demam bila berpisah dengan ayahnya*?’ ini yang Dinda pikirkan.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok