
Gultom dan Sondang menahan diri untuk tidak berada dalam satu tempat yang berdekatan. Mereka juga membiarkan anak-anaknya bebas bermain bersama teman-teman satu keluarga Alkavta. Gultom selalu dekat dengan anak-anak dia mengamati kedua gadis kecilnya. Sebenarnya dia sangat ingin ikut menimbrung kegiatan anak-anak tapi dia takut anak-anaknya menolak. Tentu akan sangat malu bila dia ditolak putri kandungnya di depan anak-anak lain. Karena Gultom selalu ada di sekitar anak-anak, maka Sondang menjauh.
“Kalian jangan hanya dengan papa Fahrul dan yang lain. Ini ada papa Gultom loh. Kalian kenalan ya sama papa Gultom,” Adit memperkenalkan Gultom pada anak-anak. dia sejak tadi mengamati Gultom. Adit tahu Gultom ingin dekat dengan putri-putrinya hanya ragu mendekat. Semua salim pada Gultom. Saat itu ada setetes air di ujung mata Gultom. Gultom tak percaya Adit memperkenalkannya sebagai papa anak-anak tersebut. hanya Tarida dan Theresia yang tidak berkenalan dengannya karena mereka sudah kenal.
Ajeng, Velove, dan Santi membagikan kotak makan untuk semua peserta. Kotak makan menggunakan dua warna yang berbeda. Dalam setiap kotak kotak merah berisi nasi dengan porsi kecil dan lauknya ayam semur artinya tidak pedas khusus untuk anak-anak atau orang tua tapi tidak suka pedas. Sedang kotak biru itu berisi nasi porsi normal dengan lauk ayam rica-rica. Sudah diumumkan pada semua peserta yang ingin ayam tidak pedas silakan ambil kotak merah. Yang lainnya dibagikan kotak biru oleh Ajeng, Velove, dan Santi.
Wika, Puspa, dan Ratih, membagikan air mineral di botol kemasan kecil. Sedang para bapak menggelar tikar atau karpet plastik yang mereka bawa. tak ada yang berpangku tangan.
Sondang menaruh kotak-kotak tissue basah dalam sachet kecil-kecil di beberapa tempat untuk mereka yang makan menggunakan tangan tidak menggunakan sendok. dia berikan di setiap sudut, siapa yang ingin menggunakan nanti tinggal ambil. Memang benar-benar semuanya bekerja. Gultom bingung dia mau bantu apa, akhirnya dia membantu Adit dan Bagas yang sibuk mengatur posisi untuk membuat video live. Gultom sudah tak dendam pada Bagas, karena bukan Bagas yang salah. Dia yang telah selingkuh dan kalau kepergok ya wajar karena masih tinggal satu kota, lain kota saja namanya bangkai bisa tercium koq.
“Silakan makan, jangan lupa berdoa anak-anak. Bersyukur untuk rezeki yang kita dapat hari ini,” kata Santi. Santi membuka satu box nasi untuk dirinya dan Ajat.
Santi duduk berhadapan dengan Ajat dan mulai menyuapi suaminya. Tak malu di depan semua orang dia tetap melakukan itu. Ajat pun dengan enjoy menerima suapan istrinya. Baru dengan Santi dia merasakan hidup berumah tangga karena ada interaksi selain melakukan hubungan suami istri. Dengan Santi dia ada komunikasi, dengan Santi dia berinteraksi soal anak-anak dan sekarang di depan khalayak umum pun Santi tetap memperlihatkan cintanya dengan menyuapi dirinya.
“Papi apa nggak bisa makan sendiri?” tegur Ghaylan.
“Bukan nggak bisa Sayang, papi tangannya kotor. Lihat deh,” jawab Ilham.
“Betul Sayang, benar. Harusnya papi bersihkan tangan sendiri,” ucap Velove.
“Papi malas makan sendiri. Kalau nggak disuapin Mami nanti dia nggak makan. Kalau nggak makan nanti dia kembung. Kalau papi sakit siapa yang sedih? Kalian juga kan?” kata Santi membela suaminya.
“Itu artinya papi nggak jaga kesehatan,” balas Menur.
“Harusnya papi jaga kesehatan diri sendiri tidak boleh menyusahkan orang lain.” ucap Mischa.
Gultom kembali terkagum-kagum interaksi anak-anak ini bukan interaksi dengan teman orang tuanya, tapi memang benar-benar interaksi dengan orang tua seperti layaknya orang tua kandung mereka. Tak ada rasa rikuh atau segan. Mereka bercanda atau protes seakan-akan semua adalah orang tua kandung.
“Ya sudah biarin saja kalau papi kolokan kayak gitu, kalian jangan kolokan. Kalian sudah besar,” kata Puspa.
“Enggak lah Bunda, kami itu nggak kolokan kayak papi,” jawab Ghaidan.
Semua orang tua memang dianjurkan tidak membawa anak di bawah 10 tahun, sehingga Wika, Ajeng, Santi serta Puspa dan orang tua yang lain memang tidak membawa balita mereka karena program ke panti asuhan atau panti jompo memang bukan family gathering. Kalau family gathering bayi pun harus dibawa karena menginap dan orang tua agar tenang kalau bayinya nggak dibawa tentu orang tua kepikiran. Beda dengan kegiatan sosial ini. Kegiatan sosial ini hanya dilakukan hari Sabtu dan butuh waktu setengah hari saja.