GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MENANTUMU TAK WARAS



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Apa sih maksud menantumu itu Mas? Kayaknya dia agak enggak waras ya? Sudah menjara-in Tasih, sekarang dia mau nuduh,” keluh Lilis saat ditinggal oleh Dinda dan Adit.



“Kamu bilang menantu aku enggak waras? Kamu enggak sadar ya, yang enggak waras itu kamu! Sudah tahu kan mengapa dia memenjarakan Tasih. Tasih itu dilaporkan karena mau membunuh Dinda, masa kamu tanya lagi? Saya yakin dia juga akan penjarain kamu kok. Tenang aja kamu pasti akan dapat giliran,” Eddy geram karena Dinda dibilang tak waras.



“Memang aku ngapain sih Mas? Aku enggak ngapa-ngapain koq,” Lilis masih terus mengelak.



“Kamu yang nyuruh pela-cur itu ke sini buat cari anaknya, biar pelacur itu dapat duit kan dari Shalimah yang kamu bilang tinggal bersama dengan Adit. Padahal saat penjebakan Tasih semua keluarga tahu Shalimah itu sudah aku penjara.”



“Tapi kamu enggak bilang kan sama pelacur itu bahwa anaknya aku penjara karena dia korupsi duit aku? Gampang kok penjarain kamu. Gampang banget, kamu enggak inget ya rumah ini full CCTV. Apa yang kamu omongin juga yang pelacur itu bilang semua ada di CCTV. Walau di teras sekali pun.”



“Jangan salah, semua panel CCTV itu ada di handphonenya menantu aku enggak perlu direkam semua ada dan sekarang yang kamu bilang menantuku itu gila itu juga ada di CCTV. Jadi tenang aja kamu pasti akan dapat giliran,” kata Eddy.



Lilis benar-benar pucat mendengar kenyataan itu. Dia lupa dulu Tasih bisa dipenjara karena semuanya ada dalam CCTV rumah ini.



“Waktu kamu tiap pagi ke sini Dinda belum tinggal di sini, sehingga dia belum pasang CCTV. Begitu menantu aku tinggal di sini semua dipasang di CCTV, jadi tak ada yang pernah bisa lepas dari pengamatannya Dinda.”



“Terlebih kamu tahu dia punya anak, sekarang banyak pembantu atau baby sitter yang merawat anak majikannya tidak dengan sepenuh hati. Itu yang Dinda antisipasi. Dia pantau semua pembantunya apakah benar-benar merawat anaknya dengan baik atau tidak. Saat itulah Dinda kembali bersama Adit yang membawa satu gelas air hangat.



“Kenapa Din?” tanya Eddy penuh perhatian.



“Namanya orang kurang waras kan gini Pa. Harus banyak minum air putih hangat,” kata Dinda sambil tersenyum mengejek.



“Maksud tante bukan itu,” ralat Lilis.



“Jadi maksud tante bagaimana? Tante yang gila gitu?” kata Adit. Dia juga marah istrinya disebut tak waras karena melaporkan Tasih dengan kasus percobaan pembunuhan.



“Semuanya ada di sini Tante. Apapun yang Tante lakukan ada di ponsel aku,” kata Dinda sambil memperlihatkan rekaman tadi ketika dia dikatain tak waras oleh Lilis.



“Oh iya, Tante perlu bukti bahwa tante adalah pelaku yang cerita pada ibunya Shalimah?” goda Dinda.



“Kalau sekarang Tante tidak bercerita apa motivasi Tante melakukan semua itu menyuruh sampai perempuan itu datang ke sini Siap-siap saja, satu jam lagi pengacara saya datang. Sejak tadi sudah saya panggil dan dia sedang dalam perjalanan.”



Tentu saja Eddy dan Adit tak tahu apakah perkataan Dinda ini benar, dan Lilis merasa itu hanya gertak sambal Dinda saja.



“Oh iya aku lupa,” kata Eddy.



“Aku sudah beritahu kakakmu kalau kamu aku panggil dan aku juga sudah minta alamat lengkapmu, kamu tinggal di mana juga kartu keluargamu. Jadi bersiap aja keluargamu juga sudah tahu kok bahwa aku minta karena kamu kembali mengusik aku,” kata Eddy.



“Aku enggak pernah main-main mempertahankan kebahagian rumah tangga anak dan menantu aku,” ucap Eddy pasti.  Lilis menilai dia salah langkah.



“Pak, ada tamu,” satpam depan memberitahu.




“Seorang bapak, dia bilang sudah janjian dengan bu Dinda, namanya pak Taufik. Katanya pengacara bu Dinda.”



“Suruh masuk Pak,” jawan Eddy. Adit memandangi istrinya, rupanya Dinda tak main-main saat tadi diberitahu bahwa sudah memanggil pengacara. Dinda memang sejak semalam minta pak Taufik datang. Dan saat Lilis sudah datang dia langsung menghubungi pengacaranya agar segera meluncur.



“Ya suruh masuk Pa, beliau memang ditunggu oleh Papa dan saya,” Kata Adit.



“Baik Pak,” sang satpam langsung ke depan untuk menerima tamu.



“Selamat pagi Pak Taufik. Maaf ganggu di hari Minggu.” kata Dinda sambil berdiri menghampiri pengacara toko grosirnya.



“Tidak apa apa Bu Dinda. Kebetulan memang kan kemarin saya bilang hari ini saya juga ada yang ingin dibahas tentang usaha Bu Dinda,” jawab sang pengacara sambil menerima uluran tangan Dinda.



“Perkenalkan ini suami saya, dan ini papa mertua saya,” Dinda memperkenalkan Adit dan Eddy pada Taufik. Ketiga lelaki itu bersalaman.



“Tante Lilis ini pengacara saya, silakan Tante bicara atau saya tuntut anda.” Dinda juga memperkenalkan Lilis dengan Taufik



“Saya enggak mengerti apa sih maksud kamu?” kata Lilis tetap mengelak.



“Oke saya akan rinci saja. Pak Taufik perhatikan saya ya, catat semuanya tapi ada kok semua rekaman di CCTV saya. Nanti akan saya beri copy rekaman agar Bapak mudah meng-eksekusi kasus ini.”



Mbok Marni datang membawa minuman, sejak tamu masuk satpam pasti memberitahu orang dapur sehingga minuman langsung disiapkan.



Dinda lalu menerangkan tentang tamu yang datang kemarin yang sudah 29 tahun tidak pernah mencari anaknya tiba-tiba datang karena dia tahu putrinya tersebut punya cucu yang dianggap cucunya Pak Eddy. Kalau cucunya pak Eddy artinya anak tersebut adalah pewaris dari Pak Eddy.



Sebelumnya tentu Dinda sudah bilang kalau tamu kemarin itu meninggalkan bayinya di panti asuhan dan tak ada yang taahu kalaau bayi itu dipelihara pak Eddy selain keluarga.



Kemarin tamu itu atau nenek si cucu tersebut bilang informannya atau pemberi informasi bahwa anak yang sudah dia buang ke panti asuhan ternyata diambil Pak Eddy adalah Tante Lilis.



Dinda menjeda ceritanya dengan memperlihatkan video rekaman CCTV saat tamu tersebut datang dan mengakui setelah Dinda menukar informasi dengan uang ojek.



Di rekaman sangat jelas ibunya Shalimah bilang yang menyuruh saya adalah Lilis. Dia yang memberitahu saya bahwa putri saya tinggal bersama dengan anaknya Pak Eddy dan punya satu anak perempuan.



“Tante kalau mau berkelit silakan Tante, ini buktinya.”



“Sejak tadi saya tanya pada dia motivasinya dia menyuruh ibu tadi itu mendekati atau mencari Shalimah maksudnya apa? Kalau sudah ketemu maksudnya mau ngapain selain ngeruk hartanya Pak Eddy lewat Shalimah atau lewat cucunya mungkin. Mungkin ada pembagian keuntungan atau bagaimana saya tidak tahu kalau dia enggak mau mengakui saya juga akan panggil ibu yang kemarin datang ke sini dan kita langsung panggil di kantor polisi aja Pak Taufik,” ujar Dinda lalu dia minum air putih miliknya.



“Saya bingung, mengapa dia tak memberitahu ibunya kalau Shalimah sudah saya laporkan ke polisi. Lilis ini sudah tahu koq kalau Shalimah di penjara. Apa dia ada tidak ada maksud mendatangkan Shalimah tapi hanya ingin menantu saya kalang kabut karena kasus hubungan gelap putra saya kembali mencuat ke permukaan.” tambah Eddy sambil menatap Lilis dengan tajam.



“Baik Bu Dinda dan pak Eddy. Saya mengerti,” Pak Taufik mengeluarkan satu kartu nama dari sela time planner yang dia pegang dan diberikan pada Lilis agar benar-benar yang datang benar-benar pengacara bukan main-main


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.