GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
IBAN NGAMUK



“Ada apa Mas? tanya Dinda. Dia lihat ponsel Fari menghubunginya.


“Iban berantem Bun,” lapor Fari.


“Berantem bagaimana?” tanya Dinda tenang. Dia bukan type ibu yang panikan. Terlebih ke 6 putra dan putrinya super aktif semua.


“Aku juga belum tahu persoalannya. Yang aku tahu Biyya nangis. Dia nangis lalu lari ke aku bilang Iban berantem,” jelas Fari.


“Biyya menangis?” Dinda memastikan dia tak salah dengar. Biyya menangis suatu hal yang jarang terjadi.


“Itulah yang aku tidak tahu. Biyya bukan gadis cengeng,” jawab Fari.


Sekarang Fari dan Iban kelas 5 mereka akan ujian tak perlu menunggu sampai kelas 6. Dulu pun mereka 5 tahun sudah masuk SD, sehingga sekarang usia 10 tahun mereka sudah akan tamat SD.


Gathbiyya, Ghazanfar, Ghaylan semua sudah kelas 2 SD. Ghaidan kelas 4 SD.


“Coba kamu lihat dulu persoalannya apa, dan perhatikan semua adikmu yang lain.” pesan Dinda.


“Iya Bund,” jawab Fari yang terbiasa jadi komandan ke 5 adiknya.


“Apa orang tua dipanggil?” tanya Dinda.


“Entahlah Bun, aku juga bingung karena pintu ruang BP masih tertutup,” sahut Fari,


Iban sangat emosional dia sering membuat Radit ke sekolahan karena dipanggil oleh wali kelas atau guru BP. Iban selalu membuat polah persis seperti dirinya dulu ketika SMA. Ketika kecil Adit masih manis karena orang tuanya masih penuh perhatian padanya. Adit mulai berontak ketika SMP dan SMA.


Iban juga sebenarnya manis cuma temperamental, dia cepat marah dan cepat tersinggung. Tidak seperti Fari yang perasaannya lembut. Iban lebih banyak bicara dengan kepalan tangannya.


Semua anaknya Radit ikut karate dan rata-rata sudah tinggi tingkatannya. Walau belum berusia 10 tahun semua jago karate terutama Biyya.


Justru yang awal dimasukkan ke karate adalah Biyya. Perempuan satu-satunya harus bisa menjaga diri jangan menjadi lemah, itu prinsip Radit.


Walau pelajaran kewanitaan tetap diterapkan di rumah. Untuk kegiatan rutin Biyya ‘diwajibkan’ masak dan segala macam pekerjaan lainnya.


Dinda selalu mengajak Biyya dalam setiap kegiatannya. Entah itu masak, mencuci piring, membereskan pakaian atau hal lain. Jadi Biyya tidak merasa terbebani. Tak pernah Biyya merasa diperintah atau disuruh sehingga itu lebih baik daripada dia dipaksa.


“Kenapa lagi Bun?” tanya Adit di ruang kantor Dinda.


“Mamas telepon, katanya abang berantem,” jawab Dinda.


“Aduuuuuuuh,” kata Adit. Dinda hanya tersenyum. Itulah kesibukan mereka dengan 6 putra dan putri yang super aktif dan super pintar.


“Bunda belum tahu apa pangkal persoalannya, tapi yang sedang Bunda pikir adalah mamas cerita kalau Biyya menangis.”


“Biyya menangis?” tanya Adit tak percaya. Dia hafal, putri tunggal mereka adalah gadis kuat, bukan anak cengeng apalagi kolokan.


“Itu yang bikin aku bingung dan kali ini Iban tidak tanggung-tanggung marahnya. Kata mamad dia sudah sangat marah.”


“Aku takut anak orang jadi korban,” cetus Dinda.


“Berarti nanti malam kita ‘sidang’ lagi nih.”


“Mau tidak mau,” kata Adinda


Dinda dan Adit menerapkan sidang dalam tanda petik. Mereka selalu membahas persoalan kesalahan dengan memberikan kesempatan anak-anak membela diri dengan mengemukakan semua alasannya. Sehingga terjadi komunikasi dua arah, bukan hanya orang tua yang marah tanpa anak bisa membela diri.


“Semoga aja tidak ada panggilan dari wali kelas atau guru BP,” ucap Adit.


“Rasanya tidak mungkin tidak ada panggilan. Terlebih persoalannya Iban sampai ngamuk.”


“Pasti ada panggilan dan Ayah harus siap-siap,” ucap Dinda. Memang urusan anak-anak di sekolah Adit yang tangani.


“Siap Ayah pasti siap untuk mereka semua. Ayah siap,” jawab Adit.


Anak-anak semua full day sekolahnya. Mereka berangkat dari jam 06.30 karena sekolah masuk jam 08.00 sampai jam 04.00 sore. Sampai di rumah mereka sudah jam 5 sore. Tak ada pekerjaan rumah dari sekolah. Mereka full day jadi semua harus tuntas di sekolah. Di rumah itu tinggal waktunya membuang lelah.