
“Bersiap ya Pak,” kata dokter yang memeriksa Dinda hari ini.
“Kalau perhitungan saya, ini sudah masuk ke panggul jadi tidak sampai seminggu lagi akan lahir. Saya minta Bapak selalu berada di sisi Ibu. Mungkin Bapak bisa minta cuti ke perusahaan,” lanjut sang dokter.
“Nanti saya minta cuti ke nyonya saja Pak Dokter,” jawab Adit sambil tersenyum.
“Kok ke nyonya?” sang dokter bingung karena tak mengerti apa yang Adit katakan.
“Masalahnya pemilik perusahaan saya itu nyonya,” jawab Adit sambil tersenyum.
“Ya ampun jadi …?”
Belum sempat dokter bicara Adit langsung memotong. “Ya betul. Saya bekerja di perusahaan istri saya. Dia pemilik hati saya, tapi juga pemilik perusahaan tempat saya bekerja,” jelas Adit.
“Oalah ya enak dong enggak usah bingung mengurus surat cuti,” sekarang sang dokter mengerti.
“Tetap harus urus Pak. Bisa-bisa saya kena SP kalau enggak urus surat cuti. Bos saya galak,” canda Adit membuat dokter dan Dinda tertawa.
Sesuai dengan saran dokter, esoknya Adit sudah mulai tidak bekerja di kantor. Dia membahas semua persoalan dengan zoom saat anak-anak sekolah. Bahkan untuk mengantar sekolah saja Adit tidak berani. Dia menyuruh sopir dan tiga mbok keluar semua.
Dinda pun sama bekerja dengan zoom meeting dengan little five star beserta Shindu.
“Mas, berangkat yuk?” ajak Dinda.
“Berangkat ke mana? Anak-anak kan ditungguin sama Pak Pujo?” tanya Adit yang sedang membaca jurnal pencapaian divisi marketing.
“Ke rumah sakit.”
“Serius?” tanya Adit tercengang.
“Iya, mulai terasa Mas. Aku enggak berani menunda,” jawab Dinda santai.
“Ya sudah ayo,” balas Adit. Dinda menghentikan zoom meeting karena mulai terasa kontraksi.
Kalau Adit sudah sejak tadi berhenti karena dia hanya melihat laporan pekerjaan Kepala Divisi marketing saja.
“Aku ngabarin Pak Pujo biar anak-anak enggak bingung cari kita berdua. Dan biar para mbok tahu apa yang harus mereka lakukan.” kata Dinda.
Adit langsung mengambil kunci mobil dan mereka siap berangkat. Tas berisi baju bayi dan tas pakaian Adit serta pakaiannya Dinda sudah disiapkan di mobil sejak kembali dari dokter dua hari lalu. Memang semua siap di mobil jadi memang tinggal benar-benar berangkat. Mereka takut bila panik semua akan tertinggal.
“Kenapa Dit?” tanya Eddy menjawab telepon putra tunggalnya itu.
“Pa kita on the way ke rumah sakit.”
“Lho kok cepat?” Eddy tentu terkejut, dia takut Dinda mendapat masalah.
“Kamu enggak bilang sama Papa,” protes Adit.
“Aku enggak ingin Papa khawatir,” Jawa Adit tenang.
“Ya sudah, kasih tahu Papa di rumah sakit mana, ruang apa?” pinta Eddy.
“Rumah sakit yang biasa sejak Dinda melahirkan pertama. Ruangannya nanti aku kasih tahu setiba di sana,” balas Adit.
“Oke Papa on the way ke sana sebentar lagi,” Eddy mematikan laptopnya.
“Santai saja Pa. Enggak perlu keburu-buru.”
“Mau dibawakan apa?” tanya Eddy.
“Kalau bisa bawakan telur setengah matang Pa, sama madu dan makan siang buat kita bertiga aja,” pinta Adit.
“Ya Papa akan belikan di rumah makan depan rumah sakit saja biar aman,” balas Eddy sambil keluar ruangannya.
“Iya Pa,” jawab Adit lalu mereka mengakhiri percakapan.
Seperti kelahiran Ghaidan, Dinda tidak menjerit-jerit atau marah-marah di mobil. Dia tetap santai. Dulu ketika akan melahiran Ghaidan juga seperti itu.
“Bismillah ya Mas, kita lihat kejutannya apa,” ucap Dinda.
“Mas yakin ada satu perempuan Yank,” jawab Adit.
“Insya Allah, tapi kalau memang takdir kita hanya dapat laki semua ya sudah. Mas janji kan langsung mau berhenti?”
“Iya Sayank, kita berhenti ya. Kamu terlalu capek untuk hamil lagi. Semoga ini adalah kehamilanmu terakhir. Sesudah ini kita tinggal membesarkan anak-anak saja.”
“Ya Mas. Semoga aja ini kehamilan aku terakhir,” harap Dinda.
“Walau bagaimana pun aku tetap enggak akan nolak kalau diberi lagi.
Siapa tahu aja kan KB-nya gagal. Walau kemungkinan kegagalan satu banding sekian persen, aku enggak tahu. Tetapi setidaknya kemungkinan itu pasti ada.”
“Iya, bismillah aja semoga enggak gagal. Biar kita cukup dengan kelahiran bayi-bayi ini, walau seandainya tanpa perempuan.” balas Adit sambil mengarahkan mobilnya ke lobby rumah sakit. Dia akan menurunkan Dinda terlebih dahulu baru dia mencari parkir. Semua dia lakukan agar Dinda tak harus jalan jauh.
“Tapi kalau feeling Mas ada perempuannya.”
“Sekali lagi semoga aja ya Mas. Bismillah,” jawab Dinda.