GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KEMBAR BEDA KARAKTER



“Alhamdulillah bisa selesai lebih cepat ya Yah,” kata Dinda.


“Iya Bun. Alhamdulillah bisa lebih cepat, walaupun kita ngontraknya 2 bulan tapi ternyata 3 minggu saja sudah selesai,” ungkap Adit juga dengan penuh syukur.


“Sebenarnya sudah 3 hari lalu selesai pembangunannya. Cuma bersih-bersih semua debu luar dalam itu membutuhkan waktu lebih lama karena takut barang-barang pecah Mas Adit,” kata mbok Marni.


“Iya sih. Juga memang harus teliti biar Dinda lebih aman,” ucap Adit.


Dinda jadi merasa tak enak karena dia diistimewakan. Tapi memang sejak dia kecil alergi debu. Bukan dia mau bermanja-manja.


“Ayah ayo lihat kamar aku,” Kata Fari.


“Kenapa? Ada yang kurang atau enggak sesuai?” tanya Adit.


“Enggak, semuanya sesuai dengan keinginanku,” jawab Fari yang sudah hampir 5 tahun usianya. Semua yang ada di kamar itu memang hasil permintaan Fari yang ditanyakan oleh Adit.


Begitu pun kamar Iban, sesuai dengan kemauan anak tersebut. Adit bertanya keinginannya apa dan bagaimana lalu dia tuangkan menjadi kamar yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan anak-anaknya.


Kedua anak itu sejak lahir sudah terlihat sangat berbeda karakternya, itu sebabnya Adit dan Dinda tak pernah membelikan barang yang serupa buat mereka. Mereka selalu dibedakan bajunya, sepatunya, bukunya bahkan mainannya.


Maka sekarang karakter dua kamar putra kembar itu sangat berbeda walau pilihan warna dasar mereka sama yaitu hijau. Hanya beda gradasi.


Beda dengan kamarnya Aidan. Aidan masih sesuai dengan arahan dari Dinda. Aidan hampir 2 tahun usianya sekarang.


Dinda sedang memperhatikan kamar untuk bayinya. Di sana ada satu tempat tidur besar yang sekelilingnya bisa diatur pagarnya. Memang dibikin satu tempat tidur saja. Tak ada baby box untuk satu bayi. Taoi digabung dalam satu ranjang king size yang telah dimodifikasi dengan pager keliling yang bisa dipasang sesuai kebutuhan. Jadi memang tak permanen.


Walaupun ada 4 atau 5 bayi bisa masuk situ dengan kedua orang tuanya. Semua di pagari agar tidak jatuh. CCTV untuk ruang bayi juga sudah dipasang. Begitu juga dengan ruang anak-anak semua terpantau dari ruangannya Dinda.


Di dalam kamar bayi sudah ada freezer, microwave, juga dispenser panas dingin. Bahkan ada kompor portable kecil bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Ada lemari baju tempat memandikan bayi dan ada lemari baju yang sudah ada isinya. Warna baju-baju bayi ini netral semua. Kebutuhan bayi sudah disiapkan oleh Dinda, baik sabun, shampo kapas bayi, tissue kering dan tissue basah sampai diapers baby semua sudah ready.


“Apa yang kurang Bun?” tanya Adit sambil memeluk Dinda dari belakang. Dia memang baru masuk karena dia cari Dinda di kamar ketiga anak mereka tak ada.


“Belum tahu Yah kalau belum hadir babynya. Walau ini bukan bayi pertama tapi kadang kebutuhannya itu tak terduga. Kalau sekarang sih kayaknya cukup. Aku belum lihat ada yang kurang tapi entah nanti seiring berjalannya waktu.”


Kamar tersebut tidak bernuansa pink atau pun biru, sengaja dibuat cream agar netral. Ada campuran hijau juga kuning dan orange. Benar-benar warna-warna yang dibuat semenarik mungkin tapi semuanya soft, sangat lembut.


“Kita belum ada stroller loh  Bun,” kata Adit.


“Mau berapa puluh?” goda Dinda.


“Iih kok bandar sih?” protes Dinda.


“Ya dibilang juragan kok kayaknya enggak enak, dibilang Big Boss enggak mau ya udah bandar aja lah,” jawab Adit.


“Bandar tuh kayaknya kesannya negatif Yah, jangan Bandar lah,” protes Dinda.


“Apa maunya?” tanya Adit.


“Pedagang baju bayi eh perlengkapan bayi aja deh,” jawab Dinda.


“Tapi kamu tuh bukan pedagang. Kalau dibilang pemasok nanti konotasinya negatif juga.”


“Sudahlah, enggak usah ngomongin apa kata yang tepat buat statusku. Yang penting kalau soal stroller dan macam-macam sampai high chair juga mau berapa puluh tinggal ambil aja.”


“Ya Bos baik,” kata Adit menggoda istrinya.


“Lampu tidur mereka udah Yah?”


“Astaga benar Bun. Belum! Ini masih terang semua lampunya ,” jawab Adit yang malah lupa memasang lampu tidur untuk kamar bayi mereka.


“Janganlah Yah. Jangan biasakan mereka tidur terang, sama seperti kakak-kakaknya aja dibiarkan redup jadi mereka beneran rest.”


“Oke, nanti ayah siapin buat lampu tidur mereka. Untung Bunda bilang jadi sebelum mereka hadir sudah siap.”


“Yang belum siap malah pembalut aku Yah. Pembalut harus banyak banget kan namanya orang melahirkan,” kata Dinda.


“Memang Bunda belum beli?”


“Malah lupa, baru ingat barusan ini,” jawab Dinda.


“Ya wes nanti dibeli paling tidak 10 pak dulu ya?” jawab Adit.


“Iya 10 pak cukup untuk tahap awal,” kata Dinda. Mereka lalu kembali ke ruang tidur utama di sebelah ruang bayi


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~