GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TAK AKAN PERNAH PUAS



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Mas itu bukannya Meliana ya?” tanya Dinda melihat dari jauh Meliana berjalan menuju poli kandungan tempat mereka mau periksa juga. Hari ini memang jadwal Dinda periksa setelah 1 bulan lalu dia mengetahui bahwa dirinya hamil.


“Kalau dia rutin satu bulanan juga, berarti dia hamil tuh Mas,” duga Dinda.


“Ya sudah biarin aja. Bukan urusan kita,” kata Radite. Dia malas kalau ingat bagaimana bernafsunya Meliana pada dirinya saat dia sudah tak sadar diri.


“Enggak Mas, aku mau julidin.”


“Aduh, kamu ini hamil ini kok beda banget sih Yank?” kata Adit sambil mencium pelipis istrinya, karena mereka sedang jalan bersisian. Tak mungkin mencium kening.


“Iseng aja,” jawab Dinda.


“Kok usil banget?”


“Memang aku pengen usilin dia kok,” kata Dinda.


Saat Meliana sedang diukur tensinya Dinda mendekat.


“Suster, ini kartu saya,” kata Dinda. Meliana tentu kaget melihat ada Dinda di sebelahnya.


“Wah Ibu ini sudah hamil berapa bulan Suster? Bulan lalu juga barengan saya loh dia,” kata Dinda ramah. Meliana tentu tidak bisa melarang suster bicara. Suster yang tak merasa ada perseteruan antara dua ibu pun menjawab santai saja.


 ”Bu Meliana sekarang sudah masuk ke 14 minggu ya Bu kalau di data ini,” sahut suster melihat data rekam medis Meliana.


“Wah hebat ya sudah 14 minggu. Anak ke berapa ini ya dan suaminya yang mana ya?” kata Dinda sedikit keras sehingga beberapa pasien di sana menoleh pada Dinda yang sudah kembali duduk dekat Adit.


Meliana hanya bisa menunduk. Adit tak bisa melarang istrinya. Dia duduk menunggu tidak mengantar Dinda ke meja pendaftaran. Sebab kan Dinda baru akan ukur tensi dan timbang badan saja. Biasanya Adit yang naruh nomor antrian, karena ada Meliana maka Dinda yang daftar sendiri.


“Bu Meliana sudah ya timbang dan ukur tensinya silakan menunggu giliran ya Bu.” suster selesai mencatat data Meliana.


“Ibu Adinda Suryani,” Panggil suster.


“Tuh Yank kamu dipanggil untuk timbang dan ukur tensi.” ucap Adit.


“Ya Mas. Aku dengar kok. Mas usir aku biar Mas cepat duduk berduaan sama dia kan?” kata Dinda sambil tersenyum usil.


“Berduaan sama siapa? Banyak kursi kosong ngapain dia ke sini? Kalau dia berani ke sini aku yakin kamu langsung teriak. Kamu aja tadi teriak ‘kan biar orang-orang dengar saat kamu bilang suaminya yang mana?” Adit juga menggoda istrinya tersenyum.


Adinda pun balas tersenyum usil dia jalan ke meja pemeriksaan untuk ditimbang dan diukur tekanan darahnya.


Tak ada yang dilakukan Dinda, dia masukkan ponselnya ke tas lalu dia ngobrol dengan Adit. Saat Meliana dipanggil untuk masuk ke ruangan baru Dinda mengeluarkan ponselnya, dia foto Meliana yang sedang berada di depan pintu poli kebidanan jelas tertulis di situ poli kebidanan ada foto Meliana bagian dari samping.


Dengan usilnya Dinda memadukan foto tadi dia berdua dengan Meliana tampak depan terlihat baju dan gaya rambut Meliana sekarang. Digabung dengan foto Meliana di depan poli kebidanan.


Tadi camera ponsel Dinda stel menggunakan tanggal dan jam. Setelah digabungkan lalu Dinda langsung memposting : ibu ketua Yayasan suaminya siapa ya? Katanya lagi hamil 14 minggu loh.


Dinda memposting di media sosialnya, dia tag akunnya Meliana, akun Adit dan beberapa rekan SMA-nya Radite. Dinda kalau sudah dendam itu tidak akan mudah hilang.


Kembali Adit tak bisa marah pada Dinda karena memang itu kesalahan Meliana itu alasan pertama, alasan kedua karena Dinda sedang hamil, emosinya sedang sangat labil. Bisa bahaya kalau Adit menegur dan Dinda ngamuk. Padahal sekarang kondisi kehamilan Dinda ini sedikit rawan dan kejiwaan Dinda juga agak sedikit emosional. Jadi Adit tidak berani menegur Dinda soal usilnya menggoda Meliana.


Tentu saja postingan Dinda langsung rame komentar. Begitu keluar dari ruang periksa Meliana kaget karena memang dari tadi dia merasa ponselnya banyak motif masuk.


Meliana juga sama-sama sedang hamil dan dia juga emosional. Saat itu dia langsung melabrak Dinda dengan emosi.


“Kamu kurang puas ya nyakitin aku? Kamu kurang puas ya menghancurkan yayasanku?” teriak Meliana membuat semua orang melihatnya dan Adinda.


“Aku enggak akan pernah puas!” kata Dinda juga dengan suara taak kalah keras.


“Kamu sudah membius suamiku, kamu sudah menciumi suamiku yang sedang tak sadar dengan penuh nafsu dan kamu juga hendak menelanjangi suamiku!  Kamu ingin merekam seakan-akan kalian tidur bersama karena keinginan suamiku. Kamu mau peras suamiku dengan video buatanmu agar suamiku tunduk sama kamu! Ibu-ibu di sini biar tahu siapa kamu, kamu pelakor, perebut suami aku yang sedang tidak sadar karena di bius!”


“Sampai kapan pun aku enggak akan pernah puas nyakitin kamu, sampai kapan pun di mana pun akan aku sebarkan bahwa kamu hamil tanpa suami dan untungnya suami aku tidak pernah menyentuh kamu sebelum dia kamu lecehkan.”


“Apa perlu aku sebar video saat kamu ingin memperkosa suamiku?” teriak Dinda lebih sengit. Ibu-ibu di situ langsung kaget akan keributan itu.


“Sudah Yank. Ayo kita masuk,” kata Adit.


“Biarin Mas, Biar ibu-ibu disini tahu kenyataannya. Dia marahin aku duluan kok. Aku enggak ngapa-ngapain dia. Dia kan yang bius kamsampai buka baju kamu. apa aku mau bongkar video saat dia melecehkan kamu?” kata Dinda. Meliana langsung lari tak kuat menahan malu.


Beberapa suster bilang : “Hati-hati Bu kalau jatuh bayinya keguguran loh!”


“Mungkin dia memang berharap keguguran kan nggak punya suami,” kata beberapa ibu yang akhirnya terbawa arus dengan keributan tersebut.


Mendengar itu Meliana tambah malu karena banyak ibu yang sudah tahu. Dia bertekad akan pindah dokter saja karena rupanya jadwal dia bersamaan dengan jadwalnya Dinda.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok.