
“Alhamdulillah baby sehat Bu, nggak ada kendala dan ditinggal pun dia nggak rewel karena seperti yang Ibu ajarkan saya tetap kasih dia ASIP.”
“Berarti kamu makan harus benar-benar qualified, jangan cuma asal kenyang. Sama seperti waktu hamil kan saya rewel, kamu jangan asal makan yang tidak bergizi,” ucap Dinda. Dia memang selalu seperti itu bila orang terdekat hamil. Ketika Ajeng dan Puspa hamil dia juga sangat memperhatikan mereka.
“Ya Bu, saya makan benar buat anak kok. Saya nggak suka ikan demi anak saya makan ikan tiap hari, saya nggak suka su5u, saya minum su5u dan banyak ngemil keju. Pokoknya yang penting buat kualitas ASI saya.” “Benar itu sangat bagus,” ucap Dinda.
“Saya tak ingin kesempatan anak mendapat yang terbaik terlewat begitu saja,” kata Wika. Dia benar-benar menuruti apa yang diajarkan oleh Dinda.
“Kamu bagaimana San?” tanya Dinda Santi.
“Saya pasrah, Bu,” jawab Santi.
“Maksudmu bagaimana?” tanya Dinda. Wika pun memperhatikan Santi. Mereka satu team tahu awal jadiannya Santi. Bahkan mereka tahu saat menikah pun Ajat masih tak suka pada Santi.
Santi lalu menceritakan bagaimana terpuruknya Ajat karena kelakuan mamanya Mischa dan bundanya Farouq. Cerita lengkap ini juga baru Santi ketahui dari mulut Ajat satu bulan lalu.
Selanjutnya Ajat jadi benci perempuan dia juga tak mau dijebak oleh perempuan karena waktu bundanya Farouq adalah dijebak hanya ingin hartanya. Maka dibikin supaya dia hamil oleh karena itu sejak ditinggal bundanya Farouq, Ajat melakukan hal yang sangat frontal yaitu dia melakukan VASEKTOMI, tak ada yang tahu di keluarganya.
Setelah 5 bulan menikah Santi belum juga hamil mertuanya tentu saja bertanya kenapa Santi bisa belum hamil. Karena waktu mamanya Mischa itu hamil duluan, Ajat memang pacaran yang kelewatan. Dan waktu bundanya Farouq juga hamil duluan karena memang bundanya Farouq yang menjebak agar bisa dinikahi laki-laki kaya.
Makanya mertuanya tanya mengapa Santi tidak juga hamil setelah 5 bulan menikah. Santi diam saja tidak mengerti mengapa dia belum juga hamil padahal mereka telah melakukan hubungan suami istri tanpa jeda.
Tak ingin Santi dihukum oleh ibunya, akhirnya suatu malam Ajat mengaku bahwa dia telah melakukan vasektomi sehingga tak akan mungkin bisa seseorang mengaku hamil oleh dirinya. Tentu saja orang tua Ajat kaget dan tak percaya anaknya melakukan hal itu tanpa pernah berpikir panjang. Santi juga menyesalkan hal itu. Dia sedih karena tak akan pernah punya anak dari rahimnya. Tapi tetap aja dia tidak marah karena walaupun tak ada bayi dari rahimnya, ada dua anak yang dia cintai sepenuh hati bahkan melebihi cintanya Ajat pada kedua anak itu.
“Apakah setelah vasektomi tak bisa ada satu pun sperma yang bisa diambil dari Ajat sehingga bisa ditanam di rahimmu?” tanya Wika. Dia kasihan pada sahabatnya itu.
“Aku nggak tahu, walau jujur aku pengin punya anak dari rahimku. Tapi aku sih nggak masalah karena aku perempuan normal. Bukan aku yang bermasalah. Kalau aku tak bisa punya anak itu bukan salahku.”
“Sekarang suamiku yang seperti terpuruk, dia menyesal tak bisa membuahi aku. Aku juga nggak tahu kayanya dia sedang konsultasi apakah dia bisa punya satu aja anak dari aku. Tapi aku tetap aja nggak masalah sih. Aku sudah ada dua anak yang mencintai aku dan sangat aku cintai,” Santi menerima takdirnya dengan pasrah.
“Saran saya memang seperti itu Santi. Sayangi aja anak-anak yang ada sambil berharap ada keajaiban bahwa kamu nanti diberi momongan sendiri. Sekarang sayangi dan syukuri semua yang ada, karena mereka itu hadir di dunia bukan kemauan mereka kok,” kata Dinda dengan lembut.
“Iya Bu, jawab Santi. Mereka pun mulai makan dulu, nanti baru akan membahas masalah kantor sesudah makan siang.