
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Hari ini Adit kembali mengawasi sekolah tempat dia akan kontrak dengan Meliana. Baru tiba, belum juga dia parkir dia melihat di depannya terparkir mobil keluarga keluaran baru. Adit melihat Adinda sedang membuka pintu mobil. Jantung Adit langsung berdegup kencang.
“Ternyata mereka ada di sini,” kata Adit. Adit langsung membuat video dengan di zoom agar Papanya bisa melihat jelas.
Adit melihat Adinda membuka pintu mobil super mewah untuk keluarga bukan mobil sport lagi seperti zaman dia sendirian dulu.
Selanjutnya Adit melihat seorang perempuan yang tidak terlalu muda turun dari pintu belakang.
Adit tahu Adinda tak akan mungkin cari pegawai muda karena dia tak mau diselingkuhi walau gimana pun dia masih trauma. Yang dibawa Dinda saat ini adalah seorang ibu cukup umur berusia sekitar 40-an.
Adit terus merekam aktivitas mereka. Adinda menurunkan Ghibran lebih dulu yang langsung digandeng pegawainya, lalu baru Ghifari Dinda turunkan dan gandeng agar kedua anak itu tidak berlarian ke sana kemari.
“Eh nggak boleh, nggak boleh,” kata Dinda sambil menggerakkan jari telunjuknya, tentu tak terdengar suaranya dari dalam mobil Radite.
\*\*\*
“Sudah lihat Pa?” tanya Adit.
“Lihat apa? Papa baru sampai kantor.” Eddy tak tahu apa yang Adit tanya.
“Mereka ada disini Pa. Mereka ada disini. Kita harus percepat kontrak agar terlihat bahwa kita memang bekerja di yayasan ini bukan sedang mencari Dinda,” ujar Adit menggebu. Eddy sangat senang melihat bahwa ada titik terang tentang kedua cucunya.
‘*Ternyata insting seorang ayah membuat Adit langsung bisa tahu bagaimana mencari anak-anaknya*,’ batin Eddy. Eddy melihat kedua cucunya sudah jalan sendiri menuju kelas.
Adit membuat video bagaimana si kecil berlari ke sana kemari memberi salam pada miss atau gurunya.
“Wah aku enggak bawa sesuatu yang bisa menutupi jati diriku mengikuti kegiatan mereka. Bahaya kalau aku terlihat secara langsung. Bagimana ya caranya biar aku bisa melihat kedua si kembar mengikuti pelajaran?”
Adit berpikir bagaimana dia bisa mengawasi si kembar dan mencari tahu tempat tinggal mereka.
“Meliana!” kata Adit, dia langsung mendapat solusi bagaimana dia melihat keduanya dengan tak terlihat sebagai penguntit. Adit bergegas turun dari mobilnya.
“Bisa bertemu dengan ibu Meliana,” tanya Adit pada resepsionis yayasan.
“Dengan Bapak siapa dan ada perlu apa?” tanya si resepsionis.
“Dengan bapak Radit. Saya ingin bertemu Bu Meliana untuk membahas program kerja pengadaan kelas bayi,” kata Radit.
“Baik Pak saya tanya dulu apakah beliau ada waktu untuk bertemu Bapak,” jawab resepsionis dengan ramah.
“Baik terima kasih. Saya tunggu,” jawab Radit sambil memperhatikan lingkungan yayasan dengan saksama.
“Hey Dit, ada perlu apa?” tanya Meliana yang menyambut Radit di depan lobby. Meliana tidak mempersilakan masuk ke ruangannya malah keluar menyambut Radite.
“Meliana, aku mau lihat ruangan yang sudah ada di yayasan ini, sehingga nanti aku bikin yang beda dari yang sudah ada,” jelas Adit dengan santai. Tujuan utama adalah melihat kelas putranya juga menunjukkan jati dirinya sedang bekerja. Bukan sedang membuntuti Adinda.
“Boleh. Tentu saja boleh,” jawab Meliana senang.
“Bisa temani aku sebentar atau kamu nyuruh orang buat mendampingi aku biar aku bisa tanya-tanya,” giring Adit. Kalau Adit inspeksi sendirian tentu tak terlihat sedang bekerja kan?
“Sama aku aja lah, enggak apa-apa,” jawab Meliana dengan manis.
“Ayo,” ajak Radite. Meliana pun mengajak Radit berkeliling ke kelas-kelas. Radite mencatat dalam ponselnya apa yang Meliana katakan, padahal matanya lirak-lirik nyariin sosoknya Dinda dan kedua anaknya.
“Ayo aku kasih lihat kamu kelas yang sedang digunakan agar bisa melihat realnya dan aku berharap kamu bikin yang lebih baik dari itu,” kata Meliana.
“Oke,” jawab Radit.
Meliana membawa Radite masuk ke ruang kelas yang ada Gibran dan Ghifari. Kedua anak itu membelakangi pintu masuk sehingga tak melihat Radit tapi Dinda melihat dengan jelas kedatangan Radite dan Meliana.
Radit terus bicara dengan Meliana seakan tidak melihat Dinda. dia selalu menunjuk apa yang dia tanya agar terlihat bahwa mereka memang sedang wawancara tentang ruangan.
Radit melihat dari kaca bagaimana wajah si kembar di depan dua orang gurunya mereka sedang bermain puzzle dari kayu
“Yey Fari bisa,” puji gurunya.
“Azam bisa juga. Pinter,” kata miss yang satunya lagi.
“Nurul pintar deh atur warnanya,” puji guru yang tadi memuji Fari.
‘*Apa mas Radite tak melihat aku*?’ pikir Dinda dengaan degub jantung tak beraturan.
Ada rindu, marah, cemburu semua bercampur jadi satu.
“Aku rasa kelas ini cukup deh, aku mau lihat yang lain,” kata Radit. Dia tak mau terlalu mencolok. Yang penting sekarang Dinda sudah tahu kalau dia akan sering datang ke yayasan karena terkait pekerjaannya. Bukan karena menguntit dirinya.
“Kayaknya cukup,” kata Radit pada Meliana. Sebenarnya tujuannya hanya memperlihatkan pada Dinda bahwa dia ke situ bekerja bukan mencari Dinda.
“Aku rasa nanti orangku yang akan ke sini minggu depan untuk tanda tangan proyek dan mengukur segala macamnya,” kata Radite lagi.
“Loh, bukannya kamu yang tanda tangan MOU?” tanya Meliana.
“Yang tanda tangan biasanya sih bisa aku, bisa sekretarisku, bisa papaku atau malah bisa istriku. siapa aja yang sempat. Cuma kalau untuk pengukuran ruang dan segala macamnya kan harus arsiteknya biar lebih valid. Aku ini bisa apa sih?” kata Adit merendah.
“Kamu tuh paling bisa deh dari dulu, eh gimana anakmu?” tanya Meliana.
“Baik, mereka baik.”
“Mereka? Kamu sudah punya berapa anak?” tanya Meliana.
“Istriku me;ahirkan anak kembar lelaki, sekarang mereka berumur satu setengah tahun,” jelas Adit.
“Wow, aku jadi kepengen kenal istrimu,” ucap Meliana. Dia ingin tahu perempuan seperti apa yang bisa menaklukkan pria brengsek seperti Adit.
“Nanti kapan-kapan aku kenalkan,” kata Adit.
“Dia perempuan terhebat dan tak akan mungkin tergantikan oleh siapa pun,” kata Adit lagi.
“Kayaknya aku pamit dulu deh sudah terlalu lama. Yang penting aku sudah tahu dengan gamblang bagaimana gambaran yang akan dibuat nanti. Mungkin lusa aku ke sini lagi dengan arsitekku untuk memastikan,” Adit tentu tak ingin membuang kesempatan melihat dua putranya.
“Oh lusa, enggak besok?” tanya Meliana.
“Besok aku takutnya arsiteknya enggak bisa karena belum atur waktu. Takutnya dia enggak bisa,” Adit beralibi soal jadwal esok hari.
Adit sudah tahu jadwal sekolah itu hari Senin, Rabu, Jumat atau hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kalau dia datang besok berarti tidak ada kelasnya Ghifari dan Ghibran. Tentu Adit tidak mau.
\*\*\*
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok