
“Ini tadi siapa yang nusukin satenya?” tanya Dinda lembut.
“Kalau yang motongin daging kambingnya itu bibik,” jawab Ghaylan. Putra bungsunya ini sering menyebut para mbok itu dengan sebutan bibik. Suka-suka dia lah.
“Lalu kami yang tusuk-tusukin,” kata Ghazanfar menyambung omongan adik kembarnya.
“Yang potong paprika, sosis itu Ghaidan setelah dapat contoh dari mbok,” ucap Gathbiyya.
“Tapi ini beda Bun cara bikin sate kambingnya,” Ghifari memberitahu Dinda apa yang mereka lakukan dengan daging kambing.
“Beda di mananya Mas?” tanya Adinda.
“Kalau di tukang sate kan dagingnya sudah ditusuk-tusuk di bambu baru direndam dengan bumbu. Kalau tadi potongan dagingnya di marinasi dulu jadi sebelum ditusuk sudah direndam dengan minyak wijen dan saus tiram baru dibakar dan diberi bumbu. Itu arahan chef Biyya,” jawab Ghibran.
“Wah anak Bunda nih hebat semua ya. Kalian malah bikin sesuatu yang beda dari yang biasa dijual,” ucap Dinda bangga.
“Tapi satenya memang enak banget, kebetulan mbok juga beli daging kambingnya muda jadi enak,” ucap Dinda yang tadi iseng membakar lebih dulu dua tusuk sate kambing dan sempol ikan.
“dan terima kasih banget yang sudah bikin sate khusus untuk Bunda,” kata Dinda.
Ghaidan memang sudah membuat sate khusus untuk Dinda yaitu hanya berupa lemak kambing saja tanpa daging. Itu sate kambing kesukaan Dinda.
Hanya ada 5 tusuk dan semua memang dikhususkan buat Dinda. Kalau tusukan yang lainnya dicampur itu bisa dimakan yang oleh orang lain tapi yang khusus lemak hanya buat Dinda.
Dinda, Adit dan Eddy bangga akan cinta kasih anak-anaknya mereka memperlihatkan dengan cara khas seperti tadi itu.
Mereka juga cerita sengaja bikin juga sate ayam buat kakek mereka tercinta karena kakek tak makan udang mau pun kambing. Bukan tak makan sih sebenarnya, tapi tidak boleh oleh Dinda.
Ghifari minta ikannya dibuat menjadi sate ikan atau sempol. Sengaja dibikin menjadi sempol ikan bukan bakso ikan sehingga memang bentuknya sudah panjang-panjang siap dibakar. Tentu saja kalau sempol ikan kakek makan karena bukan dari udang.
“Ayah nggak bosan-bosan makan sempol. Ini enak banget,” ujar Adit.
“Pastinya enak lah Yah, karena komposisi daging ikannya kan memang beda dengan yang dijual. Kadang yang dijual itu hanya lebih banyak perasa,” jawab Dinda.
“Iya benar. Beda banget,” kata Eddy.
“Wah iya, besok kita bikin otak-otak ikan” jawab Dinda. Dia sangat suka makanan khas itu.
“Siap besok kan hari Sabtu jadi bisa bikin untuk snack sore,” jawab mbok Marni.
“Jangan lupa sambal kacangnya Mbok,” jawab Dinda lagi.
“Iya, nanti akan saya bikinkan sambal kacang yang super pedas dan sambal kacang tanpa cabe atau pakai cabe satu buat bapak,” jawab Mbok Marni. Bapak maksudnya adalah Eddy.
“Iya Mbok, besok bikinkan ya. Saya takutnya masih sibuk dengan urusan rumah sakit,” ucap Dinda.
“Iya, akan saya bikinkan otak-otaknya. Besok pagi paling saya beli daun pisang dulu untuk membungkus. Kalau ikannya masih cukup banyak dan tepung tapiokanya juga ada kok,” jawab Marni, mbok paling lama bekerja pada Eddy.
“Wah kakek sudah membayangkan enaknya makan otak-otak,” jawab Eddy.
Adit menyuapi anaknya satu-satu yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing.
“Enak ‘kan?” kata Adit.
“Enak sih Yah, cuma sausnya bukan kesukaan aku deh,” jawab Ghaylan.
“Ini memang saus kesukaan Ayah, makanya Ayah cicipin ke kamu biar kamu merasakan sedikitlah beda rasa dengan yang kamu suka,” jawab Adit.
Dia pun menyuapi Ghazanfar yang sedang sibuk membakar udang dengan kombinasi paprika dan keju.
“Ayah lagi nunggu nih udangnya kapan mateng,”ucap Adit sambil menyuapi Ghaidan. Dia berkeliling dari satu anak ke anak yang lain.
“Ayah sih dari tadi makan doang. Nggak mau ikut bakar kayak kita,” protes Ghatbiyya.
“Ayah kan bagian keliling nyuapin kalian satu persatu,” jawab Adit tak mau kalah.
Eddy sekali lagi menatap keseruan anak dan cucunya itu, dia bahagia.