GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
DIPANDANGI WC UMUM



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Hari kedua di Solo, Eddy meminta anak-anak bermain di homestay saja karena gerimis. Dinda bermalas-malasan di kasur bersama Aidan.


“Malas ah Mas,” jawab Dinda kala Adit mengajaknya makan soto batok.


“Kita bawa Fari dan Iban koq,” bujuk Adit.


“Baiklah,” jawab Dinda. Dia tahu Adit sedang fase ngidam. Walau kandungan sudah lewat trisemester pertama, tetap saja Adit sering ingin sesuatu.


Mereka pergi hanya berempat, tanpa sopir.


“Yah, kalau ada yang soto batok sekalian dengan sate buntel ya? Bunda ingin itu,” pinta Dinda. Di depan anak-anak mereka tak boleh menyebut diri mas, karena akan ketukar dengan Fari dan juga anak-anak ikut memanggil Adit dengan panggilan mas.


“Oke, sepertinya di depan stasiun Purwosari ada soto batok yang ruamee Bun, sebelahnya ada sate buntel. Nanti kita duduk di sate buntel aja, Ayah biar minta soto pesanan Ayah diantar ke situ,” jawab Adit. Adit cukup mengenal kota Solo, karena Ina sang mama asal Palembang tapi sejak kecil di Solo. Sehingga Ina merasa dia asli Solo.


Eddy yang asli Lampung tidak mau dipanggil eyang atau mbah. Dia lebih suka dipanggil kakek. Sedang Adit tentu produk Solo. Eddy dan Ina kuliah di Solo saat S1-nya.


“Mamas sama Abang habiskan ya, satenya sudah tidak pakai tusuk. Tapi kalau mau yang pakai tusuk juga bisa,” Dinda menyiapkan makan kedua putra kembarnya. Dia juga memesankan sop kambing dengan minta dagingnya dipotong kecil-kecil lebih dulu.


Adit menghabiskan satu porsi soto batok yang tentu tak membuatnya cukup kenyang. Dia hanya butuh untuk memenuhi keinginan ngidamnya saja. Untuk membuatnya kenyang dia makan nasi dan gule kambing.


Adit sibuk dengan kedua putra mereka. Dia menawarkan gule miliknya.


“Pedas Yah,” sahut Iban sambil menggeleng.


“Enggak,” jawab Adit.


“Perempuan itu siapa Mas?” tanya Dinda berbisik.


“Mana?” tanya Adit.


“Mata dia tak lepas memandangmu sejak tadi,” Adit menengok arah matanya Dinda lalu dia melihat seorang perempuan agak kurus dengan outfit yang modis tapi sedikit terbuka.


“Jadi dia salah satu perempuanmu?” tanya Dinda.


“Bukan perempuanku lah. ‘Kan kamu yang bilang perempuan seperti mereka itu WC umum,” jawab Adit. Dia tak mau lagi menoleh ke perempuan yang ditunjuk Dinda. Dia lebih focus makan sate bersama kedua putranya.


“Lalu kenapa dia tak lepas memandangmu? Masih ingin bertukar peluh kah?” jelas nada suara Dinda penuh kecemburuan.


“Yank, please jangan bikin ribut. Jangan bikin hatimu marah sehingga emosimu lebih tinggi. Kamu tahu cintaku cuma buat kamu. 10 perempuan seperti dia telanjang di depanku pun sekarang aku tidak akan pernah peduli. Cuma kamu yang ada dalam pikiranku. Kamu ingat itu,” kata Adit memegang jemari istrinya.


“Please Yank, jangan kotorkan pikiranmu dengan hal-hal buruk seperti itu. Ingat kita sudah punya tiga anak balita sekarang, akan tambah lagi anak-anak lainnya. Masak persoalan kita enggak selesai-selesai? Cukup ya Yank. Cukup! Jangan bikin emosimu naik ya, aku cuma sayang kamu. Kamu ingat itu!”


“Cinta yang papa punya ke mama, itu juga sama dengan yang aku punya ke kamu. Enggak ada yang bisa ganti walau dulu pernah ada Shalimah, tapi kamu ingat dia bukan cintaku. Aku hanya merasa berhutang budi sama dia, terus aku dijebak dia. Kamu tahu kan itu. Kami bersama hanya karena ada Bram,” kata Adit dengan sangat pelan dan lembut.


“Memang Shalimah adalah kesalahanku yang teramat fatal, tapi tak ada cinta. Aku sejak dulu cuma cinta kamu dan tak akan pernah berpaling. Aku sudah tahu bagaimana sakitnya kamu hamil. Aku sudah tahu bagaimana sakitnya kamu melahirkan. Tak akan pernah ada perempuan yang bisa menggantikan kamu buat aku,” Dinda sejak tadi hanya menatap mata Adit yang juga menatap matanya dia melihat ketulusan di situ.


Dinda melihat Adit memang bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab dia bertanggung jawab pada Bram dengan sepenuh hati wlau tak menikahi ibunya anak itu.


Bahkan Adit juga bertanggung jawab pada kesalahan yang dia buat dengan tidak menerima gaji walau bekerja full. Kurang apa coba kesetiaan dan tanggung jawab Adit? Jadi Dinda yakin Adit memang tak akan berpaling. Permasalahannya bukan pada Adit, tapi pada lalat ijo di luar sana. Seperti terjadi dua bulan lalu dengan anaknya Bu Rahma semua adalah bukan faktor dari Adit.


“Iya Mas, aku ngertiin kamu. Tapi di lingkungan, banyak sekali masalah yang menghampirimu. Itu yang aku tidak kuat.” Keluh Dinda.


“Sudah Sayank, enggak usah diurusin mereka itu. Kita fokus ke keluarga kita aja ya,” kata Adit membujuk istrinya.


“Iya Mas, kita harus berpegang tangan agar kekuatan kita full. Kita punya anak-anak yang merekatkan kita,” Kata Dinda memandang dua buah cinta mereka yang kekenyangan. Mereka sedang menunggu sate, gule dan sop yang Dinda pesan untuk di home stay.


“Nah gitu dong, istri Mas yang paling teladan. Kita harus berpegang tangan supaya kuat tidak terjatuh oleh ombak.”


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.