GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MATI KUTU



“Silakan kalian lanjut diskusi karena sebentar lagi Gultom datang. Saya lebih baik pergi karena saya tak ingin terlibat dalam masalah ini,” kata Dinda. Dia memang sudah mengatur waktu agar Gultom datang ke ruangan ini.


Ruangan ini dipesan atas nama opung, sengaja agar Gultom tahu bahwa dia dipanggil oleh ibunya bukan oleh Dinda. Dinda segera keluar menerima lewat pintu belakang. Pada saat bersamaan dia melihat mobil Gultom masuk.


“Sudah pesan Pak?” tanya penjaga pintu.


“Sudah. Atas nama ibu Sihombing” balas Gultom. Dia bingun ada urusan apa ibunya aminta dia datang tepat waktu. Tak boleh lebih cepat apalagi terlambat.


“Baik, Mari saya antar ke ruangan tersebut,” jawab petugas cafe.


Gultom masih bingung mengapa ibunya memanggil dia ke cafe seperti ini. Mengapa tak ambil ruang biasa saja di depan seperti pengunjung cafe umum.


Saat pintu terbuka Gultom langsung mati berdiri. Di sana dia lihat inangnya duduk diam dengan muka penuh amarah dan ada dua istrinya yaitu Niken dan Cilla.


Tentu saja Gultom tak bisa berkutik lagi.


“Ada apa ini Inang?” tanya Gultom berupaya tenang.


Tanpa bisa dimengerti oleh Cilla dan Niken, Inang bicara. “Sampai kapan pun menantu Inang hanya Sondang. Kalau kamu masih mempertahankan dua perempuan ini silakan ceraikan Sondang! Karena buat Inang hanya Sondang yang anak Inang. Begitu pun cucu tidak ada cucu dari orang lain selain Sondang,” kata sang Inang dalam bahasa Batak yang tidak dimengerti oleh Niken yang asli Solo juga oleh Cilla yang asli Manado.


“Ini kan laki-laki yang bilang saya sudah mati?” kata inang pada kedua perempuan muda di sana.


“Dan laki-laki ini bilang dia sudah hidup sampai kuliah sendiri sejak SMA. Nikmatilah saja kebohongan yang dia buat sampai dia berani bilang saya sudah mati. Jadi di depan saya dia pun sudah mati! Kalian bicara saja dengan suami kalian ini yang bilang bahwa istrinya mandul padahal punya dua anak sudah SD kelas 6 dan SD kelas 4.”


“Sejak hari ini dua anak itu bukan lagi anak dia dan istrinya pun bukan lagi istri dia. Aku yang akan berdiri menjadi pelindungnya Sondang,” lalu inang pun keluar ruangan itu.


“Jelaskan Bang apa maksud semua ini?” kata Cilla.


Niken hanya memandang Gultom tak percaya lelaki yang dia cintai ternyata penipu ulung.


Gultom tak percaya dia bisa dikuliti sampai sedetail itu oleh inang, Cilla dan Niken.


“Tak usah bingung Bang, aku mundur. Walau punya anak sekali pun aku tak takut. Terima kasih kamu telah menipu aku. Aku mundur bukan karena takut tak diberi nafkah. Tapi karena tak rela dibuat keset kaki dan jadi korban penipuanmu!” ucap Cilla.


“Maaf Bang saya juga mundur. Saya tidak mau menikah dengan seorang penipu,” kata Niken.


“Silakan Abang dekati aja itu anak yang baru lulus SMA. Mungkin dia mau ditipu dengan uang receh mu. Sekarang kamu sudah tak punya apa pun yang bisa kamu berikan pada calon istrimu itu, karena semua gaji dan bonusmu langsung masuk ke rekening Sondang,” jelas Niken lagi. Dia pun langsung keluar dari ruangan itu.


“Maaf Pak. Bapak tidak bisa keluar sebelum membayar semuanya,” tahan petugas saat Gultom akan keluar ruangan.


“Bayar apa ya? Saya nggak minum apa pun,” kata Gultom menolak permintaan pegawai cafe.


“Tapi semua tamu tadi minum Pak. Walaupun tidak makan dan itu dibebankan pada Bapak, kata ibu Sihombing tadi kalau Bapak tidak percaya bapak silakan hubungi bu Sihombing.”


“Berapa?” jawab Gultom kesal.


“Hanya 328.000 rupiah Pak.


“Hanya minum saja koq sampai 328.000?” tanya Gultom tak percaya.


“Sekalian sewa ruang VIP-nya Pak. Karena itu juga kena charge,” jelas petugas itu.


Gultom tak punya uang cash sebanyak itu. Uang cash di dompetnya hanya rp 200.000, karena kemarin habis memberikan Pratiwi jajan rp 500.000.


Gultom memberikan kartu ATM-nya untuk dipotong debit karena kemarin kartu kreditnya sudah diambil oleh Sondang.