
“Seperti biasa ya jam 01.00 jadwalnya,” pinta Dinda pada Irene sekretarisnya dia selain Shindu.
“Iya Bu. Jam 01.00. Sudah saya umumkan kok,” ucap Irene.
Dinda sudah pulang dari Australia 3 hari lalu kemarin dia mulai beraktivitas di kantor. Dan saat ini sedang mengatur jadwal untung meeting dengan staff atau dengan klien.
“Baik kalau seperti itu, saya tidak salah atur jadwal, karena kalau pagi saya fokus di penelitian data. Jangan pagi-pagi saya meeting dengan semua staf bikin saya bad mood,” kata Dinda.
“Iya Bu, saya mengerti,” jawab Irene.
“Bilang pak Shindu data yang kemarin sudah saya berikan untuk diperbaiki,” ucap Dinda.
“Tadi dia sudah perbaiki kok Bu. Sepertinya sudah ada di email Ibu,” jawab Irene.
“Oke sebentar, saya belum buka email pagi ini,” jawab Dinda. Memang pagi itu dia baru datang, jadi belum buka email. Sejak dulu dia bekerja, dia tidak pernah mau bekerja di luar jam kantor. Di luar jam kantor dia benar-benar menjadi dirinya sendiri. Jadi sepanjang perjalanan ke kantor dari rumah pun dia tak buka email. Begitu tiba di rumah dia adalah ibu 6 orang anak dan istri dari Radite. Tidak ada pekerjaan beban kantor maupun pekerjaan usahanya. Pekerjaan usaha sering dia lihat sesudah selesai urus anak-anak baik makan ngobrol maupun persiapan tidur. Karena anak-anak tak ada PR, tapi tiap hari mereka wajib diajak bicara baik secara personal maupun secara keseluruhan dengan anak lainnya. Tak ada hari tanpa obrolan. Itu hal wajib yang Adit dan Dinda lakukan agar mereka tidak kehilangan momen pertumbuhan anak-anak.
Untuk usahanya sendiri Dinda juga sering mengambil waktu di jam kantornya. Dua-duanya memang usaha milik dia sehingga bukan curang namanya semua tetap dia lakukan saat jam kerja.
Dinda langsung menyalakan komputer mejanya bukan laptop. Di meja kerjanya memang ada komputer meja.
Dia perhatikan email dari Shindu hasil revisi dari coret-coretan dia kemarin.
“Irene, kamu ke sini sebentar deh,” panggil Dinda melalui intercom.
“Ini kemarin coretan saya seperti ini ya. Semuanya sudah fix ada tapi ada satu ini yang kurang dari pak Shindu. Kamu tolong kasih tahu satu ini saja pak Shindu mungkin tidak teliti, tapi untuk urusan lainnya sudah,” kata Dinda.
“Kok aku jadi kepengen sate kambing waktu hamilnya Ghifari dan Ghibran? Padahal aku sudah bawa makan siang,” ucap Dinda.
“Nanti saja lah pulang kantor aku dan Mas Adit ke sana untuk beli sate dan tongseng lalu aku bawa pulang,” kata Dinda sambil kembali meneruskan memperhatikan data di layar.
“Iya Mbok. Nggak usah masak buat makan malam ya. Yang buat makan siang saja,” Dinda menghubungi orang di rumah.
“Kalau sudah terlanjur yang buat makan malam di pending saja. Atau disimpan setengah matang di freezer. Bisa digunakan untuk besok pagi. Aku rencananya nanti pulang kantor mau beli sate kambing dan tongseng untuk makan malam kita,” ucap Dinda selanjutnya. Dia langsung menghubungi Bu Siti memberitahu tidak usah masak makan malam.
“Loh Mas kok ke sini?” tanya Dinda. Dia tidak mendengar Adit mengetuk pintu. Mungkin saat dia bicara dengan Bu Siti.
“Ajat ngabarin Santi sudah dibawa ke rumah sakit dan barusan dia bilang sudah pembukaan 7,” ucap Adit pada istrinya.
“Alhamdulillah,” jawab Dinda. Dia langsung mengambil ponselnya dan memberitahu Ajeng.
“Kalian bikin jadwal ya, kapan datangnya. Jadi jangan barengan. Kasihan kalau barengan, dia nanti bengong kalau tidak ada yang datang,” kata Dinda. Dia tahu ibu baru melahirkan itu sering menghadapi baby blues akan bengong kalau tak ada teman.
“Siap Ibu komandan. Saya yang bikin jadwal kunjungan.” balas Ajeng.
“Masukin juga Puspa, Velove, Ratih ( istri Fahrul ) dan Bu Sondang,” kata Dinda.
“Baik Bu akan saya arrange jadwal kunjungannya.” jawab Ajeng.