GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MENGALAMI PERUNDUNGAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Darling Harbour itu ada dua tempat Sea Life Sydney Aquarium berada tidak terlalu jauh dari Wild Life Zoo, dua-duanya ber-ac tapi kayanya walau satu tempat enggak bisa kita jadiin satu hari kunjungan. Lebih-lebih bawa anak-anak karena satu adalah berisi hewan laut dan yang kedua adalah hewan di luar laut,”  kata Adit.



“Ya sudah besok yang Sea Life dulu aja, jadi ada pergantian jenis hewan dulu. besok kita lihat hewan laut. Hari berikutnya baru kita lihat kebun binatang yang lain,” kata Dinda.



“Ya oke, gitu juga enggak apa apa,” jawab Eddy.



“Terus kapan kamu mau cek grosir?” tanya Adit.



 ”Gini aja, kalian berdua yang cek grosiran atau sekalian belanja misalnya langsung kirim ke Bekasi. Papa biar jaga anak-anak. Di hotel ini juga ada playground buat anak-anak. Atau bisa seharian main dan nonton serta makan di kamar aja,” kata Eddy.



“Boleh kalau Dinda nya mau. Aku sih why not? Enggak apa-apa aku temenin dia belanja,” jawab Adit tanpa ragu.



“Aku takutnya kalau belanja enggak berkesinambungan,” jelas Dinda ragu.



“Maksud kamu bagaimana?”



Ya pas aku belanja, banyak yang suka, eh besok lagi mau belanja bagaimana kalau aku enggak tinggal di sini?” tanya Dinda.



“Ya kita pesan online aja,  kita beli dari Jakarta langsung kirim ke Bekasi. Enggak perlu kita tinggal di sini buat belanja. Kan kita sudah tahu tokonya, juga sudah tahu bagaimana kondisi barangnya. Kita tinggal pesan item-item yang kita butuhkan,” Adit memberi saran soal belanja barang yang Dinda butuhkan,



“Ya sudah gitu, aja kalian belanja seharian Papa jaga anak-anak bisa kok. Eddy memang sengaja memberi kesempatan Adit dan Dinda untuk pergi berduaan.



“Ya sudah oke Mas gitu aja,” Dinda setuju.



“Jadi besok kita ke Sea Life lalu lusa kita belanja, biar anak-anak istirahat sama Papa. Sesudah itu baru ke Wild Life Zoo, dan hari berikutnya kita pulang,” kata Adit.



“Eh jangan langsung pulang lah kita belum main di tempat yang lain. Paling tidak kita berfoto di tempat-tempat yang terkenal di sini,” pinta Dinda.



“Kalau foto enggak ada gunanya buat anak-anak, itu kan kalau buat kita doang. Anak-anak mah enggak ada kenangannya kalau cuma foto di tempat icon-nik itu,” kata Adit.



“Iya sih,” jawab Dinda lemah.



“Ya sudah pokoknya besok kita ke Sea Life dulu, di hari yang lainnya baru kita omongin besok,” jawabnya sambil membereskan tempat makan dan ditaruh di meja sorong yang dari hotel. Lalu dia taruh di depan pintu kamar hotel. Nanti petugasnya tinggal bawa enggak usah ketuk pintu dia lagi.



Di Sea Life Aquarium ini memiliki 8 zona. Salah satu zona menawarkan hingga 700 spesies hewan dan juga 1.300 jenis ikan yang khas Australia. Ghibran dan Ghifari sangat senang melihat banya ikan di sekeliling mereka. Mau Hiu, mau Paus, mau Pari, mau Dugong semua adalah IKAN buat kedua anak itu.



Setidaknya sebagai orang tua Adit dan Dinda sudah memberi mereka pengetahuan. Bukan diajak wisata ke lokasi yang tak tepat misa di bawa ke museum atau ke pasar malam.



“Mas aku mau ke kamar mandi sebentar, anak-anak sama papa di tempat istirahat barusan,” kata Dinda sambil menyerahkan camera pada Adit.




“Pa, sebentar ya Pa. Kok perasaanku enggak enak,” Adit langsung memakaikan Papanya gelang keamanan dengan anak-anak atau CHILD SAFETY WALKING agar kedua anaknya tidak tercecer bila Papanya memperhatikan salah satu dari cucunya.



“Ada apa?” kata Eddy. Mereka memang sering punya firasat yang tak boleh diabaikan. Kali ini Adit yang punya firasat.



”Enggak tahu, Dinda pamit ke kamar mandi, tapi aku yang punya perasaan enggak enak. Aku takut dia kenapa-kenapa,” kata Adit.



Adit langsung berlari menuju ke kamar mandi perempuan. Di situ memang agak sepi yang Dinda tuju tadi. Saat Adit tiba terlihat seorang perempuan yang baru keluar tergesa-gesa.



“Kenapa anda tergesa-gesa?” tanya Adit.



“Ada dua orang yang sepertinya hendak berbuat tidak baik pada seorang perempuan,” Adit langsung masuk. Dia melihat Dinda sedang akan dilecehkan.



Tanpa buang waktu Adit langsung memukul seseorang dan yang lainnya dia tendang. Saat itu perempuan yang tadi berlari datang bersama tiga orang penjaga keamanan. Rupanya dia lapor pada penjaga keamanan bahwa ada seorang perempuan yang diserang dua orang sepertinya mabuk obat,  memang tidak ada bau atau apa pun dimulutnya,  tapi mata mereka merah.



“Sabar Sayank, ini Mas,” bujuk Adit.



Adit diminta membawa Dinda ke kantor keamanan untuk memberi keterangan. Dinda menangis di pelukan Adit. Dinda tak percaya di tempat seperti ini malah mendapat perlakuan yang tidak baik.



Perempuan tadi rupanya berbuat sangat tepat, yaitu mencari pertolongan tenaga keamanan karena kalau Adit satu lawan dua juga mungkin agak keteteran.



“Sudah Sayank, sudah sudah, ada Mas di sini. Tenang ya,” kata Adit.



“Dia istri kamu?” tanya perempuan yang tadi menolong.



 ”Ya, dia ibu dari anak-anak saya,” jawab Adit.



 ”Ya ampun, untung kamu tepat waktu,” kata perempuan tersebut.



Adit langsung menghubungi Eddy dan melaporkan mungkin dia agak lama karena Dinda sedang dimintai keterangan di kantor keamanan. Adit menceritakan sedikit kejadian buruk yang dialami Dinda.



“Ya sudah enggak apa-apa. Papa akan jaga anak-anak dan sudah pakai child safety walking, jadi anak-anak tidak akan hilang.” kata Eddy.



“Ini sebentar lagi kami ke situ kok,” jelas Adit.



“Maaf saya tidak bisa lama-lama, kami meninggalkan dua anak kembar kami dengan kakeknya,” Adit minta izin bahwa Dinda tidak mau lama-lama di situ dan keamanan mengerti soal itu lalu memberi izin Dinda untuk segera keluar.



Sepanjang perjalanan menuju tempat Eddy Dinda berjalan sambil memeluk Adit. Dia sangat ketakutan bila pelecehan itu terjadi.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.